Saturday, 1 October 2016

Korut Dikabarkan Tengah Membangun Kapal Selam Baru


Korea Utara (Korut) dikabarkan tengah membangun kapal selam generasi terbaru, kapal selam ini dikabarkan bisa memuat rudal balistik.

Menurut lembaga peneliti US-Korea Institute di Johns Hopkins University, kabar ini diperoleh setelah pada Agustus lalu Korut melakukan uji tembak sebuah rudal yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM). Uji tembak ini dilakukan sekitar 500 kilometer di dekat Jepang.

"Berdasarkan citra satelit komersial menunjukkan bahwa pembangunan angkatan laut berlangsung di galangan kapal Sinpo. Kemungkinan mereka tengah membangun kapal selam baru," sebut US-Korea Institute di Johns Hopkins University, seperti dikutip AFP, Sabtu (1/10/2016).

"Jika benar aktivitas ini merupakan pembuatan kapal selam, sepertinya akan lebih besar dari kapal selam kelas Gorae milik mereka sebelumnya yang memiliki tiang hingga tujuh meter," jelas pernyataan itu.

Pengamat mengatakan bahwa, meskipun Pyonyang membuat perkembangan pesat dalam sistem SLBM, tetap masih membutuhkan uji coba panjang yang bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Sistem SLBM yang teruji bisa membawa Korut lebih berkembang dalam penyerangan dengan senjata nuklir. Mereka bisa melakukan penyerangan bukan hanya di semananjung Korea tetapi juga melakukan serangan kedua yang memadai diluar semenanjung Korea.

Jet Tempur Prancis Dikirim Untuk Melakukan Operasi Militer Ke Markas Terakhir ISIS Di Irak


Setidaknya delapan jet tempur Prancis dikirimkan untuk menjalankan operasi di markas terakhir ISIS di Kota Mosul, Irak. Dilaporkan, pesawat-pesawat jet itu lepas landas dari kapal induk Charles de Gaulle pada 30 September.

Dilaporkan, hingga kini masih belum diketahui operasi militer apa yang akan dilakukan oleh pilot-pilot di jet tempur Rafale itu. Sebagaimana dikutip dari Associated Press (AP), Sabtu (1/10/2016) pejabat di Kementerian Pertahanan Prancis menekankan operasi itu bukan sebagai awal serangan ke Mosul.

AFP serta AP sempat menyaksikan ketika pesawat-pesawat itu lepas landas dari kapal induknya yang sedang berada di wilayah Mediterania timur. Fotografer AFP menyebut ia menghitung setidaknya ada delapan jet tempur yang lepas landas dari kapal induk Charles de Gaulle.

Media di Prancis RTL menyebut 24 pesawat tempur akan ikut pada operasi tersebut. RTL melaporkan, pesawat-pesawat itu masing-masing dilengkapi oleh bom dengan sensor laser yang memiliki bobot 250 kilogram.

Selain Prancis, pada pekan ini Amerika Serikat juga mengirimkan ratusan tentaranya ke Irak untuk membantu militer negara tersebut melancarkan operasi pembebasan Mosul. Mosul merupakan kota kedua terbesar di Irak yang diduduki oleh ISIS semenjak 2014 dan saat ini kota itu merupakan markas terakhir kelompok teroris tersebut di Irak.

Tu-214R Mampu Deteksi Musuh Yang Sembunyi Di Bawah Tanah


Tu-214R merupakan pesawat pengintai terbaru Rusia yang memiliki radar multifrekuensi dan optik-elektronik. Sistem radar yang disematkan pada pesawat ini diklaim mampu deteksi musuh yang bersembunyi di bawah tanah.

“Sistem radar pesawat pengintai baru Rusia Tupolev Tu-214R mampu melihat objek tersembunyi atau yang tersamarkan salju, pepohonan, bahkan yang berada di bawah tanah,” ungkap seorang perwakilan perusahaan United Instrument-Making Corporation (UIMC) anak perusahaan teknologi Rusia Rostec, seperti dikutip TASS.

Berdasarkan keterangan pihak UIMC, radar multifrekuensi tersebut dikembangkan oleh Vega Group. Radar ini berkemampuan untuk membantu menerima informasi secara maksimal dan tepat waktu, dengan detail gambar yang lebih berkualitas.

Di mana pun musuh bersembunyi, radar ini akan memunculkan data gambar objeknya meski tertutup oleh kabut, asap, salju, tanah, dan pepohonan. Walaupun berada di wilayah yang kondisi tanahnya kering berpasir, sistem ini mampu menerima radar gambar objek yang terletak pada kedalaman belasan meter terlepas dari ketinggian pesawat.

Tupolev Tu-214R merupakan pesawat pengintai Rusia yang dikembangkan pada akhir tahun 2000 berdasarkan pesawat penumpang Tu-214 untuk menggantikan pesawat Il-20.

Saat ini, pesawat tersebut tengah diproduksi oleh perusahaan Aviasi Kazan. Pesawat pengintai terbaru Rusia ini dikabarkan akan segera melewati uji penerbangan. Tu-214R pun akan menjalani uji coba negara yang rencananya akan dilakukan pada tahun ini.

Seharusnya, pesawat pengintai Tu-214R ini sudah masuk militer Rusia pada 2013. Namun, rencana tersebut tertunda dan kini pesawat masih dalam proses pengerjaan.

Yonif Mekanis 521 Dadaha Yodha Kediri Segera Diperkuat Panser Anoa


Pasukan Batalyon Infantri (Yonif) Mekanis 521 Dadaha Yodha yang bermarkas di Jl Ahmad Yani, Kota Kediri bakal dipersenjatai dengan kendaraan tempur panser Anoa buatan PT Pindad.


Persenjataan panser ini seiring dengan perubahan dari Batalyon Infantri menjadi Batalyon Infantri Mekanis. Yonif 521 Dadaha Yodha kini telah menjadi Yonif Mekanis Kodam V Brawijaya.
Komandan Batalyon Infantri (Danyonif) Mekanis 521 Dadaha Yodha, Mayor Inf Made Sandy Agusto menjelaskan, dengan perubahan menjadi Batalyon Infantri Mekanis ada perubahan struktur organisasi dan material perlengkapan.

Saat ini garasi untuk tempat penyimpanan kendaraan tempur Anoa selesai dibangun. Lokasi garasi ini berada di utara lapangan.
"Secara bertahap nanti segera tiba kendaraan tempurnya. Sekarang tengah disiapkan personel yang menjadi pengemudinya," jelas Mayor Inf Made Sandy Agusto, Jumat (30/9/2016).

Tahap pertama bakal tiba 6 unit kendaraan tempur Anoa. "Kami harus menyiapkan terlebih dahulu kesiapan pangkalannya. Karena kendaraan perlu rute untuk latihan dan pemanasan kendaraan tempur," jelasnya.
Untuk pengemudi kendaraan tempur ini akan dilakukan pelatihan khusus bekerja sama dengan batalyon mekanis yang lain.
"Dengan berubah menjadi batalyon mekanis nanti manuver pasukan bakal lebih maksimal. Penetrasi ke sasaran dan pengamanan maksimal. Termasuk pengamanan VIP," jelasnya.

Mayor Inf Made Sandy Agusto yang menggantikan pejabat lama Letkol Inf Slamet Winarto, bertekat akan menyiapkan personel Yonif Mekanis 521 menjadi prajurit yang berdisiplin dan menjadi kebanggaan masyarakat.

Abaikan Ancaman AS,, Rusia Kirim Jet Tempur Ke Suriah


Rusia akan mengirim lebih banyak jet tempur ke Suriah untuk meningkatkan kampanye udara di negara itu. Rusia mengabaikan ancaman Amerika Serikat (AS) yang menyatakan jet-jet tempur Rusia akan banyak ditembak jatuh oleh pasukan pemberontak.
Surat kabar Rusia, Izvestia melaporkan, bahwa sekelompok jet tempur Moskow jenis Su-24 dan Su-30 telah tiba di pangkalan Hmeymin, Suriah, seperti dikutip dari laman Reuters, Sabtu (1/10/2016).
“Jika perlu, akan dibentuk unit angkatan udara dalam waktu dua sampai tiga hari. Unit jet tempur Su-25 yang didesain untuk serangan ke darat juga telah dipilih untuk dikirim ke Hmeymim dan awaknya telah dalam kondisi siap sedia, menunggu perintah dari komandan mereka,” tulis media itu mengutip pernyataan seorang pejabat militer.
Saat dimintai tanggapan terkait laporan tersebut, Kementerian Pertahanan Rusia tidak memberikan komentar. Pihak Departemen Pertahanan dan perwakilan negara AS pun menolak mengomentari laporan dari Izvestia.
Negara-negara Barat menuduh Rusia telah melakukan kejahatan perang di Suriah. Rusia dituding menyerang warga sipil, rumah sakit dan pengiriman bantuan dalam beberapa hari terakhir untuk menghancurkan harapan 250 ribu orang yang terperangkap di Aleppo.
Namun, Moskow dan Damaskus membantah tudingan tersebut dan menyatakan bahwa serangan udara mereka menyasar kelompok militan ISIS serta Front al-Nusra, kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaeda.

Indonesia-Iran Berpotensi Kembangkan Industri Pesawat Terbang


Republik Indonesia dan Republik Islam Iran berpotensi mengembangkan kerja sama di bidang industri pesawat terbang sipil karena Iran saat ini mempunyai kebutuhan besar untuk memperbaharui armada penerbangan sipilnya.
Informasi dari Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri RI di Jakarta, Jumat menyebutkan, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dapat menjajaki kerjasama dengan perusahaan penerbangan Iran, Iran Aircraft Manufacturing Industrial Company (HESA).
Pernyataan tersebut merupakan salah satu poin penting pembahasan bidang ekonomi dalam kunjungan delegasi Pemerintah Iran ke PTDI di Bandung pada 28 September 2016.
Kunjungan delegasi Iran itu merupakan rangkaian dari kegiatan “Policy Research Consultation” (PRC) ke-5 Indonesia-Iran, yakni antara BPPK Kemenlu RI dengan Institute for Political and International Studies (IPIS) Kemenlu Iran yang dilaksanakan di Museum Asia Afrika Bandung.
Delegasi Iran dalam kunjungan itu antara lain Dubes Iran untuk RI, Valiollah Mohammadi dan Wakil Presiden IPIS Dr Sayed Rasoul Mousavi. IPIS itu sendiri merupakan “Think Tank” Kementerian Luar Negeri Iran.
Sementara itu PRC merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan BPPK dan IPIS untuk bertukar pikiran dan informasi mengenai posisi dan arah kebijakan politik luar negeri masing-masing negara terkait isu-isu strategis bilateral, regional, maupun internasional.
Menurut BPPK Kemenlu RI, pasca implementasi “Joint Comprehensive Plan of Action” (JCPOA) pada 16 Januari 2016 yang diikuti pengangkatan sanksi ekonomi internasional terhadap Iran, negara itu membutuhkan banyak pesawat penerbangan sipilnya.
Pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran secara bertahap dalam kerangka JCPOA itu juga memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk mengembangkan kerja sama lebih erat dengan Iran, negara kaya sumber daya energi dengan populasi 80 juta jiwa.
Pembelian pesawat terbang besar-besaran oleh Iran ramai diberitakan media massa internasional. Iran dikabarkan melakukan kontrak pembelian 100 unit pesawat dari Boeing senilai USD 17 miliar pada September 2016, dan 118 unit pesawat dari Airbus senilai USD 25 miliar pada Januari 2016.
Kementerian Keuangan Amerika Serikat mengijinkan transaksi pembelian tersebut secara bertahap. Selain itu, Iran juga sedang menjajaki pembelian pesawat terbang dari perusahaan Embraer Brasil.
Menurut Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana, PTDI yang telah mempunyai reputasi internasional juga mempunyai peluang emas untuk menjual produknya kepada Iran.
Pesawat baling-baling produksi PTDI sangat sesuai untuk digunakan dalam penerbangan domestik jarak dekat di Iran, sebagaimana digunakan dalam rute antar pulau di Indonesia.
Sejauh ini PTDI telah mengekspor produknya ke berbagai negara, di antaranya Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Filipina, Korea Selatan, Pakistan, Turki, Uni Emirat Arab, Burkina Faso, Senegal, dan Venezuela.

6 Negara dengan Anggaran Militer Terbesar di Dunia

Salah satu faktor yang berpengaruh dalam menjaga keamanan dan stabilitas sebuah negara adalah kekuatan militer. Negara yang memiliki kekuatan militer yang baik akan mampu menahan serangan yang dapat mengancam ketahanan wilayahnya.

Tak heran apabila pemerintah suatu negara rela menggelontorkan dana begitu besar untuk memperkuat kekuatan militernya. Melansir laman lovemoney.com, Jumat (30/9/2016), berikut enam negara dengan anggaran militer terbesar.

6. India


Anggaran militer: US$ 49,7 miliar atau Rp 645 triliun.
India merupakan negara pengimpor senjata paling besar. Negara ini juga tidak tanggung-tanggung untuk mengeluarkan anggaran demi memperkuat militernya.
Pemerintah India baru saja meningkatkan 13,1 persen anggaran militernya. Dengan nilai yang begitu besar, diperkirakan negara ini mampu melampaui pengeluaran militer Prancis dan Rusia pada 2017.

5. Prancis


Anggaran militer: US$ 52,7 miliar atau Rp 684,4 triliun.
Peringkat kelima ditempati oleh Prancis. Pemerintah negara ini baru saja mengumumkan peningkatan anggaran militernya untuk 2017. Hal ini dilakukan untuk menghalau ancaman terorisme yang sewaktu-waktu bisa menyerang.

4. Rusia


Anggaran militer: US$ 53,2 miliar atau Rp 690,9 triliun.
Anggaran militer Rusia selalu meningkat dari 1998 hingga 2015. Namun, harga minyak yang sempat jatuh membuat negara ini cukup kesulitan hingga harus mengurangi 5,3 persen anggaran militernya.

3. Inggris


Anggaran militer: US$ 66,5 miliar atau Rp 863,6 triliun.
Negara anggota NATO ini diprediksi akan meningkatkan 0,5 persen hingga tahun 2021. Anggaran tersebut dihabiskan untuk membeli kapal perang, pengawasan udara, hingga alat canggih untuk pasukan darat. Pemerintah Inggris juga berencana untuk memperkuat armada angkatan lautnya dengan merekrut 700 personel tambahan.

2. Tiongkok



Anggaran militer: US$ 190,9 miliar atau Rp 2.479,2 triliun.
Selama lima tahun terakhir, pengeluaran pemerintah Tiongkok di bidang pertahanan telah meningkat 43 persen. Walau perekonomian negara ini sedang turun, anggaran militer diprediksi akan terus meningkat hingga US$ 225 miliar pada 2020.

1. Amerika Serikat


Anggaran militer: US$ 569,3 miliar Rp 7.393,5 triliun.
Peringkat pertama ditempati oleh negara adidaya Amerika Serikat. Negeri Paman Sam ini menghabiskan anggaran militer lebih banyak dibandingkan negara-negara lain di dunia.

Walau begitu, peningkatan anggaran militer Amerika Serikat diprediksi tidak akan meningkat signifikan hingga 2020. Anggaran militer Amerika Serikat menempati porsi 3 persen dari total PDB negara tersebut.