Wednesday, 1 March 2017

Satelit Militer, Ryamizard Ryacudu : Tidak Ada Masalah, Tinggal Uangnya


Rencana pembelian satelit untuk keperluan militer masih terus berlangsung ujar Menteri Pertahana (Menhan), Ryamizard Ryacudu. Pembahasan masih terus dilakukan antara pihak Kementerian Pertahanan (Kemhan) dengan pihak Kementerian Keuangan (Kemenkeu), terkait pembelian itu.

“Hari ini, Sekretaris Jendral kita lagi ke Kemenkeu, untuk mengurus itu. Tidak ada masalah, tinggal uangnya,” ujar Ryamizard Ryacudu kepada wartawan, di Pusdiklat Bela Negara, Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/2/2017).

Ia akui harga pembelian sekaligus peluncuran satelit tersebut memang tidak murah, yakni mmencapai Rp 8 - 10 triliun rupiah. Namun angka tersebut masih jauh lebih murah ketimbang pemerintah harus menyewa satelit sejenis, yang biayanya mencapai Rp 1 triliun pertahun.

Purnawirawan Jendral TNI bintang empat itu menuturkan umur satelit di angkasa untuk kepentingan militer bisa mencapai sekitar 17 tahun. Jika pemerintah Indonesia harus menyewa satelit seharga Rp 1 triliun selama 17 tahun, maka harga sewa dapat dikatakan jauh lebih mahal.

“Kalau kita tidak menyewa, kita punya sendiri, kita hanya mengeluarkan (sekitar) delapan triliun (rupiah),” ujarnya.

Selain itu bila satelit tersebut dikelola sendiri oleh pemerintah, maka tingkat kerahasiaan informasi yang dipancarkan satelit tersebut masih lebih terjamin, ketimbang satelit tersebut harus dioperasikan pihak lain.

“Kalau itu kita sendiri (yang mengelola), pasti terjamin, artinya kedaulatan kita terjamin,” ujarnya.

Untuk merealisasikan satelit tersebut, pihak Kemenhan sudah melakukan perundingan dengan Airbus, perusahaan aviasi yang berbasis di Perancis. Ryamizard Ryacudu mengatakan jika pembelian tersebut terealisasi, dipastikan industri dalam negeri diajak untuk ikut membangun satelit tersebut.


Kekuatan Udara Sebagai Modal Wujudkan Kepentingan Nasional


Air Power atau Kekuatan Udara suatu bangsa merupakan salah satu instrumen yang dapat didayagunakan sebagai modal bagi suatu negara dalam mewujudkan kepentingan nasionalnya, kedaulatan negara di udara ditentukan oleh kemampuan negaranya untuk menguasai ruang udara yang ada di atas wilayahnya.

Hal tersebut dikatakan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo saat memimpin upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) dari Marsda TNl Abdul Muis, S.Sos. kepada Marsda TNI Yuyu Sutisna, SE. di lapangan upacara Makohanudnas Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (28/2/2017).

Dalam kesempatan tersebut Panglima TNI mengatakan bahwa, Kohanudnas sebagai bagian integral dari TNI yang bertugas menyelenggarakan upaya pertahanan keamanan terpadu atas wilayah udara nasional secara mandiri maupun bekerja sama dengan komando utama operasional lainnya dalam rangka mewujudkan kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kohanudnas harus menyelenggarakan pembinaan administrasi dan kesiapan operasi unsur-unsur pertahanan udara TNI Angkatan Udara dan melaksanakan siaga operasi untuk unsur-unsur pertananan udara dalam jajarannya untuk mendukung tugas pokok TNI,” ujar Panglima TNI.

Lebih lanjut Panglima TNI mengatakan bahwa, Kohanudnas di tuntut untuk selalu menjaga kesiapsiagaan operasionalnya secara utuh, harus mampu memberikan efek penangkalan dan efek koersif bagi pihak lain yang akan mengganggu keutuhan wilayah dan kedaulatan NKRI. “Keberhasilan dalam pencapaian tugas Kohanudnas, sangat tergantung kepada kemampuan, kekuatan dan pola gelar yang dilaksanakan dalam menjaga wilayah udara Indonesia,” kata Jenderal TNI Gatot Nurmantyo.

Terkait Pembangunan Pertahanan Udara Nasional saat ini, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyampaikan, TNI akan menambah Alutsista baik radar, pesawat tempur sergap, rudal jarak sedang maupun senjata Penangkis Serangan Udara (PSU) yang dilaksanakan secara bertahap.

“Penambahan Alutsista ini, diharapkan Kohanudnas semakin memiliki kemampuan menjaga dan mengawasi seluruh wilayah NKRI, terutama wilayah udara di sepanjang perbatasan dengan negara-negara lain serta jalur lalu lintas laut yang padat dan rawan,” ungkap Panglima TNI.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo juga mengingatkan kepada seluruh anggota Kohanudnas dan jajarannya, bahwa jati diri prajurit TNI sebagai komitmen moral dan kemampuan profesional keprajuritan, hendaknya selalu dipelihara dan ditingkatkan yang kesemuanya akan bermuara pada keberhasilan pelaksanaan tugas pokok TNI.

“Saya melihat bahwa apa yang telah dicapai Kohanudnas saat ini merupakan rangkaian hasil kerja keras, disiplin, dedikasi dan loyalitas pengabdian segenap anggota Kohanudnas serta jajarannya,” tuturnya.

Sebelum mengakhiri amanatnya, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo atas nama pribadi dan selaku pimpinan TNI menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Marsekal Muda TNI Abdul Muis, S.Sos., atas pengabdian dalam melaksanakan tugas dan dharma baktinya selama menjabat, memimpin dan memajukan Kohanudnas.

Kepada Marsda TNI Yuyu Sutisna, S.E., Panglima TNI mengucapkan selamat atas kepercayaan dan kehormatan serta amanah yang diberikan TNI, negara dan bangsa sebagai Panglima Kohanudnas yang baru. “Saya harapkan Marsda TNI Yuyu Sutisna, S.E. dapat mengemban kepercayaan dan kehormatan ini dengan penuh rasa tanggung jawab,” tandasnya.


Turut hadir dalam acara Sertijab tersebut antara lain, Kasal Laksamana TNI Ade Supandi, Wakasad Letjen TNI M. Erwin Syafitri, Wakasau Marsdya TNI Hadiyan Sumintaatmadja, para Asisten Panglima TNI, Kapuspen TNI Mayjen TNI Wuryanto, S.Sos., Dankorps Brimob Irjen. Polisi Drs. Murad Ismail serta pejabat teras Mabes TNI dan Angkatan.

Kiprah Penembak Indonesia di Kompetisi Tembak Eropa


Setelah menjalani sesi neraka dengan kondisi ekstrem berhias hujan dan angin salju di bawah suhu minus 10 derajat celcius, petembak revolver andalan Indonesia, Sonny Prabowo sukses menempati urutan keempat dalam Kejuaraan Menembak Eropa bertajuk ‘Battlefield Snow 2017’, di Tallinn, Estonia.

Pertandingan Handgun IPSC level 3 yang diikuti 124 petembak terbaik Eropa termasuk petembak urutan kedua Eropa, Kalle Halvarsson. Sonny dan petembak junior Indonesia lainnya, Ali Sumono yang didukung penuh oleh PINDAD menyelesaikan 12 stage pertandingan dalam waktu lima jam lebih dengan kondisi yang sangat ekstrem.

Soal suksesnya menduduki urutan empat, Sonny mengatakan kalau sukses itu merupakan keberhasilan semua pihak terutama PINDAD yang mendukung penuh keberangkatan tim Indonesia ke kejuaraan tembak ini, yang sekaligus sebagai persiapan menuju World Shoot 2017 pada Agustus mendatang di Paris.

“Alhamdulillah, dengan persiapan yang belum maksimal 100% dengan mengingat kondisi di tanah air berbeda dengan kondisi di Estonia, saya bisa mengatasi suhu ekstrem tersebut walaupun tak sedikit memerlukan perjuangan baik mental dan tenaga, supaya bisa menyelesaikan stage per stage dengan maksimal. Stage demi stage tak begitu sulit, terdiri dari short course, medium course dan long course, tapi memang mental kuat yang sangat dibutuhkan,” kata Sonny setibanya di tanah air pada Selasa (28/2/2017).

“Kami harus memikirkan strategi agar dapat berkompetisi dengan para petembak dari kawasan Eropa yang memang berperawakan tinggi besar dan menghadapi cuaca yang berbeda dengan di tanah air,” tambahnya.

Sonny juga menyatakan berterima kasih kepada pelatih revolver senior asal Swedia, Olle Lindskog, yang mana lewat bimbingannya hingga bisa mencapai hasil seperti ini meski dengan persiapan yang minim.

“Berkat doa dan dukungan dari kesatuan Resimen I Gegana Brimob Polri di mana saya bertugas, PB Perbakin, Community 300 SC, pihak PINDAD sebagai sponsor, juga keluarga dan semua teman-teman yang selama ini telah meberikan waktu dan saran untuk berdiskusi demi kelancaran pertandingan ini. Terima kasih untuk itu semua,” ucapnya.

Hampir seluruh peserta, terutama teman-teman dari TPSC (Tallinn Practical Shhoting Club) selaku Event Organizer sangat memberikan apresiasi yang mendalam kepada Sonny dan tim ofisial yang sudah terbang ke Estonia dan mengikuti kompetisi Battlefield 2017.

Meskipun dilaksanakan dalam kondisi cuaca yang ekstrem namun pertandingan ini diwarnai suasana penuh persahabatan. Seluruh peserta mengapresiasi keberhasilan penyelenggara terutama Dmitri Udras dan Pavel selaku match director dan range master dari TPSC Estonia.

Mereka juga menggelar pertandingan bergensi Balltic Storm (40 Stage dan 700 peluru) sejajar dengan Extreme Euro Open dan Euro championship yang juga akan diikuti tim petembak revolver Indonesia sebagai persiapan akhiir sebelum turun dalam kejuaraan World Shoot di Paris bulan Agustus tahun ini.


Satgas 115 Bakorkamla KKP Jalin Kerjasama Dengan Pustekbang Lapan


Guna meningkatkan pengamanan hasil sumber daya laut Indonesia dari praktek illegal fishing, maka Satuan Tugas 115 dibawah koordinasi Bakorkamla RI, melakukan kunjungan ke Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Rumpin, Bogor, Kamis,(26/01). Kunjungan ini dilaksanakan guna jajaki pemanfaatan teknologi Lapan Surveillance UAV (LSU) dan Lapan Surveillance Aircraft (LSA).

Satgas 115 yang merupakan besutan dari Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti ini bertugas memberantas aksi illegal fishing pada Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) wilayah perairan Indonesia.

Selesai mempresentasikan program Maritim Surveillance System (MSS) melalui pengembangan dan implementasi Lapan Surveillance UAV (LSU) dan Lapan Surveillance Aircraft (LSA), Kapustekbang LAPAN, Gunawan Prabowo menyampaikan dukungannya terhadap misi Satgas 115. Beliau juga berharap kompetensi Surveillance Aircraft Pustekbang LAPAN dapat dilibatkan dalam misi-misi operasi Satgas 115 di lapangan.

Bak gayung bersambut, Direktur Operasional Satgas 115, Laksamana Pertama Dri Suatmaji juga sangat mengapresiasi teknologi Maritime Surveillance System yang dikembangkan oleh Pustekbang LAPAN. Beliau berharap Pustekbang LAPAN dapat segera mendukung operasi Satgas 115 bersinergi dengan semua Puskodal Stakeholder yang ada, seperti Puskodal Bakamla, Puskodal TNI AL, Puskodal Ditjen Hubla Kemenhub, Puskodal Ditjen PSDKP KKP, dan Puskodal TNI AU dalam operasi pengawasan terhadap illegal fishing dibawah koordinasi Bakorkamla RI.

Melalui sinergitas dan kerjasama dari semua stakeholder terkait, diharapkan dapat menyatukan semua potensi kelembagaan yang ada, agar dapat mewujudkan langkah-langkah yang cepat dan efisien dalam melakukan serangkaian operasi Satgas 115 dalam penanganan illegal fishing.

Adapun wilayah perairan Indonesia yang rawan illegal fishing meliputi perairan Sulawesi Utara yang berbatasan dengan Philipina, perairan laut Natuna, perbatasan perairan Riau dengan Singapura dan perairan laut Arafuru yang berbatasan dengan Australia.


Kedepannya Puskodal Bakorkamla RI berharap dapat membangun Pusat Informasi Keamanan Maritim Nasional (National Maritime Security Information Center) yang mampu mendukung upaya menurunkan tingkat tindakan pelanggaran kedaulatan dan hukum di perairan laut Indonesia.

4 Negara yang Membantu Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia


Kemerdekaan bangsa Indonesia tidak terjadi begitu saja. Setelah berabad-abad dijajah oleh Belanda dan bertahun-tahun dijajah Jepang, negara berlambang Garuda ini akhirnya mendeklarasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Sejak itu, negara kita masih terus berusaha untuk maju dan bersaing dengan negara yang lain.

Hingga kini, negara Indonesia mendapat status sebagai negara berkembang. Meski mengalami pasang surut, negara kita mempunyai stabilitas ekonomi yang cukup baik. Kita juga dikenal sebagai negara yang menerapkan sistem demokrasi secara adil dan merata. Kemerdekaan bangsa kita tidak luput dari bantuan beberapa negara yang membantu kita mempertahankan kemerdekaan. Inilah negara yang sukses membantu mempertahankan kemerdekaan Indonesia:

1. Mesir, Negara yang Pertama Kali Mengakui Kedaulatan Indonesia


Mesir adalah salah satu negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia untuk pertama kalinya. Tidak hanya itu, Mesir juga berbaik hati dengan menggalang dukungan dari Liga Arab agar menerima kedaulatan Republik Indonesia di mata hukum internasional. Pada 22 Maret 1946, Mesir secara de facto mengakui kemerdekaan Indonesia.

Mesir kemudian meyakinkan beberapa negara seperti Suriah, Irak, Qatar dan Arab Saudi untuk mendukung kemerdekaan negara kita. Pada 10 Juni 1947, secara de jure, Mesir mengakui kedaulatan Bangsa Indonesia dengan menunjuk H.M Rasjidi sebagai kuasa usaha RI dan membuka kedutaan besar RI di Kairo. Sejak itu, kerja sama antara Mesir dengan Indonesia berlanjut hingga sekarang.

2. India, Mengumpulkan Dukungan untuk Indonesia


Berdasarkan persamaan nasib dan latar belakang, India merasa harus membantu Indonesia. India aktif mendukung Indonesia di forum-forum PBB. RI pun diuntungkan dengan persahabatan Hatta dengan Perdana Menteri Hawaharlal Nehru, yang juga merupakan pemimpin Partai Kongres Nasional India.

Hubungan India-Indonesiapun semakin erat ketika India mengalami bencana kelaparan. Indonesia mengirimkan bantuan berupa 500.000 ton padi yang dikirimkan ke India pada 20 Agustus 1946. Sejak itu, hubungan Indonesia-India sangat harmonis dan tidak memiliki konflik besar hingga sekarang.

3. Vatikan


Meski memiliki keyakinan berbeda dengan Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim, namun Vatikan turut andil dalam membantu kemerdekaan Indonesia. Bahkan, kerja sama Indonesia dan Vatikan telah terbentuk sejak Indonesia masih berupa kerajaan nusantara, belum menjadi Republik Indonesia. Melalui lobi Romo Mgr. Soegijapranata, Vatikan mengerti bahwa secara faktual, Indonesia tidak boleh terus-menerus berada di bawah jajahan Belanda.

Sebulan setelah Mesir mengakui kedaulatan Indonesia, Vatikan, pada 6 Juli 1947 ikut menunjuk Georges Marie Joseph, sebagai penghubung antara RI dan Vatikan. Vatikan menjadi entitas politik pertama di Eropa yang mengakui kedaulatan Indonesia. Secara De Jure, Vatikan berhubungan dengan Indonesia sejak 1950, ketika Apolistic Internenciatur berdiri di Jakarta.

4. Australia


Meskipun akhir-akhir ini hubungan antara Australia-Indonesia sering mengalami perselisihan, sebenarnya kita pernah memiliki hubungan yang sangat baik dengan Australia. Ketika Agresi Militer Belanda I terjadi, Australia bersama India mengajukan resolusi pada 31 Juli 1947 di Dewan Keamanan PBB. Inti dari resolusi itu adalah memaksa Belanda untuk menghentikan serangan dalam bentuk apapun ke Indonesia.

Australia juga masuk sebagai anggota Komisi Tiga Negara untuk menengahi gencatan senjata antara Indonesia dengan Belanda pada 25 Agustus 1947. Diplomat Australia, Thomas Critchley juga menjadi sahabat baik dari wakil presiden Mohammad Hatta pasca hasil perundingan Komisi Tiga negara yang menguntungkan Indonesia. Sayangnya, beberapa konflik membuat hubungan Indonesia dan Australia tidak semesra dulu.

Itu tadi beberapa negara yang pernah membantu Indonesia agar mendapatkan kedaulatan di mata dunia. Kemerdekaan yang kita rasakan sekarang tidak luput dari perjuangan kaum muda Indonesia dan juga bantuan beberapa negara di atas. Tentu jasa-jasa dan bantuan mereka tidak layak kita lupakan.


Sebagian hubungan dengan negara di atas berjalan baik, namun sayangnya, ada hubungan baik yang tidak bisa kita jaga dengan baik. Semoga saja pemerintah mendapat solusi untuk memperbaiki hubungan kita dengan negara tetangga. Karena hidup berdampingan dalam perdamaian tentu jauh lebih indah.

Kisah-Kisah Jenaka Sang Proklamator Kemerdekaan


Sebagai seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, Soekarno dikenal sebagai sosok yang tegas dan berwibawa. Namun, siapa sangka, presiden pertama Indonesia itu juga humoris loh.

Banyak lelucon dan anekdot seputar kehidupan sehari-hari Sang Proklamator, seperti yang dikutip dari buku Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Misalnya saja ketika baru pertama kali menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Ketika pulang dari Jalan Pengangsaan Timur 56 menuju rumahnya, di tengah jalan ia bertemu dengan tukang sate.

Soekarno saat itu memanggil tukang sate yang tidak berbaju, dan mengeluarkan perintah pertama sebagai seorang presiden. "Sate ayam lima puluh tusuk," katanya. Setelah itu Soekarno jongkok di dekat selokan dengan menyantap sate dengan lahap.

Lain lagi ketika ia diminta mencari seorang ajudan. Sebagai presiden yang baru, Soekarno pun harus memiliki ajudan untuk memenuhi kebutuhannya. Ditunjuklah seorang pejuang preman, dan olehnya si ajudan diberi pangkat letnan. Hal itu tentu saja bikin staf istana bingung karena si ajudan baru itu bukan berasal dari kalangan militer.

Tiba-tiba seorang penasihatnya berkata, "Ini tidak mungkin. Ratu Yuliana dari Negeri Belanda yang memerintah 10 juta manusia mempunyai ajudan seorang kolonel. Bagaimana pandangan orang nanti melihat Anda, Presiden Indonesia yang memerintah 70 juta orang yang hanya punya ajudan berpangkat letnan."

Soekarno yang menyetujui perkataan penasihatnya akhirnya memanggil kembali si ajudan. "Sudah berapa lama engkau jadi letnan?" tanya Presiden. "Satu setengah jam," jawab ajudan. "Nah negara kita ini negara yang baru lahir dan tumbuh cepat. Mulai sore ini, kamu jadi mayor," kata Soekarno santai.

HUMORIS PADA BAWAHAN

Meski di kalangan teman dan para bawahannya Soekarno dikenal sebagai sosok yang serius. Namun ia tetaplah manusia biasa yang suka bercanda layaknya orang biasa.

Suatu ketika dalam resepsi di Istana Merdeka, seorang pejabat berbisik pada Bung Karno supaya mengambil sapu tangan kecil warna putih yang dipakai di saku jas Menteri Keuangan Jusuf Muda. Sang pembisik itu berkata bahwa sapu tangan tersebut bukan sapu tangan asli.

Karena rasa penasarannya, Soekarno pun mendekati Jusuf dan berusaha mengambil sapu tangan itu. Setelah dekat, benar saja, Soekarno segera menyerobot sapu tangan tersebut. Jusuf yang terperanjat langsung berusaha mempertahankannya.


Tapi terlambat, sapu tangan sudah di tangan Presiden dan Jusuf tidak berani berbuat apa-apa. Ketika ia membuka kain putih kecil itu, semua orang yang ada di ruangan tertawa terbahak. Karena yang diambil oleh Soekarno adalah sebuah celana dalam untuk boneka.

Indonesia Berhutang Pada Sutami, Menteri Termiskin yang Jasanya Tak Terbantahkan


Ketika kita sudah muak dengan berita miring para menteri di pemerintahan yang hobi melakukan penyelewengan jabatan, tindak pidana korupsi, pencucian uang, serta hal-hal keji lainnya yang menyengsarakan rakyat, kita harus tetap bersyukur, karena ada saja menteri di setiap kabinet pemerintahan yang bekerja secara bersih, jujur, dan terus melakukan tugasnya dengan baik.

Mundur beberapa puluh tahun ke belakang, Indonesia pernah punya seorang menteri yang bukan hanya jujur dan bersih namun juga rela hidup dalam kesederhanaan untuk ikut merasakan langsung seperti apa sulitnya hidup sebagai rakyat biasa. Nama menteri tersebut adalah Insinyur Sutami.

SATU-SATUNYA MENTERI DI KABINET SOEHARTO YANG DIAMBIL DARI KABINET SOEKARNO

Pak Sutami ketika meninjau salah satu proyek pembangunan

Beliau lahir di Surakarta, Jawa Tengah, pada tanggal 19 Oktober 1928. Ia adalah insinyur sipil yang pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum pada kabinet Dwikora I bentukkan Soekarno. Beliau lulus dari Teknik Sipil ITB pada tahun 1956.

Ketika menteri-menteri lain yang bekerja pada Soekarno didepak atau dipecat secara tidak terhormat pada saat Presiden Soeharto berkuasa, lain cerita dengan bapak Sutami. Ia diangkat oleh presiden selanjutnya dan tetap menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum.

Ia adalah Menteri Pekerjaan Umum dengan masa jabatan terlama, yakni 12 tahun pada 6 kabinet. Terhitung sejak menjabat sebagai Menteri Koordinator Kompartimen Pekerjaan Umum dan Tenaga pada Kabinet Dwikora II (22 Februari 1966).

MENTERI TERMISKIN DAN SALAH SATU YANG PALING BERSIH YANG PERNAH INDONESIA MILIKI

Menteri Sutami bersama Gubernur DKI Jakarta ALi Sadikin

Beliau bukan orang partai. Ia murni orang sipil. Semasa hidupnya, ia menderita penyakit yang behubungan dengan malnutrisi atau kekurangan gizi. Rumah kediamannya di Solo juga pernah dicabut aliran listriknya karena tak mampu membayar iuran listrik.

Pada saat beliau meninjau daerah terpencil, alih-alih menggunakan kendaraan yang bisa saja disediakan apabila diminta, beliau lebih memilih untuk berjalan kaki. Tak tanggun-tanggung, dari penuturan wartawan yang saat itu mengeluh ketika mengikutinya, waktu tempuh perjalanan dengan berjalan kaki menuju tempat yang dituju bisa mencapai enam jam!

Selama beliau menjabat, tak ada desas-desus negatif mengenai dirinya. Tak ada kasus korupsi, pun tak ada uang negara yang raib karena ulah perbuatannya. Ia begitu lurus menjalankan amanat rakyat.

PRESTASI BELIAU YANG GILANG-GEMILANG PADA MASANYA

Pada tahun 1964, ketika umurnya baru menginjak usia 36 tahun, Sutami mulai ditunjuk menjadi menteri yang mengurusi penilaian konstruksi. Usia yang sangat belia bahkan bila dibandingkan dengan rata-rata usia menteri yang ada pada era sekarang.

Soekarno saat itu harus berterima kasih kepada arsitek cemerlang bernama Friedrich Silaban. Ialah yang mengenalkan Sutami kepadanya. Pada saat itu bapak Friedrich sampai berani memprediksi kalau Sutami akan menjadi arsitek brilian yang mampu meneruskan kehebatan guru besar ITB, Roosseno, si Bapak Konstruksi Beton itu.
Semasa hidupnya, Pak Tami yang berperan membangun Jembatan Semanggi yang indah dan unik itu. Ia yang mempelopori teknik pre-stressed concrete yang belum banyak digunakan oleh infrastruktur lain pada zamannya. Selain itu jembatan yang berdiri di atas sungai musi alias Jembatan Ampera dan bahkan kompleks gedung MPR/DPR pun beliau yang pegang.

LEBIH MEMILIH UNTUK DIKUBURKAN BERSAMA RAKYATNYA

Prosesi pemakaman Pak Tami

Beliau meninggal di usia 52 tahun pada tanggal 13 November 1980. Sedianya, pak Harto telah memerintahkan agar jenazah beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Namun, pak Tami menolak. Sehingga keluarganya pun memakamkan jasad pak Tami di Tempat Pemakaman Umum.

Seorang “musuh” yang sering kali bersilang pendapat dengannya adalah Bapak Widjojo Nitisastro. Sutami beranggapan kalau Widjojo hanya mementingkan faktor ekonomi dalam pembangunan dan mengabaikan faktor-faktor yang lebih esensial seperti politik, sosial dan budaya. Namun, Pak Widjojo bukan orang yang pendendam. Mengetahui betapa besar jasa pak Tami kepada negeri, ia pun berinisiatif sendiri untuk setia menemani Pak Sutami di rumah sakit hingga beliau menghembuskan nafas terakhir.


Indonesia saat ini membutuhkan lebih banyak sosok menteri seperti pak Sutami. Menteri yang berprestasi dan rela hidup merakyat. Menteri yang menghindar dari kehidupan duniawi yang melenakan dan memilih hidup bersih hingga akhir hayatnya. Hingga kini namanya tetap harum dan akan selalu dikenang oleh rakyat yang merindukan sosok hebat dan sederhana seperti beliau. Selamat jalan Pak Sutami.