Saturday, 15 October 2016

Harapan Cerah Menuju Anggaran Berbasis PDB


Barusan kita sudah menyaksikan unjuk kekuatan jet-jet tempur kita di Natuna. Bulan Oktober ini dan dua bulan ke depan kita masih akan terus menyaksikan latihan militer dua matra lainnya yaitu TNI AL dan TNI AD di pulau terdepan Laut China Selatan. Namun dalam pergerakan alutsista itu dan setiap ada raungan ataupun dentuman amunisi pastilah anggaran yang jumlahnya milyaran rupiah akan melayang bersama raungan dan dentuman itu.

Ini bukanlah perbuatan atau perilaku yang sia-sia belaka karena justru hal ini adalah yang di sebut sebagai adrenalin berbangsa dan bernegara. Bangsa dan negara manapun di dunia ini pasti akan melakukan uji adrenalin dan uji kemarahan karena di setiap dentuman yang menghabiskan uang milyaran itu ada suasana kebanggaan terhadap sebuah eksistensi bernegara. Militer itu adalah adrenalin negara, jadi raungan dan dentuman itu adalah keniscayaan yang mempertontonkan ketangguhan, kehebatan dan keperkasaan.

Bagaimana agar kehebatan dan ketangguhan itu bisa diperlihatkan dengan lebih spektakuler lagi, tentu dengan kucuran anggaran pertahanan yang lebih besar. Persoalan pertahanan, persoalan kewibawaan teritori tidak bisa dikaitkan dengan kondisi ekonomi dalam hubungan sebab akibat. Pertahanan teritori adalah harga diri dan harga mati yang harus terus diupayakan mendapatkan prioritas anggaran tuntutan jaman.

Meski kita sudah dan sedang dalam proses modernisasi militer, kebutuhan untuk mengawal dan mewibawakan teritori dari ancaman yang sudah di depan mata perlu kecepatan dan percepatan. Pemenuhan cepat terhadap tambahan 2 skuadron jet tempur dan belasan kapal perang striking force bukanlah keinginan tetapi kebutuhan. Sebagaimana beberapa tulisan kita terdahulu bahwa Kupang perlu penempatan minimal 4 jet tempur bersama Natuna dan Tarakan.

Ada kabar baik soal penambahan anggaran pertahanan. Menteri Keuangan dan Menteri Pertahanan bersama Komisi I DPR bersepakat mencarikan cara untuk penambahan anggaran pertahanan tahun 2017. Presiden Jokowi sudah berkomitmen bahwa anggaran pertahanan diupayakan sebesar 1,5 % dari PDB kita. Itu artinya anggaran pertahanan kita bisa mencapai 250 trilyun pertahun.

Tentu tahun depan tidak perlu mimpi terlalu jauh. Mencapai angka di kisaran 120-125 trilyun rupiah saja patut disyukuri karena itu berarti sudah ada peningkatan yang cukup menggembirakan. Yang lebih menggembirakan tentu adanya kesepakatan tiga saudara sebangsa itu (DPR, Menkeu,Menhan) untuk lebih memprioritaskan penyediaan anggaran pertahanan republik sebagai tulang punggung eksistensi ber NKRI.

Menkeu hari-hari belakangan ini terlihat lebih sumringah terutama adanya pencapaian yang menggembirakan soal Tax Amnesty. Ruang fiskal mulai terasa sejuk bersama tobatnya anak bangsa untuk memarkir dananya di tanah air sendiri. IHSG dan rupiah menunjukkan trend menggembirakan dan situasi ini akan sangat membantu membangun persepsi APBN tahun depan.

Tahun depan diprediksi akan ada penambahan alutsista baru seperti jet tempur, kapal perang, kapal selam, radar, tank, artileri, peluru kendali jarak sedang, UAV, tank amfibi. Disamping itu ada program instalasi radar dan rudal jet T50i Golden Eagle, pembangunan pangkalan militer besar di Natuna, alokasi penempatan 1 flight jet tempur di Kupang, Natuna, Tarakan. Semua program itu bersama dengan latihan gabungan TNI memerlukan anggaran besar.

Kita optimis dengan program MEF (Minimum Essential Force)yang sedang memasuki tahap II ini. Ada konsistensi meneruskan program MEF dari pemerintahan sebelumnya disamping karena memang banyak kewajiban pembayaran alutsista pesanan rezim sebelumnya yang harus dilunasi pemerintahan eksiting. Pesanan alutsista baru untuk pemerintahan sekarang baru akan terlihat tahun 2017 dan seterusnya bersamaan berkurangnya pembayaran multy-years pengadaan alutsista sebelumnya.

Pembangunan kekuatan militer dengan situasi dan kondisi lingkungan yang mudah demam merupakan kewajiban mutlak. Apalagi jika melihat sejarah ambisi klaim dan haus teritori negara pemilik nine dash line yang keras kepala dan susah diajak senyum. Kita perkuat militer kita untuk memastikan rasa aman rakyat kita di perbatasan. Kita perkuat alutsista kita untuk memastikan teritori kita tidak dilecehkan negara lain.

Jaminan perkuatan itu ada di anggarannya. Jadi kita menyambut gembira adanya kekompakan eksekutif dan legislatif untuk menyediakan anggaran pertahanan yang lebih besar di tahun-tahun mendatang. Tetapi harus juga diingat kalimat terang benderang Presiden Jokowi baru-baru ini untuk perkuatan alutsista : beli sesuai kebutuhan bukan keinginan. Untuk yang terakhir ini, ujiannya ada di jajaran Kementerian Pertahanan bersama para Jenderal TNI. Kita lihat saja dan semoga amanah, istiqomah dan fathonah.

Senegal Jajaki Beli Pesawat PT Dirgantara


Ketua Kamar Dagang dan Industri Senegal Serigne Mboup yang juga pengusaha assembling mobil ingin membeli pesawat dari PT Dirgantara Indonesia guna mempermudah mobilisasi perusahaannya di negara tersebut.

Keinginan itu disampaikan saat bertemu dengan Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani, di TEI 2016, Jiexpo, Kemayoran, demikian Kepala Fungsi Pensosbud KBRI Dakar-Senegal, Dimas Prihadi Sabtu, 15 Oktober.

Pertemuan dihadiri Dubes RI untuk Senegal, Mansyur Pangeran, dan Ketua Komite Tetap Afrika Kadin Indonesia, Mintardjo Halim, serta Direktur Eksekutif Kadin Indonesia, Dubes Jamtomo Rahardjo, dan Dubes Andradjati, mantan Dubes RI untuk Senegal.

Ketua Kadin Senegal hadir di TEI 2016 dalam rangka mengembangkan usahanya dengan perusahaan "Wings" dengan mengimpor produk sabun "So Klin" ke Senegal yang telah berlangsung selama lebih dari 15 tahun, dan menjajaki peluang usaha baru di berbagai bidang, antara lain, kelapa sawit, serta membeli pesawat dari PT. Dirgantara Indonesia.

Rosan menyatakan keinginan untuk memperkuat dan menjajaki berbagai peluang kerja sama di berbagai bidang dengan Kadin Senegal. Ia menyambut baik minat Kadin Senegal untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama dan akan memfasilitasi agar semuanya berjalan dengan baik. Latar belakang agama, yakni kedua negara memiliki penduduk muslim di atas 90 persen, merupakan potensi dan peluang untuk menjalin kerja sama lebih erat di berbagai bidang.

Dalam kaitan ini, Ketua Kadin Senegal mengusulkan untuk dilakukannya kerja sama dengan Kadin Indonesia dalam rangka mempromosikan produk negeri ini dengan melaksanakan ekshbisi pameran dagang produk unggulan Indonesia di Senegal. Kadin Senegal akan memfasilitasi kegiatan tersebut dengan mengundang berbagai negara tetangga di kawasan Afrika Barat untuk hadir pada kegiatan tersebut.

Sementara itu Dubes RI untuk Senegal, Mansyur Pangeran, menyampaikan Senegal merupakan salah satu negara teraman dan windows of democracy di Afrika Barat. Selain Senegal, Dubes Mansyur Pangeran juga mewakili tujuh negara lainnya di wilayah Afrika Barat (Mali, Cabo Verde, Gambia, Guinea, Guinea-Bissau, Sierra Leone dan Pantai Gading) yang memiliki pasar potensial sebanyak 60 juta penduduk. Untuk itu ia berharap adanya aksi dan implementasi dari berbagai kesepakatan bisnis yang dijalin Indonesia dengan negara-negara tersebut.

Dubes Mansyur akan terus mendukung berbagai upaya dalam rangka meningkatkan nilai perdagangan Indonesia dengan negara-negara di Afrika Barat tersebut. Dalam kunjungannya di Indonesia, Ketua Kadin Senegal juga melakukan pertemuan dengan perwakilan dari PT. DI, yaitu Krisnan, Manajer Produk dan Jasa, Direktorat Niaga dan Benny Putranto, Direktorat Perdagangan.

Pertemuan tersebut membahas mengenai minat Ketua Kadin terhadap pesawat N 219 untuk transportasi udara jarak pendek. Manajer Produk dan Jasa, Krisnan, menyampaikan profil singkat dan keunggulan pesawat N 219, antara lain, berkapasitas 19 penumpang, dapat lepas landas dan mendarat di landasan 500 meter serta harga bersaing senilai USD 6 juta per unit.

Namun, pesawat tersebut masih dalam tahap penyempurnaan dan akan dipasarkan pada 2018. Terkait hal tersebut, Ketua Kadin menginginkan agar dapat dikirim brosur dan detail lengkap pesawat tersebut sebagai bahan pertimbangan untuk membeli apabila telah dipasarkan.

India Dan Rusia Sepakati Penjualan S-400


Rusia dan India menandatangani kesepakatan pengiriman sistem pertahanan udara S-400 dan peralatan lainnya ke India. Kesepakatan ini ditandatangni Presiden Rusia Vladimir Putin dan Perdana Menteri India Narendra Modi di sela-sela KTT BRICS di Goa, Sabtu 15 Oktober 2016. Tidak disebutkan berapa unit S-400 yang akan dibeli dan kapan pengiriman akan dilakukan.

Kesepakatan antar pemerintah pada pembangunan frigat Proyek 11.356 di Rusia dan di India dan perjanjian antar pemerintah tentang kerja sama dalam memastikan keamanan di bidang teknologi informasi juga ditandatangani dalam pertemuan itu.

Selain itu, sebagaimana dilaporkan Sputnik Sabtu, kedua negara menandatangani perjanjian produksi bersama helikopter Ka-226T.

India menjadi negara kedua yang telah dipastikan membeli S-400. China menjadi negara pertama yang mengakuisi enam sistem rudal pertahanan udara canggih ini pada 2015 lalu. Paling cepat China akan menerima sistem pertama pada 2018.

China dan India adalah dua negara yang memiliki hubungan tidak nyaman karena masalah perbatasan. Selain itu China juga menjadi sekutu Pakistan, yang juga memiliki hubungan panas dengan New Delhi.

Penjualan S-400 ke India ini menunjukkan Rusia mampu berdiri di banyak tempat bahkan menjual senjata ke dua negara yang bermusuhan.

Rusia Beri Sinyal Resmikan Jet Bomber Siluman Baru PAK-DA Pada 2018


Rusia memberi sinyal akan meresmikan pesawat jet pengebom (bomber) siluman generasi baru yang dikenal sebagai PAK-DA pada 2018. Pesawat jet bomberstrategis itu nantinya akan menggantikan pesawat Tu-160, Tu-95MS, dan Tu-22M3.
”Ada kemungkinan besar bahwa kita akan melihatnya pada 2018,” kata Wakil Menteri Pertahanan Rusia, Yury Borisov, kepada wartawan selama kunjungan ke fasilitas industri pertahanan di Nizhny Novgorod, pada hari Kamis.
PAK-DA merupakan singkatan dari Prospective Aviation Complex for Long-range Aviation. Militer Rusia mengklaim pesawat jet pengebom PAK-DA akan jauh melampui pesawat-pesawat pengebom strategis yang ada saat ini.
Proyek PAK-DA dimulai pada tahun 2009 oleh Departemen Pertahanan dan produsen pesawat Tupolev. Pejabat militer Rusia, Letnan Jenderal Anatoly Zhiharev, membocorkan sedikit keistimewaan dari pesawatbomber PAK-DA.
”Ini adalah pesawat baru yang secara fundamental dengan penampakan dan sistem navigasi baru. Pesawat ini akan dilengkapi dengan sistem komunikasi dan sistem peperangan elektronik baru, dan akan memiliki sedikit visibilitas ke radar,” ujar Zhiharev, seperti dikutip Russia Today, Jumat (14/10/2016).
Pesawat ini diharapkan dapat melakukan penerbangan hingga 6.740 mil laut dan membawa sekitar 30-40 ton senjata termasuk rudal udara dan bom konvensional.
Meski pesawat PAK-DA berpotensi menggantikan pesawat-pesawat pengebom strategis Rusia yang ada saat ini, namun Kementerian Pertahanan Rusia tetap mempertahankan pesawat Tu-160 supersonik versi upgradeuntuk tetap beroperasi.
”Untuk saat ini, jumlah tetap sama, tetapi dapat disesuaikan sebagaimana kita terus bekerja pada lanjutan (proyek) pesawat (PAK DA). Angka dasar saat ini untuk Tu-160 adalah 50 pesawat,” ujar Borisov.

Tuesday, 11 October 2016

Delegasi Negara-negara Afrika Sub-Sahara Tertarik Dengan Produk Pindad


Delegasi negara-negara Afrika Sub-Sahara melaksanakan kunjungan ke PT Pindad (Persero) dalam rangka peningkatan hubungan kerjasama IPTEK antara Indonesia dan negara-negara Afrika Sub-Sahara. Delegasi didampingi
oleh pejabat dari Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan maksud kunjungan untuk menjajaki kemungkinan kerjasama dengan melihat secara langsung kemajuan industri dan teknologi di Indonesia.


Kepala Divisi Pemasaran Ekspor, Ridi Djayakusuma dan Kepala Divisi Hubungan Kelembagaan, Biben Akbar menerima delegasi di Gedung Direktorat Pindad Bandung. Ridi mengatakan produk PT Pindad (Persero) terbukti kualitasnya dan mampu bersaing dengan buatan negara lain. "Produk kami, Anoa telah beroperasi dalam misi perdamaian di kawasan Afrika. Senjata kami juga terbukti kualitasnya dengan memenangi berbagai lomba tembak internasional seperti AASAM (Australian Army Skill at Arms Meeting), AARM (ASEAN Armies Rifle Meet) dan BISAM (Brunei International Skill Arms Meet)," tutur Ridi.

Setelah pemutaran Video profile, rombongan kemudian mengunjungi fasilitas produksi Divisi Kendaraan Khusus dan Divisi Senjata. Delegasi mencoba secara langsung berbagai senjata di Lapangan Tembak Divisi Senjata. Selain produk militer, delegasi Negara-negara Afrika Sub-Sahara Juga tertarik dengan produk non militer yang mampu dibuat Pindad seperti Excavator dan berbagai produk lainnya.

Saturday, 1 October 2016

Singapura Tunjukan Sikap Mendukung Filipina,, China Sebut Singapura Bermain Dengan Api


Seorang jendral militer China mengecam Singapura atas dukungannya kepada Filipina terkait sengketa di Laut China Selatan (LCS). Ia pun mengatakan Beijing harus menjatuhkan sanksi kepada Singapura sebagai bentuk ketidakpuasannya.

Mayjen Jin Yinan mengatakan Singapura telah membangun ketegangan di Asia Tenggara yang merusak kepentingan nasional China. Menurut Jin, dengan mengayuh isu sengketa teritorial, Singapura sengaja memicu kebuntuan antara China dan Amerika Serikat di wilayah tersebut.

"Kami memahami bahwa Singapura harus bertahan hidup di antara negara-negara besar. Tapi sekarang Singapura tidak mencari keseimbangan antara negara-negara besar itu tetapi bermain untuk membuat negara-negara besar berlawanan satu sama lain. Ini sama saja dengan bermain api," kata Jin seperti dikutip dari Sputniknews, Minggu (2/10/2016).

Jin melanjutkan, Singapura telah mendorong isu Laut Cina Selatan untuk waktu yang cukup lama. Tahun lalu, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong menghabiskan satu jam di KTT Keamanan Asia untuk menyampaikan pidato menekankan masalah. "Ada begitu banyak topik tentang keamanan Asia, termasuk pengembangan yang tidak seimbang, polusi, lingkungan, iklim, terorisme, masalah ras. Tapi semua masalah itu diabaikan dan fokus hanya pada sengketa Laut Cina Selatan China," kata Jin.

Jin lantas menekankan bahwa langkah terbaru Singapura mengenai isu-isu sengketa harus disikapi serius oleh Beijing dan Singapura harus "membayar harga" yang serius karena merusak kepentingan China.

"Sejak Singapura pergi sejauh ini, kita harus melakukan sesuatu, baik itu pembalasan atau sanksi. Kita harus mengungkapkan ketidakpuasan kami. Itu tak terelakkan bagi China untuk menyerang kembali di Singapura, dan bukan hanya di depan opini publik," tukasnya.

Pernyataan ini datang setelah utusan Singapura murka karena Venezuela, tuan rumah Gerakan Non Blok (GNB), menolak memasukkan isu Laut China Selatan seperti dilaporan media China Global Times. Namun, laporan itu dibantah Duta Besar Singapura Stanley Loh.

Lindungi Perairan Laut,, AU Filipina Prioritaskan Pembelian Jet Tempur Ringan FA-50


Angkatan Udara Filipina (PAF) telah mengumumkan beberapa bidang prioritas dalam pengadaan proyek peremajaan alutsista jangka menengahnya. Hal ini disampaikan oleh seorang perwira tinggi PAF dalam pameran Asian Defence and Security 2016 (ADAS 2016) di Manila.

Dalam program peremajaan yang diberi nama Flight Plan 2028 tersebut, tertuang bahwa prioritas utama PAF adalah membeli tambahan jet tempur kelas ringan dan helikopter serang.

PAF pernah memesan 12 unit jet tempur ringan FA-50 pada Maret 2014 silam, yang sudah mulai diserahkan pada Desember 2015 dan akan selesai pada akhir tahun 2017. Perwira tersebut mengatakan PAF berencana untuk mengadakan pemesanan tambahan 36 unit varian FA-50 untuk memenuhi ketentuan dalam rencana Flight Plan 2028. Ketentuan yang dimaksud adalah untuk “mendeteksi, mencegat, dan menetralisir” setiap ancaman yang terlihat di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina.

Ia juga mengkonfirmasi bahwa PAF sedang berunding dengan pemerintah Filipina untuk menyetujui pembelian tambahan unit FA-50 buatan Korean Airspace Industries (KAI) tersebut, jika keduabelas unit yang sudah dipesan telah diterima seluruhnya.

Sebagai tamabahan, PAF juga akan membeli 12 unit tambahan helikopter serang AW109 Power kelas ringan yang diproduksi oleh Leonardo Finmeccanica. Sebelumnya AU Filipina pernah mengakuisisi delapan unit AW109 yang dipesan pada November 2013 dan diterima pada 2014.

Ia menyebut Presiden Duterte telah menugaskan PAF untuk fokus mengatasi isu terorisme dan pemberontakan. Karenanya, pemerintah Filipina langsung bergerak untuk menempatkan rencana akuisisi helikopter AW109 dalam anggaran pengadaan di tahun 2018-2023 mendatang.

Menurut perwira PAF tersebut, alutsista yang masuk dalam prioritas pengadaan AU Filipina adalah pesawat tipe Close Air-Support (CAS) dan pesawat angkut, serta jet tempur lintasfungsi di masa mendatang.