Thursday, 27 October 2016

Amerika Dan Indonesia Bakal Manuver Bareng Di Manado


Atase pers Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS), John Johnson, mengatakan Indonesia dan Amerika Serikat akan menggelar latihan militer bersama. Manuver bareng itu, rencananya digelar di Manado, Sulawesi Utara.


Berbicara kepada wartawan di Pusat Kebudayaan AS di Jakarta, Johnson mengatakan bahwa latihan militer gabungan akan dimulai pada 1 November 2016 mendatang. Pesawat jet tempur yang paling banyak dikerahkan dalam manuver itu nantinya adalah pesawat jet tempur F-16.
Namun, Johnson mengaku belum tahu jumlah total pesawat F-16 yang akan dikerahkan dalam latihan militer AS dan Indonesia.

"Akan ada latihan perang pada pekan depan di Manado, latihan gabungan pertama Angkatan Udara kedua negara, Indonesia dan AS akan sama-sama menerbangkan F-16," kata Johnson pada Kamis (27/10/2016).
"Saya tidak punya angkanya, tapi Indonesia punya 26 F-16, tapi saya tidak tahu berapa banyak yang akan terlibat, yang pasti AS akan membawa F-16 dan F-18 dalam latihan itu," ujarnya.

TNI Kerahkan Raider Dan Kapal Pengintai Di Natuna


Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengakui adanya penambahan personel dan persenjataan di Perairan Natuna, Kepulaian Riau.
Kendati demikian, Ryamizard menegaskan penempatan militer itu tidak terkait konflik Laut China Selatan. Namun, semata-semata untuk menjaga keamanan perbatasan.
Ryamizard menganggap perairan Natuna layaknya pintu depan rumah Indonesia yang harus dijaga jika sewaktu-waktu ada orang masuk.
"Apalagi ada konflik ini walaupun kita tidak terlibat tapi tetap harus ada yang jaga," ujar Ryamizard di Kantor Staf Presiden, Jakarta, Kamis (27/10/2016).
Paling sederhana, kata Ryamizard, penambahan alat pertahanan di Natuna untuk mengantisipasi tindakan pencurian ikan yang dilakukan negara lain.

Menurut dia, jika dahulu pencurian ikan bisa dilakukan kapan pun, sekarang pencurian ikan bisa diminimalisasi karena pengamanan di perairan tersebut.
Ryamizard mengaku pihaknya telah menempatkan patroli marinir satu kompi yang dibekali alat pengintai berupa drone.
"Kapal juga ada kapal freeget, belum lagi kapal-kapal Sea Rider untuk kejar kejaran marinir satu kompi, lalu satu batalyon raider (pasukan elite) di sana," katanya.

Pengembang Jet-Jet Tempur AS Dipastikan Ramaikan Indo Defence 2016


Pemerintah Amerika Serikat (AS) memastikan 14 hingga 15 perusahaan dan kontraktor pengembang jet-jet tempur AS dipastikan akan meramaikan pagelaran Indo Defence 2016. Mereka akan pamerkan produk-produk tempur terbaiknya di Indonesia pada 2 hingga 5 November mendatang.

"Akan ada 14 hingga 15 perusahaan dan kontraktor Amerika yang terlibat di sana, seperti Lockheed Martin. Mereka yang
mengembangkan F-16, Boeing akan ada disana, dan beberapa kontraktor pemerintah lainnya," kata atase pers Kedutaan Besar AS, John Johnson, pada Kamis (27/10/2016).
Meski demikian, menurut Johnson, tidak akan ada kapal perang AS yang akan merapat ke Indonesia untuk ambil bagian dalam Indo Defence 2016.

Indo Defence merupakan acara pameran tahunan yang diselenggarakan Pemerintah Indonesia. Pameran ini biasanya digunakan oleh para pesertanya untuk mempromosikan produk-produk terbaiknya.
Selain AS, negara lain yang diketahui akan meramaikan pameran ini adalah Rusia. Namun belum diketahui akan ada berapa perusahaan atau kontraktor militer Rusia yang akan ambil bagian dalam pameran ini.

Apakah Tawaran Pruduksi Lokal Gripen Akan Jadi "Skak-Mat" Untuk Pembelian SU-35??


Dalam pameran pertahanan Indo-Defence di Jakarta minggu depan, akan terjadi kompetisi antara 3 kandidat pesawat tempur yang akan dibeli oleh TNI Angkatan Udara sebagai pengganti armada jet F-5E yaitu Su-35, Saab Gripen dan Eurofighter Typhoon.

Dari perkembangan yang ada, secara umum Su-35 buatan Rusia adalah pesawat yang dijagokan dan menjadi favorit sebagai pengganti F-5E.
Pada pertengahan tahun ini sebenarnya pemerintah Indonesia sudah sampai pada tahap finalisasi pembelian Su-35 namun terkendala ketentuan Transfer of Technology/Alih Teknologi untuk konten lokal hingga Indonesia mengundang 2 kandidat lain (Gripen dan Eurofighter Typhoon) untuk memberikan penawaran.

Hal ini disebabkan kebijakan pemerintahan Indonesia yang mewajibkan pembelian alutsista harus disertai paket TOT/Alih Teknologi dan produksi bersama.
Sumber dari pihak Rusia saat acara Singapore Air Show menyebutkan bahwa jumlah pesawat Su-35 yang kemungkinan dibeli Indonesia yaitu sejumlah 8-12 unit terlalu kecil untuk diberikan paket alih teknologi atau joint production.

Sementara itu pihak Saab tengah menyiapkan program khusus dalam Indo Defence mendatang antara lain dengan menampilkan simulator jet tempur Gripen. Direktur kampanye Saab, Magnus Hagman mengkonfirmasi kehadiran simulator Gripen dalam stand pameran Saab di acara Indo Defence 2016.
Kepada The Jakarta Post, Magnus mengklaim bahwa biaya operasional Gripen berada di angka 4700 USD per jam yang artinya 10 kali lebih murah dari biaya operasional Su-35.
Saab juga telah menawarkan produksi lokal Gripen dan pelatihan untuk perusahaan penerbangan lokal (PTDI) dalam hal proses integrasi Gripen. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan kompetensi perusahaan dirgantara lokal yang akan mendukung program IFX yang sedang berjalan.

Saat ini Indonesia sedang mengembangkan jet tempur lewat program alih teknologi denga Korea Selatan namun masih memiliki kekurangan dalam hal kompetensi untuk menjalankannya di dalam negeri. Untuk hal ini Saab siap membantu.

Sekalipun bermesin tunggal dan memiliki ukuran terkecil diantara ketiga kandidat, pesawat tempur Gripen sudah terintegrasi dengan rudal udara ke darat jenis RBS-15 dan sedang dalam pengembangan untuk menggunakan radar AESA yang akan memberikannya kemampuan tempur setara dengan 2 pesaingnya yang bermesin ganda.

Menurut pernyataan dubes Indonesia untuk Rusia, Mohamad Wahid Supriyadi sebagaimana dikutip media Rusia di bulan Juni menyebutkan bahwa Indonesia berencana untuk membeli 8 unit pesawat Su-35 dari Rusia dan sedang membicarakan alih teknologi apa yang diharapkan dari Rusia.
Hal utama yang jadi bahan negosiasi yaitu mengenai pembelian disebutkan sudah tuntas dan sekarang sedang dalam tahap final yaitu pembahasan mengenai paket Transfer of Technology/Alih Teknologi dari Rusia ke Indonesia.
Akan tetapi sepertinya topik alih teknologi yang belum tuntas dengan Rusia ini yang membuat para pesaing Su-35 menawarkan paket mereka lebih dulu sebelum pihak Kementerian Pertahanan Rusia.

Menhan Mengatakan Malaysia Minat Beli Kapal Tempur di Indonesia


Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memastikan dialakukannya kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan sejumlah negara, saat penyelenggaraan Indo Defence Expo & Forum 2016 pada November mendatang.


Adapun kerjasama itu terkait pengadaan dan pembeliat alat utama sistem persenjataan (alutsista) militer.
"Iya. Jadi kita sebetulnya kerjasama. Sekarang Filipina sudah beli gerdatnya semua. Nanti ada empat kapal kita pegang. Sewaktu saya di Hawaii kemarin, Menhan Malaysia seharusnya dia mau beli kapal tempur di Perancis. Lalu kita ngomong-ngomong, akhirnya beli di Indonesia saja," jelas Menhan di area Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (27/10/2016).

Ia menambahkan, dalam acara tersebut juga akan dilakukan kerjasama lainnya bersama sejumlah negara, termasuk Malaysia untuk pengadaan alutsista tersebut.
"Nanti akan banyak lagi karena mereka sudah tahu barang kita itu bagus. Kemudian masalah kapal, saya rasa kita yang paling cepat membuat. Karena dari 200 galangan kapal itu, kita sudah ada 20 yang kami rekruit menjadi Badan Usaha Milik Swasta. Jadi, kalau satu tahun kita bisa membuat 20. Cepat lah ini" tandasnya.

Wednesday, 26 October 2016

Dilihat Dari Desain Awalnya,, Ternyata Admiral Kusnetzov Bukanlah Kapal Induk. Alasannya Apa ya..??


Kapal Induk Rusia Admiral Kusnetzov yang baru-baru ini menghebohkan armada laut NATO merupakan satu-satunya kapal di kelasnya. Walaupun memiliki dek untuk lepas landas dan mendarat pesawat tempur dan helikopter, sejatinya Admiral Kusnetzov bukanlah kapal induk. Kok bisa ya..??

Admiral Kusnetzov yang lengkapnya bernama Admiral Flota Sovetskogo Syuza Kusnetzov dibuat di Galangan Kapal Mykolaiv, Ukraina, yang menjadi satu-satunya galangan pembuat kapal induk pada era Uni Soviet. Desainnya sendiri disebut sebagai kapal penjelajah kelas berat yang membawa pesawat terbang (TAVKR – Tyazholly Avianesushchiy Kreyser). Oww... itu to alasannya.

Kapal dengan bobot 55.000 ton dan ditenagai mesin CODAD ini diluncurkan pada 1985, Kapal ini sempat dinamai Riga, lalu Leonid Brezhnev, sempat menjadi Tbilisi, lalu akhirnya Kusnetzov. Sebagai kapal pembawa pesawat, Admiral Kusnetzov didesain dengan tiga posisi peluncuran untuk pesawat tempurnya, dengan metode peluncuran ski-jump. Metode peluncuran ini mengharuskan pesawat untuk memasang afterburner dan tenaga penuh, menanjak saat melewati ujung dek yang melandai ke atas, dan lepas landas dengan tenaganya sendiri. Dibandingkan dengan sistem ketapel energi tinggi pada kapal induk AS, teknologi Rusia ini tentu saja terlihat tertinggal.

Hal ini tentu saja menuntut kapabilitas pesawat tempur yang prima, dengan stall speed yang rendah. Yang bisa memenuhi prasyarat ini hanya pesawat tempur dengan tenaga besar seperti Su-33 (varian maritim Su-27) atau MiG-27K. Itupun dengan catatan bahwa pesawat tempur harus dibuat seringan mungkin. Bahan bakar tidak diisi penuh dan muatan senjata dibatasi pada sejumlah rudal anti pesawat atau bom ringan. Admiral Kusnetzov sendiri bisa membawa 40-50 pesawat tempur dan helikopter.

Dalam kapasitasnya sebagai kapal penjelajah, Admiral Kusnetzov dilengkapi dengan sejumlah sistem persenjataan ofensif, yang tidak dimiliki pada desain kapal induk Barat. Kemampuan serangnya terdiri dari 12 rudal P-700 Granit (NATO: SS-19 Shipwreck) dengan jarak luncur 600km. Sementara kemampuannya bertahan dari serangan udara disediakan oleh rudal SAM 3K95 Kinzhal yang terpasang pada sel rudal vertikal.
Untuk pertahanan jarak dekat disediakan 6 unit AK-630 dan 8 unit Kashtan CIWS plus 32 rudal anti pesawat jarak dekat 3K87 Kortik, dan untuk melawan kapal selam tersedia RBU-12000 UDAV-1 Anti Submarine Rocket. Secara teoritis kalau melihat pada daftar senjatanya, Admiral Kusnetzov tampil gahar dan menakutkan, dan memenuhi spektrum pertempuran seutuhnya.

Nyatanya, sejak keluar dari galangan, Admiral Kusnetzov lebih banyak istirahat di pangkalan karena beragam masalah yang menghadang. Diluncurkan pada 1985, proses pengerjaan begitu lambat dan baru pada 1989 kapal ini menjalankan ujicoba pendaratan pesawat. Pelayaran perdana dilakukan sesudah Uni Soviet pecah, dan baru pada 1993 Admiral Kusnetzov menerima pesawat-pesawat tempurnya.

Setelah masa operasi yang relatif singkat, Admiral Kusnetzov mengalami kerusakan besar yang mengakibatkan harus dilakukannya proses refit ulang pada 2007. Proses perbaikan pada Admiral Kusnetzov sendiri tercatat lebih lama dibandingkan masa operasionalnya. Saat operasional di laut lepas pun, kapal induk ini tidak bisa lepas dari tugboat yang bertugas menderek Admiral Kusnetzov apabila terjadi masalah di tengah laut.
Namun begitu, Admiral Kusnetzov tetap dipaksakan beroperasi pada akhir tahun, namun berbagai masalah terus menghantui. Sebagai contoh, pada 2009 terjadi kebakaran akibat buruknya insulasi pada kabel-kabel dan menewaskan seorang kelasi yang keracunan karbon monoksida.

Toiletnya yang berfungsi hanya 25 buah, dan harus digunakan oleh 3.000 awak yang bertugas di Admiral Kusnetzov. Mesinnya yang tidak efisien selalu menghasilkan asap yang sangat-sangat tebal, sehingga keberadaannya mudah ditemukan oleh pesawat pengintai, termasuk dalam perlintasannya menuju Laut Merah pada bulan Oktober 2016 ini.

Rusia sendiri tidak punya pilihan selain terus mengoperasikan Admiral Kusnetzov, betapapun tidak andalnya ‘kapal induknya’ yang satu ini. Galangan Kapal Mykolaiv jatuh ke Ukraina sehingga kapal induk kedua yang baru setengah jadi dari kelas yang sama yaitu Varyag akhirnya dijual ke Tiongkok oleh Ukraina dan dimodifikasi sebagai Liaoning.

Kapal Selam Kelas Virginia Siap Hadapi Kekuatan Bawah Laut Rusia


Amerika Serikat terus membangun dan meningkatkan kemampuan kapal selam serang tenaga nuklir kelas Virginia. Kapal selam kelas Virginia akan menggantikan kelas Los Angeles yang akan dipensiunkan dan sudah 12 unit memasuki pelayanan Angkatan Laut Amerika Serikat. Sebelumnya, Amerika berencana mengganti kelas Los Angeles dengan kelas Seawolf, namun biaya yang mahal membuat Amerika membangun kelas Virginia.

Meski pun biaya pembuatan kelas Virginia lebih rendah dibanding kelas Seawolf, kecanggihannya ini tidaklah kalah. Kapal selam kelas Virginia ini merupakan kapal selam serang tenaga nuklir paling maju yang dimiliki Amerika Serikat. Kelas Virginia disebut-sebut sebagai kapal selam tenaga nuklir yang senyap yang mampu melakukan misi perang bawah laut di laut dalam dan melakukan operasi di laut dangkal.

Kapal selam kelas Virginia Blok I dibangun oleh Electric Boat, divisi dari General Dynamics, mulai tahun 1999 dan resmi beroperasi, pada 2004. Empat Virginia Blok I dibangun, setelah itu Electric Boat (EB) membangun enam Blok II dengan kemampuan yang telah ditingkatkan. Peningkatan kemampuan kelas Virginia terus dilakukan untuk menghadapi kapal selam Rusia yang semakin canggih. Saat ini EB sedang membangun Virginia Blok III. Empat dari delapan Blok III telah selesai dan beroperasi.

Kapal selam kelas Virginia Blok III mengalami desain ulang sekitar 20 persen, sebagian besar di haluan kapal. Virginia Blok III menggunakan Large Aperture Bow (LAB) untuk menekan biaya. 12 tabung peluncur rudal (VLS) diganti dengan dua tabung 87 inci Virginia Payload Tubes (VPTs). Satu VPTs dapat memuat enam rudal Tomahawk.

Kapal selam kelas Virginia dibangun dengan sistem modular sehinga peningktan kemampuan dan desai ulang dapat dilakukan untuk menghadapi tuntutan zaman, seperti yang dilakukan pada Blok III. Kelas Virginia juga dilengkapi dengan exit trunk, sebuah alat yang digunakan untuk mendukung operasi infiltasi pasukan khusus Navy Seal.

Sepuluh Kapal selam kelas Virginia Blok IV dibangun, pada tahun fiskal 2014-2018, dengan mengurangi biaya. Perubahan desain skala kecil dilakukan untuk memperpanjang siklus pemakaian komponen kapal. Saat ini sedang dikembangkan kelas Virginia Blok V, yang akan menggunakan Virginia Payload Module (VPM). Empat VPM akan ditempatkan pada Virginia Blok V, masing-masing VPM dapat memuat tujuh rudal jelajah Tomahawk.