Wednesday, 2 November 2016

Malaysia Akan Beli Kapal Perang Dari China, Tanda Mulai Bergesernya Pengaruh AS Di Asia Tenggara

Pemerintah Malaysia akan membeli empat kapal perang dari China dalam sebuah kesepakatan pertahanan yang penting. Kesepakatan yang diumumkan Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak ini menandai potensi pergeseran strategis dari Amerika Serikat.


Kesepakatan ini menandai pertama kalinya Kuala Lumpur membeli kapal-kapal perang dari Beijing. Sesuai kesepakatan tersebut, dua dari empat kapal perang tersebut akan dirakit di Malaysia dan dua lagi dirakit di China.
"Saya menyebut ini keputusan penting karena sebelum ini kita tidak pernah membeli kapal-kapal seperti itu dari China," ujar Najib usai pembicaraan dengan PM China Li Keqiang di Beijing pada Selasa (1/11) seperti dilansir media Malaysia, The Star dan dilansir AFP, Rabu (2/11/2016).

Malaysia selama ini membeli sebagian besar armada pertahanannya dari Amerika Serikat, Rusia, dan negara-negara Eropa. Para pengamat menilai kesepakatan tersebut merupakan kemunduran bagi "poros" Washington terhadap Asia, dan menekankan pengaruh ekonomi dan diplomatik China di wilayah Asia.
"Ini merupakan norma regional yang baru. Sekarang China mengimplementasikan kekuasaan dan AS dalam kemunduran," ujar pengamat politik Asia Tenggara, Bridget Welsh.

Menurut Gu Xiaosong, periset di Guangxi Academy of Social Sciences, kesepakatan ini menandai makin menonjolnya pengaruh China.
"Situasi diplomatik Asia Tenggara telah bergeser menuju China, menyusul kunjungan Presiden Filipina Rodrigo Duterte dan pemimpin Vietnam tahun ini," tuturnya.

Sempat Terhenti Akibat Kudeta, Program Modernisasi Turki Kembali Kejalur

Setelah terganggu dengan kudeta militer gagal beberapa waktu lalu, Kementerian Pertahanan Turki kembali ke jalur modernisasi militer.
Komite Eksekutif Industri Pertahanan Turki yang bertanggungjawab pada pengadaan alutsista telah memutuskan untuk membeli sejumlah peralatan paling canggih termasuk batch kedua pesawat tempur F-35 Lightning II.


Komite yang diturki dikenal dengan singkatan SSIK telah memutuskan untuk membeli sejumlah senjata baik kekuatan daftar panjang udara, maritim dan darat.
Sebagaimana dikutip Defense News Selasa 1 November 2016, keputusan diambil dalam rapat Komite, yang dihadiri oleh Perdana Menteri Turki Binali Yildirim, Menteri Pertahanan Fikri Isik dan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Hulusi Akar yang berlangsung Jumat, 30 Oktober.
Komite ini secara resmi mengumumkan mereka akan menempatkan pesanan batch kedua F-35 Lightning II yang ingin dibeli dengan total 116 jet, dengan pesawat pertama akan disampaikan pada 2018.

Turki bermaksud untuk mengganti seluruh armada jet mereka dengan F-35 dan jet TFX yang dibangun sendiri pada 2023 .
Turki juga berniat untuk membeli dua pesawat komando dan kontrol, yang dapat bertindak baik sebagai komando terbang atau sebagai pesawat bisnis VIP untuk petinggi militer dengan harga perpesawatnya diperkirakan antara US$ 50 juta dan US$100 juta.
Komite juga menyatakan berniat untuk membeli kapal dengan jumlah yang tidak diungkapkan untuk angkatan laut Turki dan memulai sebuah kompetisi untuk modernisasi 25 helikopter SH-70B Seahawk.

Beberapa program anggotanya dibahas pada Jumat meliputi Program Integrated Maritime Surveillance System (IMSS), dasar dari dan pusat pertahanan cybersecurity, komando peperangan elektronik, kontrol dan koordinasi, data bank peperangan elektronik nasional, kendaraan lapis baja ringan generasi baru, pengadaan jammers portabel, dan sistem pendukung elektronik.
Keputusan ini adalah upaya besar pertama untuk menempatkan program modernisasi Turki kembali ke jalur setelah hampir berhenti total setelah upaya kudeta yang sebelumnya pada bulan Juli.
“Baik pemerintah dan pemimpin militer bertekad untuk menyelesaikan sesuatu tanpa penundaan lebih lanjut,” kata seorang pejabat militer dalam kondisi anonimitas.

LITENING Pod, Sensor Sakti Pespur AS Yang Juga Dibeli TNI AU


Dalam kunjungannya ke Indonesia dalam rangka Cope West 17, F/A-18D Hornet dari VMFA(AW)-225 nampak membopong pod AN/AAQ-28(V) LITENING pod. Pod sensor standar AU, AL, dan Korp Marinir AS ini rencananya juga akan diakuisisi oleh TNI AU, sesuai dengan rilis DSCA mengenai paket penjualan 24 unit F-16 Block 25 Upgrade (52ID).


LITENING Pod sendiri merupakan pod sensor yang dikembangkan oleh perusahaan teknologi militer Rafael dari Israel, dan telah diadopsi oleh Northrop Grumman sebagai lini dari produk yang ditawarkan untuk integrasi dengan pesawat tempur generasi 3 ke atas. Korps Marinir AS merupakan kecabangan pertama di Angkatan Bersenjata AS yang menggunakan AN/AAQ-28(V) LITENING II yang diintegrasikan ke pesawat serang AV-8B Harrier II pada 2001.


LITENING lahir dari tantangan alam yang harus dihadapi oleh pilot pesawat tempur. Pilot seringkali harus beroperasi dalam kondisi cuaca yang tidak ideal, namun tuntutan misi, khususnya misi pemboman harus dilakukan pada saat itu juga. Jangankan bisa presisi, energi pilot jauh terkuras bila setiap waktu harus memperhatikan sekitar pesawat dan panel indikator saat jarak pandang minim akibat cuaca buruk. Selain cuaca, kondisi sasaran yang harus dibom seringkali dikelilingi oleh aset sipil, sehingga harus dicari cara untuk memastikan bahwa titik yang dibom benar-benar akurat.

LITENING sendiri dihadirkan sebagai pod sensor pertama yang menggabungkan antara kemampuan penginderaan berbasis teknologi IR (Infra Red), navigasi, dan pemandu bom pintar ke sasaran, yang didesain untuk memampukan pesawat pembawanya beroperasi siang dan malam. LITENING menggabungkan sistem FLIR (Forward Looking Infra Red), laser designator, laser spot designator, navigasi berbasis GPS, dan kamera dengan sensor CCD (Charged Coupled Device) resolusi tinggi.
Gabungan tiga sensor ini memampukan pesawat tempur untuk mengenali sasaran darat dari ketinggian 40.000 kaki dan menyorotnya dengan laser pengarah sehingga bom berpemandu laser bisa mengikuti tuntunan laser tersebut. 

Tak hanya laser dari pesawat tempur pembopong, LITENING juga dapat mengenali sorotan sinar laser (laser spot designator) yang ditembakkan oleh pasukan khusus, sehingga pesawat dengan LITENING dapat mengantarkan serangan presisi yang menjadi tipikal operasi pasukan khusus.
Saat membidik sasaran yang sudah dikunci, sinar laser akan ditembakkan dan distabilisasi oleh giroskop yang menjejak sasaran secara terus-menerus. Pilot cukup menerbangkan pesawat dalam cakupan kemampuan putar sensor sampai bom berpemandu laser dilepaskan dan mengenai sasaran.
Jika menggunakan bom berpemandu GPS, laser yang ditembakkan ke sasaran akan memberikan input koordinat final sasaran yang dapat dipasok ke prosesor pada bom pintar yang memiliki kemampuan update koordinat pada fase penerbangan, dan tinggal dijatuhkan sementara pesawat tempur terbang menjauh.

Yang menyenangkan, LITENING menyediakan tiga FoV (Fields of View) atau moda tampilan, lebar, sedang, dan sempit sesuai kegunaan. Tampilan dari tangkapan sensor kamera atau FLIR disajikan langsung ke salah satu display MFD (Multi Function Display) yang ada pada panel kokpit. FoV lebar dapat digunakan untuk scanning permukaan darat dan udara, sedang dan sempit dapat digunakan apabila sasaran di darat telah diperoleh dan sedang dijejak untuk misi pengeboman.
Karena sensor pada LITENING juga dapat diputar, maka kamera FLIR dapat diarahkan ke depan untuk fungsi sekunder menjejak emisi panas dari exhaust pesawat lawan yang tengah terbang, sehingga deteksi dapat dilakukan secara pasif tanpa menyalakan radar, jika diinginkan.



Sejauh ini, Northrop Grumman sudah mengembangkan beberapa varian LITENING, mulai dari LITENING II/ER (resolusi kamera lebih tinggi)/AT (jarak deteksi lebih jauh dan sistem datalink yang lebih fleksibel), LITENING G4 dengan jarak pengenalan dan kualitas gambar dengan prosesor dan sensor yang lebih baik.
Mengenai versi mana yang akan dipilih oleh TNI AU, kita masih harus menebak-nebak karena rilis DSCA sendiri menyebutkan bahwa masih ada kemungkinan dimana TNI AU dapat mengadopsi LITENING atau Sniper Pod. Kita tunggu saja realisasinya, sambil menunggu kisah pilot TNI AU yang beradu ilmu dengan pilot USMC yang menggunakan LITENING Pod.

Buk-M3 Masuk Layanan Rusia. Apakah Buk-M3 Lebih Baik Dari S-300?


Militer Rusia telah memasukkan sistem rudal pertahanan permukaan ke-udara 9K317M Buk-M3 ke dalam layanan. Sistem rudal pertahanan udara yang sangat mobile akan digunakan oleh Angkatan Darat Rusia. Apakah Buk-M3 lebih baik dari S-300?
Kepastian sistem ini telah masuk ke layanan diungkapkapkan Menteri Pertahanan Pertahanan Rusia Sergei Shoigu pada 23 Oktober 2016 oleh TV Zvezda lalu.
Menurut Shoigu, satu batalyon rudal anti-pesawat kini sudah beroperasi dengan sistem yang baru. Dua set batalion yang lebih tua, yakni sistem Buk-M2 juga dikirim ke Angkatan Darat Rusia dan Pasukan Aerospace Rusia pada pertengahan Oktober.

Buk-M3 dikembangkan dari Buk-M2 tetpi secara signifikan berbeda terutama dalam hal rudal yang lebih banyak.
Rudal 9M317M dan tabung peluncuran Buk-M3 sama dengan dengan versi baru Buk 3S90M untuk Angkatan Laut. Rudal ini dari anggota keluarga Buk sebelumnya seperti 9M38 dan 9M317 yang menggunakan jet-baling-baling untuk menambah dorongan vectoring control.

Sistem 9K317M Buk-M3 terdiri dari kendaraan komando 9S510M, radar pencarian dan sasaran 9S36M dan dua kendaraan self-propelled 9A317M dipersenjatai dengan enam rudal 9M317M setiap unitnya.
Sistem ini juga dapat didukung hingga dua kendaraan peluncur 9A316M tambahan sarat dengan 12 rudal permukaan ke udara 9M317M. Sistem ini juga mencakup loading vehicle 9T243M.

Meskipun dirancang untuk menemani dan membela formasi Angkatan Darat Rusia dari serangan udara, Buk-M3 menawarkan kinerja yang lebih unggul dari S-300P dan mampu melawan target seperti rudal balistik jarak pendek.
“Hasil tes menunjukkan bahwa sejumlah karakteristik sistem telah sepenuhnya memenuhi persyaratan teknis dan menyamai S-300, dan dengan beberapa parameter bahkan telah melampaui sistem ini,” kata seorang pejabat kementerian pertahanan Rusia kepada TASS.
Pertama-tama, probabilitas penghancuran target Buk-M3 mencapai 0,9999 yang tidak dimiliki S-300. Ini berarti bahwa sistem ini pasti mampu menghancurkan target dengan satu rudal.

Rudal 9M317M baru memiliki jangkauan maksimum hingga 70 km dan jangkauan minimal 2.5km. Sistem dapat mencapai target setinggi 115,000 kaki atau target rendah pada ketinggian 50 kaki. menggunakan hulu ledak ledakan fragmentasi dan dapat digunakan terhadap target permukaan dalam situasi yang ekstrem. Secara keseluruhan, itu adalah sebuah sistem senjata yang sangat tangguh.


Sistem Rudal AS Bikin Ciut Rusia


Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Rusia, Nikolai Patrushev mengatakan sistem rudal Amerika Serikat (AS) di Eropa mampu menyerang situs strategis Rusia. Moskow pun menganggap penumpukan militer NATO sebagai ancaman.

"Kami masih menggap penguatan kekuatan militer NATO dan menjadikan organisasi berfungsi global, lokasi infrastruktur militer negara-negara blok barat lebih dekat dengan perbatasan Rusia, menyebarkan persenjataan jenis baru, menciptakan sistem pertahanan rudal global, sebagai ancaman bagi keamanan negara kita," tutur Petrushev seperti dikutip dari Sputniknews, Selasa (1/11/2016).

Petrushev menambahkan Rusia terus bekerja dalam kerangka Rusia-NATO untuk mengkoordinasikan langkah-langkah yang bertujuan untuk mencegah konfrontasi di udara dan laut.

"Dalam keadaan sekarang, Rusia terus menggunakan platform dialog Dewan Rusia-NATO, bekerja pada perjanjian bilateral tentang pencegahan insiden udara dan laut," terang Petrushev.

Petrushev mengatakan bahwa sistem rudal AS yang diatur untuk digunakan di Eropa Timur dan Korea Selatan memiliki kemampuan untuk menyerang situs strategis Rusia meskipun Washington mengklaim sebaliknya.

"Metode imajiner melawan ancaman Rusia menimbulkan pertanyaan. Anda menyebutkan penyebaran elemen sistem pertahan rudal di perbatasan kita. Sistem ini dapat meluncurkan rudal jelajah dimana fasilitas infrastruktur strategis Rusia berada dalam radius mereka," katanya.
"AS tentu saja membantah kemungkinan ini, tetapi tidak dapat memberikan argumen yang nyata," tukasnya.

Bertahun-Tahun Dikecewakan, TNI AU Bongkar Dosa PTDI


TNI Angkatan Udara bertahun-tahun merasa harus mengalah dan dirugikan terus-menerus oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Dalam hal suku cadang pesawat, misalnya, PTDI dinilai tidak dapat memenuhi dan mendukung kesiapan pesawat yang telah diserahkan kepada TNI AU. Akibatnya, kesiapan pesawat TNI AU terus menurun. Pesawat tidak bisa digunakan pada saat dibutuhkan. Kondisi seperti ini telah terjadi sejak lama hingga saat ini sehingga menimbulkan akumulasi kekecewaan bagi TNI AU terhadap industri strategis plat merah ini.

Selain itu, PT DI juga dinilai tidak mampu menempatkan TNI Angkatan Udara sebagai the first customer. Padahal, di negara-negara maju, industri strategis pertahanan senantiasa menempatkan AU, AD, AL, maupun Kepolisian mereka sebagai the first customer. Karena itu pula, industri pertahanan di negara-negara tersebut maju. “Lockheed Martin, Northrop Grumman, Boeing, dan industri lainnya menjadikan Air Force atau Navy, maupun institusi dalam negeri mereka lainnya sebagai the first customer, di sini tidak.”
Demikian disampaikan Koordintator Staf Ahli (Koorsahli) KSAU Marsda TNI Usra Hendra Harahap saat menjadi keynote speaker Focus Group Discussion (FGD) bertema “Penguatan Peran Industri Pertahanan Dalam Rangka Mendukung Kesiapan Alutsista TNI” di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Selasa (1/11/2016).

Koordinator Staf Ahli KSAU Marsda TNI Usra Hendra Harahap

Usra menandaskan, sejatinya industri strategis pertahanan amatlah dibutuhkan oleh TNI Angkatan Udara. Oleh karena itu pula TNI AU membeli sejumlah pesawat dari PTDI. TNI AU berkeinginan membangun kekuatan sistem pertahanan udara nasional (Sishanudnas) di mana hal itu membutuhkan ketersediaan alutsista yang memadai guna mendukung lima kemampuan operasi udara sesuai dengan Doktrin Swa Bhuana Paksa.
Usra Hendra Harahap menjabarkan, lima kemampuan operasi udara yang dimaksud adalah operasi serangan udara strategis, operasi lawan udara ofensif, operasi pertahanan udara nasional, operasi dukungan udara, dan operasi perang komunikasi. Saat ini PTDI baru mampu mendukung operasi dukungan udara. “Itu pun sangat terbatas,” kata beliau.

“Kita membeli pesawat CASA (CN-235, C295), membeli helikopter dari PTDI, tapi akhirnya kita berhadapan dengan kesiapan yang sangat menurun. Terjadi degradasi,” tegas Usra. Maka, TNI AU berpendapat, alangkah baiknya bila AU, AD, AL dan Kepolisian yang notabene membutuhkan pesawat dari PTDI, ditempatkan oleh PTDI sebagai the first customer dengan baik. “PTDI seharusnya memberikan supervisi terhadap produk-produk yang diinginkan oleh customer.”

Melalui kegiatan FGD yang diselenggarakan oleh National Air and Space Power Center of Indonesia (NASPCI) tersebut, TNI AU sebenarnya berharap PTDI bisa hadir sehingga semua pihak bisa berbicara dari hati ke hati dengan mengedepankan semangat brotherhood, persaudaraan, dan kekeluargaan. Namun, lagi-lagi, pihak PTDI yang diundang secara resmi ini tidak hadir. Entah karena alasan apa, padahal semestinya tim PTDI sudah berada di Jakarta untuk pembukaan Indo Defence 2016 di Kemayoran esok hari. Pihak lain yang juga sangat disayangkan tidak datang memenuhi undangan adalah Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) serta Komisi I DPR RI.

Sorotan lain TNI AU terhadap PTDI dinyatakan Usra Harahap karena selama ini PTDI juga ingkar terhadap komitmennya. Mulai dari penyerahan pesawat yang tidak tepat waktu dan tidak lengkap sesuai pesanan hingga penyediaan suku cadang. Terkait pesawat C295 misalnya, Usra menyoroti bahwa pesawat ini bukan buatan PTDI tapi dikatakan sebagai buatan anak bangsa. “Kita membeli CN295, buatan siapa, orang mengatakan itu buatan PTDI, apakah kita berbohong?, Pasti itu berbohong. Istilah CN295 tidak ada. Huruf N itu PTDI menambahkan sendiri,” ujar Usra.
Selain itu Ia juga menyampaikan, dalam perjanjian awal pembelian C295 disepakati bahwa sebanyak dua pesawat akan dibuat dan dirakit di Spanyol oleh Airbus dan tujuh sisanya akan dirakit di PTDI. Kenyataannya, rumus tersebut dibalik dibalik oleh PTDI sehingga hanya dua yang dirakit di Bandung.
Lalu apa implikasinya bila kita membeli pesawat dengan mengaku bahwa pesawat itu buatan kita?. “Kita kehilangan offset, kehilangan imbal balik dagang yang at least 35%. Apakah itu menguntungkan negara? Tidak.
Apakah kita hebat di mata rakyat bahwa kita bisa membuat pesawat itu?. Temporary iya, tapi lambat laun masyarakat akan tahu bahwa kita berbohong,” lanjut Koorsahli KSAU.

Kembali ke penyediaan suku cadang pesawat yang dinilai payah, Usra Hendra Hrahap kembali menguraikan, “Kalau PTDI tidak mampu menyediakan suku cadang, apakah kita harus beli ke Airbus di Spanyol?, Lewat siapa?, Ya tentu harus lewat PTDI. Apakah lebih murah?, Tentunya lebih mahal karena melalui pihak kedua.”
FGD penguatan industri pertahanan mengundang lima pembicara namun hanya empat pembicara yang hadir. Yakni Prof. Tjipta Lesmana, Al Araf, Dr. Connie Rahakundini Bakrie, dan Kolonel Lek Rujito. Acara tersebut dihadiri kurang lebih 60-an audiens.

Bomber B-2 Akan Diupgrade Agar Tetap Siluman Hingga 2050 Dan Dilengkapi Bom Nuklir Digital Baru

Pembom siluman B-2 Spirit yang dibangun era 1980an akan ditambah dengan senjata baru dan upgrade sistem misi agar tetap mampu menembus sistem pertahanan musuh hingga 2050.


Pada tahun-tahun yang akan datang, B-2 akan dipersenjatai dengan senjata nuklir digital generasi berikutnya seperti B-61 Mod 12 dan Long Range Stand-Off (LRSO), sebuah, rudal jelajah nuklir dipandu yang diluncurkan dari udara.
B-61 Mod 12 adalah program modernisasi yang sedang berlangsung untuk mengintegrasikan B-61 Mods 3, 4, 7 dan 10 menjadi sebuah varian tunggal berpemandu. B-61 Mod 12 sedang direkayasa dengan mengandalkan navigasi inersia.

Pejabat Angkatan Udara AS sebagaimana dikutip Scout Warrior Senin 31 Oktober 2016 mengatakan selain LRSO, B83, dan B-61 Mod 12, bomber B-2 juga akan membawa B-61 Mod 11, senjata nuklir yang dirancang dengan kemampuan penetrasi tinggi. LRSO akan menggantikan Air Launched Cruise Missile (ALCM) yang sekarang hanya digunakan oleh bomber B-52.

Di samping arsenal nuklirnya, B-2 akan membawa berbagai macam senjata konvensional seperti Joint Direct Attack Munitions (JDAM) 2.000 pon, Joint Standoff Weapons 5.000 pon, Joint Air-to-Surface Standoff Missiles dan GBU-28 5,000 pon bunker buster serta senjata lain.
Platform ini juga mempersiapkan untuk mengintegrasikan rudal udara ke darat konvensional yang disebut Joint Air-to-Surface Standoff Missile, Extended Range (JASSM-ER). B-2 juga dapat membawa 30.000 pon bom konvensional yang dikenal sebagai Massive Ordnance Penetrator.

“GBU-28 (bunker-buster) akan menghancurkan target terkubur, ” kata Mayor. Kent Mickelson, Direktur Operasi untuk skuadron pelatihan tempur 394 kepada Scout Warrior.
Angkatan Udara Amerika berencana untuk mengoperasikan B-2 bersama bomber aru yang sat ini dibangun B-21 hingga 2050.

Untuk bisa tetap mampu beroperasi sampai 2050, B-2 multak akan menjalani serangkaian upgrade modernisasi karena sistem pertahanan udara lawan akan terus berkembang dengan cepat.
Salah satu upgrade kunci disebut Defensive Management System, teknologi yang membantu memberi informasi kepada kru B-2 tentang lokasi pertahanan udara musuh. Oleh karena itu, jika ada pertahanan udara yang dilengkapi dengan teknologi yang cukup untuk mendeteksi B-2, pesawat akan memiliki kesempatan untuk bermanuver seperti dengan terbang di luar jangkauan musuh. Defensive Management System dijadwalkan akan beroperasi pada pertengahan 2020-an.
B-2 juga akan bergerak ke frekuensi satelit yang sangat tinggi dalam rangka untuk lebih memfasilitasi komunikasi dengan komando dan kontrol. Upgrade komunikasi ini memungkinkan awak pesawat untuk menerima instruksi pemboman dari Presiden.

Angkatan Udara Amerika saat ini mengoperasikan 20 pembom B-2, dengan mayoritas berbasis di Whiteman AFB di Missouri. B-2 dapat mencapai ketinggian 50.000 kaki dan membawa 40.000 pon muatan, termasuk senjata konvensional dan nuklir.
Pesawat, yang mulai beroperasi pada tahun 1980, telah diterbangkan di misi serangan ke Irak, Libya dan Afghanistan. Bahkan pesawat memamerkan kemampuannya untuk terbang 6.000 mil laut tanpa perlu mengisi bahan bakar, B-2 terbang dari Missouri sampai ke sebuah pulau di lepas pantai India yang disebut Diego Garcia sebelum meluncurkan misi pemboman atas Afghanistan.