Tuesday, 28 February 2017

Tak Ada Celah di Langit Laut Hitam, BUK-M2 Bergabung dengan S-300 dan S-400 di Crimea


Rusia terus memperkuat gelembung anti access/area denial (A2/AD) mereka. Meski sudah menempatkan sistem rudal pesisir antikapal K-300P Bastion-P dan rudal permukaan ke udara S-300 dan S-400, Rusia akan menambah dengan mengerahkan rudal BUK di Crimea untuk melindungi kapal permukaan dan kapal selam mereka terhadap drone dan rudal jelajah. Hal ini jelas menjadikan Laut Hitam menjadi wilayah yang semakin sulit ditembus kapal Amerika Serikat dan NATO.

Koran Izvestia mengutip ahli militer menulis BUK yang akan bergabung dengan Bastion, S-300 dan S-400 di Crimea akan mampu mengamankan wilayah udara di atas semenanjung dan Laut Hitam.

Resimen pertahanan udara 1096, yang berbasis di Sevastopol, akan menerima batch awal rudal BUK-M2 dan selanjutnya versi yang lebih canggih yakni BUK-3MS akan dikirim selanjutnya. Resimen 1096 saat ini dipersenjatai dengan sistem rudal permukaan ke udara jarak pendek Osa.

Buk-M2 memiliki rudal baru dan radar bertahap generasi ketiga untuk kontrol penembakan. Radar ini dapat melacak 24 target dan menyerang empat target secara bersamaan.

BUK-M2 mampu menembak jatuh pesawat dan drone pada jarak 3-45 kilometer dan rudal jelajah pada jarak hingga 20 km dan bahkan mampu menembak pesawat yang terbang pada ketinggian 25 km.

Sementara sistem rudal Osa memiliki jangkauan horisontal maksimum 10 kilometer dan serangan vertikal lebih dari 5 kilometer.

Resimen 51 Angkatan Udara Rusia juga dikerahkan di Crimea, dipersenjatai dengan S-300 dan S-400 dan Pantsir.

“Resimen pertahanan udara dari divisi 51 mengamankan infrastruktur strategis di Crimea,” ahli militer independen Anto Lavrov mengatakan kepada Koran Izvestia Senin 27 Februari 2017.


“Resimen 1096 akan melindungi fasilitas darat dan kapal  dari  Armada Laut Hitam. Bersama-sama, unit-unit ini dapat memberikan pertahanan berlapis di Crimea dan seluruh Laut Hitam dari serangan lawan berteknologi tinggi,” katanya.

Frigat Canggih Rusia Bergerak ke Mediterania


Kementerian pertahanan Rusia memastikan bahwa kapal perang canggih mereka telah dikirim ke Laut Mediterania. Frigat canggih milik Armada Laut Hitam Rusia Admiral Grigorovich telah berangkat untuk melakukan perjalanan jarak jauh tersebut.

“Kapal tempur dipimpin oleh Captain 3rd Rank Anatoly akan beroperasi dalam satuan tugas permanen Angkatan Laut Rusia di Laut Mediterania,” kata Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataanya Senin 27 Februari 2017.

Sebuah sumber di lingkaran pertahanan Crimea sebelumnya mengatakan kepada Kantor Berita Rusia TASS tentang pengiriman kapal fregat ke Laut Mediterania.


Sumber itu mengatakan kapal tersebut akan bergabung kelompok permanen Angkatan Laut Rusia di Mediterania untuk jangka panjang. Frigate telah meninggalkan Sevastopol pada hari Senin.

2 Jet Siluman F-35 Debut di Australia


Dua jet tempur F-35 milik Australia pada Senin 27 Februari 2017 sekitar pukul 17.00 sore, mendarat di pangkalan udara Amberley Air Force Base di luar Brisbane. Ini adalah kedatangan pertama jet tempur siluman itu ke Australia.

Kedua jet itu ditempatkan di pangkalan Luke Air Force Base, dimana empat pilot RAAF dilatih untuk menerbangkan pesawat canggih ini. Kehadiran jet ini di Australia terwujud 15 tahun setelah pengumuman Pemerintah Federal bahwa Australia akan berpartisipasi dalam “fase pengembangan sistem dan demonstrasi” dari program Lockheed Martin Joint Strike Fighter yang dipimpin AS.

Akhir pekan ini F-35 tersebut akan dipamerkan ke publik dalam pameran Avalon Air Show di Victoria. Perdana Menteri Malcolm Turnbull dan Menteri Pertahanan Marise Payne diperkirakan hadir.

Awal bulan ini Menteri Payne kepada ABC menjelaskan kedatangan pesawat tempur ini akan bisa mengirim pesan penting bagi mereka yang mengeritiknya.

“Saya pikir ini langkah penting dan saya kira (pameran di) Avalon adalah saat yang tepat untuk melakukannya,” kata Menteri Payne yang juga seorang senator.

“Saya tahu Angkatan Udara sangat senang mendapat kesempatan ini. Saya harap ada peluang bagi mereka yang selama ini telah mengikuti cerita ini benar-benar bisa melihatnya di benua kita sendiri,” katanya.


Pemerintah Federal mempersiapkan dana hingga 17 miliar dolar AS (setara Rp 170 triliun) untuk mendatangkan 72 pesawat F-35, yang diharapkan akan dikirim ke Australia pada 2018 dan mulai diterjunkan pada 2020.

China Butuh 5-6 Kapal Induk


China sedang membangun kapal induk ketiga yang dipastikan akan bergaya Amerika. Kapal induk ini akan digunakan untuk membentengi Laut China Selatan yang diklaim Beijing dan menjadi kekuatan penting untuk mendominasi Samudera Hindia. Ahli China mengatakan Beijing membutuhkan antara 5-6 kapal induk.

Kapal induk kedua dibangun dengan model sama seperti Liaoning, kapal induk yang dibeli dari Ukraina dan dibangun era Soviet. Kapal ini akan menggunakan ski jump dengan penambahan sejumlah teknologi baru dan direncanakan akan masuk ke layanan pada 2020.

Sedangkan kapal induk ketiga, sebagamana dilaporkan Global Times Senin 27 Februari 2017 mulai dibangun di Shanghai dan menggunakan model Amerika Serikat yang menggunakan sistem peluncur catapult.

Berdasarkan informasi yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan China, kapal induk kedua yang dikenal sebagai Type 001A sedang dibangun di timur laut pelabuhan Dalian. Kapal ini diperkirakan akan memiliki bobot 50.000 ton.

Global Times mengutip Li Jie, seorang ahli militer angkatan laut mengatakan China akan menerapkan teknoloi peluncuran ketapel pada kapal induk Type 002 yang sedang dibangun di Shanghai.  “Dengan kata lain, 002 sama sekali berbeda dari Liaoning (001) dan 001A, dan itu akan terlihat seperti kapal induk AS daripada satu Rusia,” tambah Li.

Sebagian besar kapal induk canggih menggunakan Electromagnetic Catapult System  (EML), untuk meluncurkan  jet tempur, namun China juga menguji ketapel uap, kata Li.

“Untuk melindungi wilayah China dan kepentingan luar negeri, China membutuhkan dua kelompok tempur kapal induk  di Samudera Pasifik Barat dan dua di Samudera Hindia. Jadi kita perlu setidaknya 5-6 kapal induk,”kata Yin Zhuo, seorang peneliti senior di PLA Navy Equipment Research Centre.

Media China telah sering menyoroti pembangunan kapal induk sebagai upaya untuk meyaingi kapal induk Amerika yang dikerahkan di Laut China Selatan.


Angkatan Laut Amerika Serikat pada Minggu mengumumkan bahwa kelompok tempur kapal induk mereka telah memulai operasi rutin di Laut China Selatan.

Untuk Cari Dana Perang, Amerika Pamerkan U-Boat di New York


Sebelum Amerika Serikat terlambat masuk ke dalam Perang Dunia I, pemerintah federal menyusun rencana untuk membiayai upaya perang besar-besaran. Sepertiga dari dana yang akan didapat dari pengenaan pajak progresif, sementara dua pertiga akan diperoleh melalui penjualan “Liberty Bonds” atau “Obligasi Liberty” kepada rakyat Amerika.

Untuk meyakinkan masyarakat mau membeli obligasi tersebut, pemerintah memulai kampanye publisitas dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Jutaan billboard, brosur dan iklan bermunculan di seluruh negeri, mendesak para patriotik Amerika untuk membuktikan pengabdian mereka ke negara dengan meminjamkan dolar mereka untuk perang.

25 Oktober 1917 adalah “Liberty Day” di New York City. Sebuah bomber tiga mesin Caproni terbang rendah di antara gedung pencakar langit, menjatuhkan bom kertas dengan pesan “A Liberty Bond in your home will keep German bombs out of your home.”


Untuk menarik perhatian sebuah kapal selam U-Boat Jerman yang berhasil ditangkap dipasang di Central Park New York. Selain itu juga ditampilkan tank Inggris.


Bangkai kapal selam terdampar itu kemudian diberi nama  “U-Buy-A-Bond” untuk menarik orang membuka dompetnya guna membeli obligasi.


Monday, 27 February 2017

Pesawat Hercules Hasil Barter Pembebasan Pilot CIA


Ternyata, ada kisah menarik di balik Indonesia memiliki pesawat Hercules. Indonesia menjadi negara pertama di luar Amerika Serikat yang mengoperasikan Hercules C-130B. Indonesia bisa memiliki pesawat Hercules gara-gara pilot CIA (Dinas Rahasia Amerika Serikat), Allen Pope, yang bergabung dengan PRRI-Permesta. Allen Pope ditembak jatuh, kemudian diadili dan divonis hukuman mati. Namun, Presiden Sukarno membebaskannya setelah istrinya bersama ibu dan saudara perempuannya, meminta pengampunan.

Pemerintah Amerika Serikat harus membayar mahal untuk menyelamatkan warga negaranya itu. Sedangkan Sukarno menang banyak dengan mengampuni Allen Pope. Dia berhasil menarik pemerintah Amerika Serikat untuk mendukung Indonesia merebut Irian Barat. Dia juga mendapatkan bantuan Amerika Serikat untuk pembangunan Jakarta By Pass (Jalan Jenderal Ahmad Yani dan Mayjen DI Panjaitan sepanjang 27 kilometer dari Cawang ke Pelabuhan Tanjung Priok). Selain itu, Indonesia juga mendapatkan pesawat Hercules.

Pada awal 1959, Jaksa Priyatna Abdurrasyid diminta Jaksa Tinggi Jakarta Yusuf Suwondo untuk memeriksa Allen Pope. Hasil pemeriksaan dijadikan dasar untuk menyidangkan Allen Pope.

“Pada suatu saat, waktu saya mengunjunginya di penjara di Yogya, dia bercerita bahwa mungkin dia akan dibebaskan berkat negosiasi pemerintah Amerika dengan Bung Karno, di mana dia akan ditukar dengan senjata untuk 20 batalyon dan 6 buah pesawat Hercules serta diizinkan kembali ke USA. Dan kenyataannya, memang Pope kemudian pulang,” kata Priyatna dalam memoarnya, Dari Cilampeni ke New York Mengikuti Hati Nurani karya Ramadhan K.H.

Menurut buku Skuadron Udara 31 Hercules Sang Penjelajah, terbitan TNI-AU, sebagaimana dilansir antaranews.com, Sukarno menemui Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy pada akhir 1959. Kennedy berterima kasih atas kesediaan Indonesia melepas Pope. Kennedy menawarkan “pengganti” Pope kepada Sukarno. Berdasarkan “keperluan” dari Panglima AU, Laksamana Madya Udara Suryadi Suryadarma, AURI memerlukan pengganti pesawat transportasi de Havilland Canada DHC-4 Caribou. Pilihan jatuh kepada Hercules C-130B, di mana Sukarno mengunjungi pabriknya, Lockheed.

Akhirnya, sepuluh Hercules C-130B (delapan C-130B kargo dan dua C-130B tanker) diterbangkan ke Indonesia oleh pilot dan awak AURI. Serah terima Hercules C-130B dari pemerintah Amerika kepada AURI dilangsungkan pada 18 Maret 1960 di Pangkalan Udara Kemayoran, Jakarta. Sejak saat itu pesawat Hercules mengudara di angkasa Republik Indonesia.


Intel Indonesia Dilatih Intel Israel


Pada awal 1965, Kolonel Nicklany, Asisten Intelijen di Polisi Militer, mengawasi pembentukan unit intelijen khusus di tubuh Polisi Militer yang diberi nama Detasemen Pelaksana Intelijen Militer (Den Pintel Pom). Tujuannya, untuk melacak jejak para anggota PKI. Unit ini dikenal paling cakap dalam tubuh angkatan bersenjata.

Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Asisten Intelijen Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) pada awal 1968, Nicklany menyampaikan kepada para petinggi Den Pintel Pom perlunya satu unit baru yang bertugas untuk menangani kontraintelijen asing, yaitu menangkap mata-mata asing yang beroperasi di Indonesia, terutama dari negara-negara komunis.

Untuk unit tersebut, Komandan Den Pintel Pom, Mayor Nuril Rachman menyiapkan 60 orang (sepuluh perwira aktif dan 50 sipil) dari Polisi Militer. Pada 16 November 1968, unit ini diresmikan bernama Satuan Khusus Pelaksana Intelijen atau Satsus Pintel, yang kemudian dipendekkan menjadi Satuan Khusus Intelijen atau Satsus Intel. Unit ini bertanggungjawab kepada Asisten Operasi Polisi Militer, dan setelah tahun 1969, kepada Nicklany sebagai Deputi II Bakin (Badan Koordinasi Intelijen Indonesia).

Menurut Nuril, unit ini akan membutuhkan biaya besar dan banyak peralatan. Nicklany yakin dapat menyediakannya setelah Ed Barbier dari CIA (Dinas Intelijen Amerika Serikat) datang ke Markas Polisi Militer.

Menurut ahli sejarah intelijen di Indonesia, Ken Conboy, hingga akhir tahun 1968, Amerika memberikan bantuan keuangan secara rahasia untuk menggaji 60 personel, kendaraan untuk pengintaian, biaya sewa rumah aman (safe house) di Jalan Jatinegara Timur Jakarta Timur, tape recorder mutakhir merek Sony TC-800, serta peralatan penyadap telepon.

Hingga tahun 1970, kendaraan pengintaian Satsus Intel terdiri dari 16 sepeda motor, 3 sedan Mercedes, 2 Toyota Corolla, 3 Volkswagen, 1 Toyota Jeep, dan 1 minibus Datsun; dengan kaca belakang dilapisi penutup, minibus ini untuk melakukan pemotretan rahasia.

Selain itu, Amerika juga memberikan pelatihan. Pada September 1969, CIA mengirim instruktur kawakannya, Richard Fortin untuk memberikan pelatihan teknik pengintaian dasar selama dua minggu. Materinya mencakup keahlian membuntuti kendaraan dengan diam-diam, melakukan penyamaran, dan menangani para agen.

MI6 & MOSSAD


Menurut Conboy, meskipun Amerika sebagai sponsor utama, bantuan juga datang dari Inggris. Pada akhir 1969, MI6 (Dinas Intelijen Luar Negeri Inggris) mengirimkan personelnya guna memberikan pelatihan bagaimana cara menangani agen. Pada November 1970, seorang warga negara Inggris, Anthony Tingle, datang untuk memberikan pelatihan selama empat minggu.

“Jika paspornya diabaikan, Tingle sebenarnya seorang brigadir Israel berusia 50 tahun dan bekerja untuk badan intelijen Israel, Mossad,” tulis Conboy.

Kendati Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, namun Nicklany bersikap pragmatis: “Kita akan mendatangkan instruktur Israel ini karena mereka yang terbaik di dunia.”

Tingle disambut baik oleh para peserta pelatihan di Cipayung, Jakarta Timur. Pusat pelatihan ini sebelumnya adalah tempat berlibur yang disita dari Ratna Sari Dewi, istri Sukarno. Selain anggota Satsus Intel, peserta yang menghadiri kelasnya adalah para perwira Angkatan Darat yang akan menjabat sebagai atase militer di luar negeri.

Tingle mengajarkan tentang nuansa penyamaran identitas, yaitu perekrutan agen dengan cara berpura-pura; ini spesialis Mossad. Dia mengajar dengan ketat dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun yang mengandung lelucon.

“Dia tak pernah tersenyum, tak pernah tertawa, dan tak pernah mau wanita,” kata salah seorang muridnya. “Dan saya belajar lebih banyak darinya dibanding dari instruktur mana pun, baik sebelum atau sesudah itu.”

Pada 1973, Mossad mengirim pelatih keduanya untuk memberikan pelatihan kontraspionase dan bagaimana menggunakan agen dalam melakukan kegiatan kontraintelijen. Peserta kelas kedua ini seluruhnya dari Satsus Intel.

Jenderal TNI Soemitro, Panglima Kopkamtib, membenarkan bahwa intelijen Indonesia bekerja sama dengan intelijen Inggris dan Israel.

“Yang saya benarkan waktu itu mengadakan hubungan dengan Israel adalah intelijen kita. Itu sehubungan dengan penumpasan PKI. Dalam hal ini Pak Sutopo Yuwono, Pak Kharis Suhud dan Nicklany. Tiga orang ini yang saya izinkan,” kata Soemitro dalam biografinya, Dari Pangdam Mulawarman Sampai Pangkopkamtib karya Ramadhan KH.

Waktu itu, Sutopo Yuwono adalah Kepala Bakin sedangkan M. Kharis Suhud menjabat Wakil Asisten I Angkatan Darat.

“Kami mengadakan hubungan dengan Mossad (Israel) dan MI6 (Inggris). Keduanya sangat peka mengenai masalah komunis,” kata Soemitro.

Satsus Intel menargetkan para diplomat dari negara-negara komunis: Uni Soviet, Cekoslowakia, Jerman Timur, Vietnam Utara, dan Korea Utara, bahkan juga negara-negara Timur Tengah.