Wednesday, 2 November 2016

USS Illinois, Kapal Selam Kelas Virgnia Paling Canggih Resmi Perkuat US Navy


Kapal selam USS Illinois (SSN 786) secara resmi masuk ke layanan Angkatan Laut Amerika pada Sabtu 29 Oktober 2016. Ini adalah kapal selam paling canggih dari Kelas Virgnia.
Illinois merupakan kapal selam fleksibel, platform multi-misi yang dirancang untuk melaksanakan tujuh kompetensi inti dari kekuatan kapal selam
Tujuh kemampuan itu adalah peperangan anti-kapal selam, peperangan anti-permukaan, pengiriman pasukan operasi khusus, menyerang, peperangan tidak teratur, intelijen, pengawasan dan pengintaian serta perang ranjau.

Kapal selam dibangun oleh General Dynamics Electric Boat dan merupakan kapal selam ke-13 dari Kelas Virgnia dan kapal kedelapan dari Kelas Virginia Blok III.
Kapal memiliki kemampuan untuk menyerang sasaran di darat dengan rudal jelajah Tomahawk dan melakukan pengawasan rahasia jangka panjang.
Kapal selam Blok III dibangun dengan Tabung Payload Virginia baru yang dirancang untuk menurunkan biaya dan meningkatkan kemungkinan payload rudal.
Komandan USS Illinois Cmdr. Jessie Porter, menyatakan Illinois akan mendominasi domain bawah laut dan memungkinkan keberhasilan militer Amerika dalam keterlibatan apapun.
“Selama bertahun-tahun mendatang, kapal selam ini dan kapal sejenis akan melanjutkan warisan mengesankan bahwa leluhur kapal selam kami telah menetapkan dalam membuat negara kita lebih aman,” kata Porter.

Illinois menjadi nama kapal pertama pada 1901 yakni USS Illinois (BB 7) sebuah kapal perang yang merupakan bagian dari Armada Presiden Theodore Roosevelt Great White yang mengelilingi dunia pada tahun 1907 dan memperkenalkan Amerika sebagai kekuatan global.
Kapal selam memiliki panjang 377 kaki, lebar 34 kaki dan akan dapat menyelam ke kedalaman lebih dari 800 kaki dan beroperasi pada kecepatan lebih dari 25 knot saat terendam. Kapal selam akan beroperasi selama lebih dari 30 tahun tanpa harus mengisi bahan bakar.

Pembangunan Illinois mulai Maret 2011, peletakan dilakukan pada tanggal 2 Juni 2014 dan dan kapal selam itu diluncurkan pada 10 Oktober 2015.
Kapal ini masuk ke layanan Angkatan Laut Amerika pada Sabtu 29 Oktober 2016 yang diresmikan oleh First Lady Michelle Obama, ditugaskan di Naval Submarine Base, New London. Michelle menjadi wanita pertama, yang mensponsori kapal selam Amerika.

“Terima kasih telah memberikan saya hak istimewa yang luar biasa yang berhubungan dengan Anda dan dengan keluarga Anda dan dengan Illinois selama sisa hidup saya. Saya akan terus menyebut Anda dalam doa-doa saya setiap hari dan membuat Anda tetap dalam pikiran saya, dan tahu bahwa Anda memiliki sponsor yang sangat peduli. ”



Tuesday, 1 November 2016

"Dragoon" Stryker Generasi Terbaru Untuk Tandingi Rusia


M1126 dan M1127 Stryker telah terbukti bekerja baik dengan Angkatan Darat dalam perang sejak teror 9/11. Kendaraan infanteri lapis baja ini memiliki keseimbangan yang sangat baik dari mobilitas, perlindungan, dan senjata untuk pasukan.
Namun, ketika Amerika berpotensi menghadapi pertarungan dengan Rusia, mereka perlu senjata yang lebih besar. Dan mereka kini akan segera memilikinya.

Prototipe pertama kendaraan angkut infanteri Stryker dilengkapi dengan meriam 30mm disampaikan ke Angkatan Darat Kamis 27 Oktober 2016. Kendaraan yang disebut sebagai “Dragoon” ini untuk menanggapi permintaan Resimen Kavaleri Lapis Baja ke-2 yang saat ini berbasis di Eropa, dan kemungkinan untuk berada di garis depan jika bertarung dengan Rusia.
Menurut rilis Angkatan Darat, Dragoon secara resmi disebut sebagai kendaraan tempur infateri XM1296 dan dilengkapi fitur Mk 44 Bushmaster II, sebuah versi 30mm dari M242 25mm chain gun yang digunakan pada M2/M3 Bradley, LAV-25, dan sejumlah kapal Angkatan Laut dan penjaga pantai Amerika.

Didasarkan pada M1126, dengan memiliki senapan mesin M2 kaliber 50 atau peluncur granat otomatis Mark 19 40mm, kedua sistem ini sudah cukup besar untuk berurusan dengan pasukan yang dilengkapi dengan sebuah truk pickup dengan senapan mesin berat dipasang di atasnya.
Tetapi untuk melawan BMP atau BTR apalagi tank tempur utama T-80, senjata ini tidak akan ada artinya yang malah akan menempatkan sembilan personel di belakang dan dua awak Stryker berada dalam bahaya.
Maka dari itu US Army berencana untuk memberikan Resimen Cavaleri Lapisbaja ke 2 dengan XM1296. Pembelian lainnya mungkin dapat mengikuti, karena ada potensi konflik di seluruh dunia.
Stryker bukan satu-satunya kendaraan yang mendapatkan meriam besar. Angkatan Darat sedang menguji versi ringan dari meriam M230 yang digunakan pada AH-64 Apache dari Joint Light Tactical Vehicle.

“Stryker dengan senjata yang ditingkatkan dan ditunjuk sebagai kendaraan tempur infanteri XM1296 akan menandai rekor waktu dari konsep hingga pengiriman,” kata Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Daniel Allyn sebagaimana dikutip Defensenews.

“Ini adalah contoh ketika industri pemerintah, militer dan pemimpin bersatu dalam satu tim,” kata Allyn.
Tidak lama setelah Rusia menganeksasi Crimea dan “laki-laki hijau kecil,” frase yang biasanya digunakan untuk merujuk pada pasukan asing atau pasukan paramiliter yang berpakaian hijau tanpa identitas mulai mengalir ke timur Ukraina untuk membantu separatis, menjadi jelas bahwa Stryker dengan senapan mesin kaliber 50 kalah dari kendaraan milik Rusia.

Pada bulan Januari 2015 misalnya, foto-foto kendaraan personel lapis baja BPM-97 Rusia membawa meriam 30mm.
“Rusia, ternyata, telah meningkatkan dan menerjunkan kemampuan yang signifikan ketika kami terlibat di Irak dan Afghanistan,” kata Allyn.
Dragoon akan mendapat upgrade komponen driveline, modifikasi lambung dan mengintegrasikan Kongsberg MCT-30mm yang bisa dioperasionalkan dari jauh dengan stasiun menara tak berawak baru yang sepenuhnya terintegrasi pada komandan.
Konfigurasi ini tidak akan mengurangi daya angkut yakni sembilan orang di luar awak.

Bisakah Sistem Pertahanan Rudal THAAD Ditembus?

Inilah Sistem rudal paling canggih yang mampu memburu dan meledakan rudal musuh yang masuk dari langit dengan tingkat keberhasilan 100%.
THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) adalah sistem pertahanan rudal yang unik dan canggih dengan presisi yang tak tertandingi, mampu melawan ancaman di seluruh dunia dengan mobilitas tinggi dan penempatan baterai unit strategis.


Korea Selatan akan segera mendapatkan THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) untuk melawan ancaman rudal Korea Utara. TIndakan ini diprotes China dan Rusia yang menyebut sistem itu akan menjadi ancaman bagi mereka.
THAAD merupakan salah satu sistem rudal pertahanan paling canggih di dunia saat ini. Wajar jika kemudian China menolak rencana Washington dan Seoul untuk menempatkan senjata tersebut di Korea Selatan.

“Ini adalah sistem pertahanan rudal paling maju secara teknis di dunia,” kata Kolonel Alan Wiernicki, Komandan Artileri 11 Brigade Pertahanan Udara Angkatan Darat AS kepada Business Insider beberapa waktu lalu.
“Komandan kombatan dan sekutu kami tahu tentang ini, yang menjadikan permintaan global untuk penempatan baterai THAAD kami sangat tinggi,” tambah Wiernicki.


Jika baterai THAAD dikerahkan ke Korea Selatan pada lokasi yang tepat, hampir semua rudal masuk dari Utara bisa dicegat. Sementara itu, China tidak bisa menerima penempatan THAAD ke Korea Selatan dengan menyebut hal itu akan merusak hubungan antara negara-negara. Penyebaran THAAD akan memecahkan keseimbangan strategis di kawasan dan menciptakan lingkaran setan konfrontasi gaya Perang dingin dan perlombaan senjata yang bisa meningkatkan ketegangan.

Saat ini, ada lima baterai THAAD, masing-masing dengan sekitar 100 tentara ditugaskan di Ft. Bliss di El Paso, Texas. Salah satu baterai THAAD dikerahkan ke Guam pada April 2013 dalam rangka untuk mencegah provokasi Korea Utara dan selanjutnya mempertahankan wilayah Pasifik.

Interceptor THAAD tidak membawa hulu ledak. Sebaliknya, rudal pencegat menggunakan energi kinetik murni untuk membunuh rudal balistik baik di dalam maupun di luar atmosfer.
Setiap peluncur membawa hingga delapan rudal dan dapat menyerang beberapa target sekaligus. Peluncur rudal yang dibangun Lockheed Martin ini menjadi salah satu elemen dari empat bagian sistem anti-rudal yang dibutuhkan untuk intersepsi terhadap ancaman musuh.

“Kami memiliki salah satu radar yang paling kuat di dunia,” kata Kapten Angkatan Darat AS Kyle Terza, seorang komandan baterai THAAD, kepada Business Insider.

Radar Raytheon AN / TPY-2

Radar Raytheon AN / TPY-2 digunakan untuk mendeteksi, melacak dan mengidentifikasi rudal balistik di fase penerbangan. Menurut Raytheon, Radar mobile seukuran bus ini begitu kuat sehingga dapat memindai seluruh area negara.
Setelah ancaman musuh telah diidentifikasi, THAAD Fire Control and Communications (TFCC) segera menembakkan rudal untuk memburu, mencegat dan menghancurkannya.
Ketika terbang interceptor akan melacak target dan melenyapkannya di langit.


Pada akhir 2016, Badan Pertahanan Rudal AS (MDA) dijadwalkan untuk memberikan 48 pencegat tambahan THAAD untuk militer AS, sehingga total menjadi 155. Menurut Badan Pertahanan Rudal AS, ada lebih dari 6.300 rudal balistik di luar AS, NATO, Rusia, dan China.
Dengan melihat kemampuannya, meski bukan hal yang mustahil, tetapi akan menjadi pekerjaan sangat berat dan rumit untuk bisa menembus benteng pertahanan yang dijaga THAAD.

Dokumen Bocor Ungkap Masalah Kapasitas Tempurnya Terkait Pengadaan Peralatan Militer


Dokumen yang bocor ke media mengungkap Bundeswehr Jerman mungkin tidak dapat mempertahankan tingkat kapasitas tempur yang diperlukan karena masalah dengan pengadaan pesawat militer.
Koran Jerman Welt am Sonntag melaporkan bahwa mereka memperoleh dokumen yang ditandatangani oleh Menteri Pertahanan Jerman Ursula von der Leyen yang menyebut negara itu bisa menghadapi kesenjangan dalam cakupan permintaan peralatan tempur yang diperlukan.
Secara khusus, memo mengatakan bahwa pesawat angkut Franco-Jerman C-160 Transall akan berhenti beroperasi pada 2021 sementara negara itu tidak mungkin untuk mulai menggunakan pesawat baru A400M Atlas pada awal tahun 2023.
Menurut dokumen bocor Bundeswehr ini, kerjasama pesawat dengan Prancis dikritik oleh pejabat militer Jerman karena dapat mengakibatkan ketergantungan jangka panjang pada Prancis, yang tidak memiliki kondisi yang tepat untuk perawatan pesawat.

Indonesia Masih Coba Negosiasi Untuk Beli 9 Atau 10 Jet Sukhoi Su-35 Dari Rusia


Pemerintah Indonesia tengah dalam pembicaraan untuk membeli sembilan atau sepuluh Jet Sukhoi Su-35 dari Rusia. Informasi ini berasal dari petugas Kementerian Pertahanan Indonesia. Kendati demikian, belum ada keterangan yang jelas kapan rencana itu akan direalisasikan.
“Kami masih melakukan negosiasi,” ujar kepala fasilitas pertahanan Kementerian Pertahanan Indonesia Leonardi, melalui sambungan telefon. “Kami masih menawar berapa banyak mereka ingin menjual Jet Sukhoi tersebut?” tambah Leonardi, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (1/10/2016).

Sebelum ini, Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu mengatakan pada Mei bahwa Indonesia akan membeli delapan Jet Sukhoi Su-35 tahun ini. Menurut orang dalam di Kementerian Pertahanan Indonesia, keputusan ini masih belum final. Pembelian ini merupakan uji coba bagi Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) untuk menegakkan transparansi dalam proses pembelian.

Dalam empat tahun terakhir, belanja pertahanan Indonesia terus meningkat sampai 77 persen menjadi 108,7 triliun rupiah. Indonesia juga telah menandatangani kontrak dengan Lockheed Martin untuk pembelian 24 Jet F-16. Sebanyak 14 pesawat telah dikirim, sedangkan 10 pesawat lainnya diharapkan dapat dikirim menjelang awal 2018.
Dalam pekan ini, ratusan perusahaan termasuk Lockheed Martin dari Amerika Serikat (AS), Saab Swedia dan perusahaan pembuat senjata Indonesia PT Pindad akan tampil pada pameran Indo Defence 2016. Acara tersebut akan diselenggarakan di Jakarta dari 2 sampai 5 November.

Sumber : reuters.com

Izinkan Pengerahan 330 Marinir AS, Norwegia Akan Jadi Target Nuklir Rusia


Norwegia telah diperingatkan keras oleh politisi senior Rusia bahwa negara itu bisa jadi target serangan nuklir Rusia setelah mengizinkan pengerahan 330 marinir Amerika Serikat (AS) di wilayahnya. Pengerahan ratusan marinir AS itu dianggap sebagai ancaman militer langsung terhadap Rusia.
Peringatan itu disampaikan Frants Klintsevich, Wakil Ketua Komite Pertahanan dan Keamanan Parlemen Rusia, dalam wawancaranya dengan channel Rusia, TV2.

Norwegia bergabung dengan NATO pada tahun 1949 dengan jaminan tidak akan mengizinkan pasukan asing ditempatkan di sana. “Ini sangat berbahaya untuk Norwegia,” ujarnya mengacu pada izin penyebaran 330 marinir AS di Norwegia.
”Bagaimana kami harus bereaksi terhadap ini? Kami sebelumnya tidak pernah memasang Norwegia pada daftar target untuk senjata strategis kami. Tetapi jika ini berkembang, penduduk Norwegia akan menderita,” ujarnya.
”Karena kami perlu bereaksi terhadap ancaman militer definitif. Dan kami memiliki hal-hal untuk bereaksi terhadap itu, saya mungkin juga mengatakan seperti itu,” lanjut dia, yang dikutip semalam (31/10/2016).

Namun, Menteri Pertahanan Norwegia, Ine Eriksen Soreide, telah menolak kritikan Rusia. Dia mengatakan bahwa penyebaran 330 marinir AS di dekat Trondheim sekitar 700 mil dari perbatasan Rusia hanya uji coba yang akan dipertimbangkan kembali pada tahun depan.
“Tidak ada alasan objektif bagi Rusia untuk bereaksi terhadap ini. Tetapi Rusia bereaksi dengan cara yang sama terhadap hampir semua negara-negara NATO,” katanya.

Komandan Korps Marinir AS untuk Eropa dan Afrika, Mayor Jenderal Niel Nelson, mengatakan bahwa penyebaran ratusan marinir itu akan memberikan kesempatan bagi korps untuk berlatih langsung dengan pasukan Norwegia.
”Setelah merotasi kehadiran (militer) di Norwegia akan meningkatkan kemampuan kolektif dari dua kekuatan kami untuk bekerja sama” ujarnya.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Setujui Penjualan Advanced Missile Ke Indonesia


United Press International melaporkan bahwa Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah menyetujui permintaan dari Indonesia terkait pembelian rudal udara ke udara jarak menengah 120C-7 dari produsen senjata Amerika Serikat. Persetujuan tersebut datang sebagai sikap Amerika Serikat untuk terus memperkuat hubungan dengan Indonesia dan sekutu Asia-Pasifik lainnya di bawah pemerintahan Obama.

“Penjualan yang diusulkan meningkatkan kemampuan Indonesia untuk mencegah ancaman regional dan memperkuat pertahanan tanah air,” ujar Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan dalam pemberitahuannya kepada Kongres. 
“Indonesia mampu menyerap peralatan tambahan ini dan mendukung bagi angkatan bersenjatanya.”Kesepakatan yang diusulkan bernilai sekitar 90 juta dolar AS.
Penerima manfaat utama dari kemungkinan penjualan akan ditentukan oleh persaingan, kata badan itu dalam pemberitahuan tersebut. 

Rudal advanced medium-range air-to-air merupakan “yang paling canggih diantara dominasi senjata udara dunia,” menurut situs Perusahaan Raytheon. 
Sebelumnya, Indonesia telah membelisistem rudal besar-besaran dari Amerika Serikat, termasuk rudal AIM-9X-2 Sidewinder yang disetujui pada tahun lalu. Biaya pembeliannya sekitar 50 juta dolar AS.