Wednesday, 28 September 2016

12 Pesawat Tempur AS Ini Sudah Siap Perang,, Tapi Sayangnya Tak Pernah Beraksi Di Medan Tempur

Sebagai negara Adidaya, Amerika Serikat cukup serius dalam memproduksi peralatan perang. Sejak 1930, negara ini sudah bergelut dalam bidang ini, melakukan evaluasi demi evaluasi. Usaha ini menyedot banyak sumber daya baik manusia maupun bahan baku. Meski mengeluarkan banyak dana, tak jarang ada produk yang tak bisa mengudara karena terdapat kecacatan. Seperti pesawat tempur, mengeluarkan dana yang tak sedikit pesawat rancangan AS ini batal digunakan dan hanya dibiarkan begitu saja.

Berikut ini adalah 12 pesawat tempur AS yang selesai dirancang hingga tahap uji coba protoype namun tidak sampai digunakan untuk berperang. Wah apa saja ya?

1. Bell XP-59 Airacomet (1942)


Ini merupakan jet tempur pertama AS. Didesain dengan dua General Electrik 1-A turbojet oleh Frank Whittle asal Inggris. Alutsista ini pertama kali diujicoba pada Oktober 1942. Kecepatannya yang makin menurun dan platform senjata yang tidak cukup baik menyebabkan pesawat ini tidak dapat diandalkan.

2. Ryan XF2R-1 Dark Shark (1946)


Ryan adalah pengembangan dari Bell XP-59 Airacomet. Akselerasinya ditingkatkan, serta dilengkapi turboprop disamping memiliki turbojet. Pertama kali diterbangkan pada November 1946. Dapat melaju lebih dari 500 km/meter per jam. Namun melihat perang berakhir maka program pembuatan pesawat ini hanya dicukupkan sampai selesai satu protoype.

3. Lockheed XF-90 (1949)


Pesawat ini mirip punya dua Westinghouse J34 turbojet. Sempat dibuat dua prototype. Pertama kali terbang pada Juni 1949. Pesawat ini dinilai layak tempur namun sayang kalah saing dalam hal desain dengan McDonnell XF-88.

4. Convair XF2Y Sea Dart (1953)


Jet tempur ini mampu terbang di udara dan berada di atas air. Pesawat dilengkapi dengan sepasang turbojet, badan pesawat kedap air, dan sepasang ski. Pertama kali diujicoba pada April 1953. Telah dibuat sebanyak lima unit. Lalu desain diubah menjadi hanya satu mesin dan satu ski. Namun kemudian pesawat ini dinyatakan kekuatannya di bawah standar dan ada problem getaran ketika meluncur di air. Kecelakaan terjadi ketika uji coba tahun 1954. Tahun 1957 adalah penerbangan terakhirnya.

5. Convair XFY-1 pogo (1954)


Pesawat ini dites pada Agustus 1954. Terbang secara vertikal hingga ketinggian 40 kaki, turun menukik lalu meluncur lagi hingga 150 kaki sebelum benar-benar mendarat. Uji coba pada November 1954 pesawat ini diterbangkan menukik ke atas, terhenti di udara dan mendaratkan ekor terlebih dahulu di tanah. Pesawat in hanya dibuat satu prototype dan tidak dilanjutkan.

6. North American YF-107A (1956)


Ini merupakan pioner pesawat tempur yang dilengkapi dengan nuklir fighter. Dilengkapi pula dengan radar antena. Pertama kali diujicoba pada September 1956. Pesawat ini dihentikan setelah diproduksi 3 unit.

7. Vought XF8U-3 Crusader III (1958)


Vought pertama kali terbang pada Juni 1958. Namun kalah saing dengan F-4 Phantom yang memberi ruang dua kursi yang lebih baik dalam mengendalikan pesawat. Hanya dua unit pesawat yang dibuat. Pesawat ini lalu dihibahkan ke NASA.

8. Northrop YA-9 (1972)


Northrop memiliki kecepatan 449 meter per jam yang dinilai cukup lambat pada masa itu. Uji coba pertama kali dilakukan pada Mei 1972. Pesawat ini dinyatakan tidak survive.

9. Northrop F-20 Tigershark (1982)


Pesawat ini dibuat dengan tujuan ekspor. Dilebngkapi dengaan mesin tunggal GE F404, material komposit, penerbangan dapat dikontrol, dan layak tempur. Pertama kali diujicoba pada Agustus 1982. Sempat dibuat sebanyak tiga unit. Namun perubahan geopolitik pada masa itu memengaruhi penjualan.

10. General Dynamics G-16XL (1982)


Pesawat ini merupakan pengembangan dari General Dynamics F-16 Fighting Falcon. Mampu terbang lebih tinggi, muat lebih banyak bahan bakar, terbang lebih stabil dalam kecepatan tinggi. Pesawat pertama kali terbang pada 1982. Namun pesawat lainnya, F-15E dinyatakan lebih layak karena volum lebih besar, mesin double, dan didesain dua kru pesawat.

11. Northrop-McDonnell Douglas YF-23 (1990)


Dua prototype pesawat sempat dibuat untuk memperbarui seri YF-22. Pertama kali dicoba pada Agustus 1990, pesawat ini membuktikan mampu terbang lebih cepat, lebih layak, dan lebih bagus penampilannya. Namun pesawat lainnya, Raptor dinilai lebih baik dalam hal tembakan peluru kendali.

12. Boeing X-32A/B (2000)


Pesawat ini mengikuti kompetisi Joint Strike Fighter. Boeing X-32A/B pertama kali dicoba pada September 2000. Ada dua prototype yang dibuat. Pesawat lainnya yang dibuat, Lockheed X-35 dinilai lebih dapat diandalkan karena mampu mendarat dalam kondisi vertikal.

Instruktur Norinco Latih Awak Kanon Type 90/35mm Dan Radar AF902 FCS Korps Marinir


Instruktur dari Norinco, manufaktur persenjataan dari Cina, mulai hari ini melangsungkan program pelatihan pada 16 prajurit pengawak kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) Type 90/35 mm Twin Gun dan operator radar pengendali tembakan AF902 FCS (Fire Control System). Seperti telah disebutkan dalam berita terdahulu, satuan Artileri Pertahanan Udara Korps Marinir TNI AL telah mendapat pengadaan kanon PSU dual laras Type 90/35 mm, yang tak lain adalah lisensi dari kanon Oerlikon GDF buatan Rheinmetall Air Defence AG (d/h Oerlikon Contraves).

Mengutip siaran pers dari Dispen Korps Marinir, (28/9/2016), Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen TNI (Mar) R.M. Trusono S.Mn. yang diwakili Asisten Logistik Komandan Korps Marinir (Aslog Dankormar) Kolonel Marinir Suherlan secara resmi membuka Kepelatihan kanon Type 90/35 mm Twin Gun dan Radar AF 902 FCS di lapangan Trisula Menart-2 Mar Cilandak Jakarta.


Pelatihan yang diikuti 16 prajurit dari Yonarhanud-1 Mar dan Yonarhanud-2 Mar tersebut merupakan rangkaian berlanjut dari kepelatihan yang telah dilaksanakan sebelumnya guna memperdalam pengetahuan tentang teknis pengoperasian kanon Type 90/35 Twin Gun dan Radar AF 902 FCS serta peralatan pendukungnya agar siap dioperasikan oleh satuan di lingkungan Korps Marinir. Dalam paket pengadaan alutsista ini, Korps Marinir diperkuat empat pucuk kanon Type 90/35 mm beserta radar AF902, kedua sistem senjata terintegrasi ini masuk dalam alokasi belanja di MEF (Minimum Essential Force) tahap II.

Di Cina, Type 90 sudah dioperasikan secara penuh oleh satuan Arhanud AD. Kecepatan reaksi menjadi andalan senjata penangkis ini, dalam waktu hanya 6 detik, kanon mampu bereaksi pada sasaran di udara. Dengan pola kerja gas operated, kanon 35 mm/90 ini dapat melontarkan 550 proyektil per menit. Kecepatan luncur proyektilnya mencapai 1.175 meter per detik. Berapa jarak tembak efektifnya? Disebutkan bisa mencapai 3.200 – 4.000 meter.

Sementara untuk radar AF902 FCS, mobiltasnya mengusung platform towed (tarik) dan truk, dilengkapi dengan dua perangkat tracking systems, yaitu target searching radar dan electro-optical passive tracking director. Khusus untuk electro-optical passive tracking mengadopsi sistem high-resolution optical/infrared TV untuk menjejak sasaran secara pasif di kondisi cuaca cerah. Dengan kemampuan melakukan pelacakan sasaran tanpa memancarkan sinyal radar akan meningkatkan keamanan sistem hanud dari incaran rudal anti radiasi pesawat tempur lawan.

Sebagai komponen tempur yang sifatnya mobile, AF902 dapat digelar dan siap menjalankan peran tempur dalam waktu delapan menit, dan jika diperintahkan dapat meninggalkan posisi tempur untuk bergerak ke posisi lain dalam waktu kurang dari lima menit.

Kegiatan pelatihan ini akan berlangsung hingga 1 Nopember 2016 dengan materi meliputi pengenalan, pengoperasian hingga perbaikan ringan sistem meriam dan radar tersebut.

Kapal Selam Varshavyanka,, "Lubang Hitam" Marinir Rusia


Angkatan Laut Rusia memperkuat potensi tempur Armada Laut Hitam-nya dengan menghadirkan kapal selam disel-elektrik terbaru Varshavyanka (Proyek 636.6).

Empat kapal selam tipe ini telah beroperasi di Laut Hitam dan dua lainnya akan bergabung pada November mendatang.

Saat ini, mereka masih menjalani uji coba di Teluk Finlandia dan Laut Baltik. Kapal selam ini kabarnya merupakan kapal paling senyap di kelasnya. Secara tak resmi, militer NATO menyebut kapal selam ini sebagai "lubang hitam" di samudera.

Proyek 636 merupakan kapal selam disel-elektrik generasi ketiga. Mereka dikembangkan di Biro Desain Rubin, menggunakan kapal selam Paltus sebagai basisnya. Namun, sistem elektronik dan efektivitas tempur mereka dipertajam. Selain itu, kapal selam ini juga mendapat tambahan sistem radio-elektronik dan hidroakustik terbaru.

Kapal selam ini tergolong kecil, dengan panjang 74 meter dan lebar 10 meter, serta bobot tak lebih dari empat ribu ton. Kedalaman desain tekanan lambung ialah 240 meter dan kedalaman operasi maksimalnya 300 meter.

Varshavyanka dilengkapi dengan dua generator disel bertenaga 1.500 tenaga kuda, satu motor elektrik pendorong, serta satu motor elektrik ekonomi. Selain itu, kapal selam juga memiliki dua mesin disel yang stand-by dan dua set baterai elektronik. Kecepatan maksimal kapal selam mencapai 17 knot (lebih dari 30 kilometer per jam) di daratan dan hingga 20 knot dalam posisi menyelam.

Senjata utama kapal selam ini ialah rudal jelajah Kalibr. Sementara, di bagian hidungnya Varshavyanka memiliki enam tabung torpedo berukuran 533 mm. Perangkat standar amunisi terdiri dari 18 torpedo atau 24 ranjau dan rudal jelajah Kalibr-PL, yang mampu menghantam target sejauh 2.000 km.

Varshavyanka mampu mengidentifikasi kapal musuh dan target lain pada jarak maksimal, mendekati dan memantau mereka tanpa terekspos, dan jika perlu mengerahkan senjata canggih yang mereka miliki.

Tugas utama kapal selam ini ialah melindungi markas marinir dan rute laut serta menyerang kapal selam musuh dan kapal permukaan. Ia juga dapat melakukan misi pengintaian dan patroli di laut dan menghantam infrastruktur pesisir menggunakan rudal jelajah.

Dalam Forum Army 2016 yang digelar di Moskow pada awal September lalu, produsen kapal mendapat pesanan enam gelombang kapal selam untuk Armada Pasifik yang dibangun pada periode 2019-2021.

Di Pasifik, Varshavyanka akan memperkuat potensi tempur AL Rusia di Timur Jauh. Mereka mampu mengarungi perairan internasional Laut Cina Selatan dan Laut Jepang, 'dengan sunyi' memantau perkembangan terbaru wilayah tersebut.

Sebelumnya, kapal ini telah memamerkan kemampuan tempur mereka dalam aksi nyata pada Desember 2015 lalu saat operasi militer Rusia di Suriah. Kapal selam Rostov-on-Don submarine (B-237) menembakan satu putaran misil jelajah Kalibr-PL terhadap infrastruktur yang dikuasai ISIS di Provinsi Raqqa, Suriah. Itu merupakan searngan misil kapal selam Rusia pertama terhadap musuh sungguhan.

Kembangkan Kapal Induk Terbaru,, Rusia Rogoh Kocek Miliaran Dolar AS


Rusia tengah mengembangkan sebuah kapal induk pengangkut pesawat terbaru untuk Angkatan Laut yang bernilai lebih dari 5,6 miliar dolar AS atau sekitar 72 triliun rupiah dan belum memiliki tandingan yang setimpal di dunia, demikian disampaikan Panglima Armada Utara Laksamana Vladimir Korolyov pada TASS, Senin (26/9/2016).

Menurut Korolyov, kapal dengan kode Project 23000E Storm yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Negara Krylov di Sankt Peterburg ini akan membantu Angkatan Laut Rusia beroperasi denganlebih efektif.

Namun, ia menolak memaparkan lebih lanjut keterangan mengenai proyek tersebut. “Mengingat bahwa pasukan Armada Utara mengemban berbagai misi besar sejauh zona samudra, kehadiran kapal ini akan membantu kami melaksanakan tugas-tugas tersebut secara lebih efektif di masa depan,”tutur Korolyov.

Rusia Berencana Membangun Kapal Induk Pertama Pasca-Soviet, Bangkitkan Kembali Aviasi Laut Saat ini, kapal induk Rusia Laksamana Kuznetsov menjadi andalan utama dalam latihan militer yang melibatkan peluncuran pesawat dari kapal. "Namun, kita menyadari kebutuhan kompleks pengangkut pesawat skala penuh di armada Rusia, yang lebih unggul dari saingannya di dunia dari segi karakteristik.

Hal ini dibutuhkan untuk menghadapi tantangan dan ancaman baru yang terus bermunculan,"terang sang laksamana. "Jika kita bicara mengenai jenis kapal induk yang dibutuhkan armada, kita harus melihat kebutuhan untuk esok hari, bukan hari ini,"kata Korolyov.

Kepala Biro Desain Nevskoye Sergei Vlasov menyebutkan kapal induk ini menguras biaya sekitar 1,8 miliar dolar AS (sekitar 23 triliun rupiah) hingga 5,63 miliar dolar (sekitar 72 triliun rupiah) dan pengembangannya akan memakan waktu sekitar sepuluh tahun.

Pesawat pengangkut telah dimasukan dalam program pembuatan kapal hingga 2050 dan Biro Desain Nevskoye merupakan satu-satunya desainer kapal induk Rusia yang sedang melakukan persiapan untuk proyek ini.

Saatnya Indonesia Memikirkan Ulang Mimpi Armada Kapal Selam


Angkatan Laut Indonesia mungkin harus memetakan ulang rencana strategi penambahan kekuatan kapal selam. Situasi sekarang sudah berbeda dan rencana membeli 10-12 armada kapal selam dinilai tidak lagi tepat.

Hal itu disampaikan IGB. Dharma Agastia, mahasiswa pascasarjana di S. Rajaratnam School of International Studies dalam tulisannya di The Jakarta Post, Selasa 27 September 2016.
Ia melakukan penelitian tentang program modernisasi angkatan laut Indonesia, termasuk didalamnya tentang akuisisi kapal selam. Mungkinkah program kapal selam Indonesia didasarkan pada politik prestise dibandingkan penilaian strategis?” tulisnya.

Ketika Presiden Jokowi melangkah ke Istana pada tahun 2014, ia memiliki impian menghidupkan kembali warisan maritim Indonesia. Dia kemudian membangun sebuah visi poros maritim dunia (Global Maritime Fulcrum). Jokowi membayangkan Indonesia sebagai sebuah kekuatan maritim regional dan ekonomi di Asia Tenggara.

Faktor yang paling penting adalah dengan mendorong kapasitas dan kemampuan Angkatan Laut. Dengan latar belakang meningkatnya ketegangan regional khususnya di Laut China Selatan dan persaingan alutsista yang semakin kompetitif di Asia Tenggara, menurut Dharma, bagian utama dari Global Maritime Fulcrum terletak pada mampu atau tidaknya Angkatan Laut menjaga kepentingan maritim Indonesia.

Dua tahun telah berlalu sejak saat itu. Angkatan Laut sedang dalam proses modernisasi. Bekerja di bawah kerangka Minimum Essential Force (MEF) yang ditinggalkan oleh mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tertanam dalam Rencana Pertahanan Strategis.

Menurut standar MEF, Angkatan Laut direncanakan akan memiliki sekitar 154 kapal pada tahun 2024, termasuk didalamnya 10 hingga 12 kapal selam. Dalam beberapa tahun kedepan AL Indonesia diharapkan akan menerima tiga kapal selam Chang Bogo dari Daewoo Shipbuilding Korea dan ada rencana lebih lanjut untuk mendapatkan tiga kapal selam kelas Kilo dari Rusia.

Dharma yang fokus pada penelitian keamanan maritim, hubungan sipil-militer dan perang di masa depan ini mengatakan AL Indonesia memang memiliki sejarah yang panjang dalam mengoperasikan kapal selam, hal yang harus diperhatikan adalah "Waktu telah berubah sejak tahun 1950-an, ketika Indonesia bisa dibilang menjadi salah satu operator kapal selam terkuat di Asia Tenggara. Indonesia perlu mempertimbangkan perubahan dalam karakter konflik dan ancaman yang akan dihadapi," tulis mahasiswa jurusan Studi Strategis ini.

Dharma mempertanyakan apakah Angkatan Laut Indonesia benar-benar membutuhkan 10-12 kapal selam??

Jika mengingat meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan, daya tarik untuk mengoperasikan kapal selam memang sangat jelas. Kapal selam adalah senjata klasik untuk pertahanan laut dan dapat bertindak sebagai pengganda kekuatan untuk pertempuran dipermukaan.

Kapal selam berfungsi sebagai pencegah ampuh karena sifat siluman dan senjata mereka. Dalam kondisi perang, kapal selam dapat digunakan untuk mengangkut pasukan melakukan spionase. "Ini sejalan dengan ambisi Angkatan Laut menjadi green-water navy yang mampu menjaga kedaulatan maritim Indonesia".
Meski penting, namun Dharma melihat sedikitnya tiga alasan kenapa kebutuhan akan armada kapal selam ini lebih baik dipikirkan ulang.

1. Tidak begitu Ideal dengan kondisi Geografi
menurut Dharma, kapal selam sebenarnya memiliki keterbatasan dalam beroperasi, jadi menurutnya perlu mempertimbangkan keterbatasan kapal selam itu sendiri dan posisi mereka dalam gambaran yang lebih besar, seperti geografi, karakter ancaman keamanan dan ekonomi.

Pertama, ada keterbatasan mutlak geografi. Perairan Indonesia yang sempit karena terdapat banyak pulau-pulau yang berdekatan dan memiliki perairan dangkal, terutama pada selat yang berfungsi sebagai jalur perdagangan laut dan area nelayan. bersikeras beroperasi di perairan padat dapat menimbulkan resiko tabrakan, yang memiliki konsekuensi akan kehilangan prajurit dan alutsistanya. Selain itu, perairan dangkal akan memaksa kapal selam untuk muncul kepermukaan, maka ini akan menghilangkan sisi silumannya.

Hal yang juga harus diperhatikan bahwa negara-negara Asia Tenggara lainnya juga punya kapal selam dan memiliki pengalaman operasional yang relatif kecil, hal ini dapat meningkatkan kemungkinan kecelakaan.

2. Tidak sesuai ancaman yang dihadapi
Kedua, ada pertanyaan tentang utilitas. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, kapal selam dititik beratkan untuk menenggelamkan kapal perang lawan dalam pertempuran. Namun, ancaman keamanan maritim yang dihadapi Indonesia saat ini bukan dari kapal perang negara lain, melainkan berasal dari para pelaku pencurian ikan, penyelundupan dan pembajakan. Kapal selam tidak akan begitu efektif ketika melakukan operasi pengusiran dan penindakan untuk hal seperti ini. 

Melihat potensi kehilangan $20-25 juta dolar per tahun, akan lebih masuk akal dan lebih strategis untuk berinvestasi dalam meningkatkan kemampuan kapal permukaan, seperti KCR atau kapal patroli cepat. Faktanya perairan Indonesia sampai saat ini masih tetap menjadi sarang para pelaku pembajakan. Pada tahun 2015, IMB melaporkan ada 108 serangan di perairan Indonesia, angka ini merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara.

Pasukan Angkatan Laut tersebar dalam jumlah yang kecil dan kita tidak bisa menyalahkan mereka, karena mereka harus menutupi luasnya hamparan laut Indonesia. Para bajak laut beroperasi sama seperti pelaku pencurian ikan, menggunakan speed boat hingga mampu bermanuver dengan cepat. Di sinilah letak keterbatasan penggunaan kapal selam.

Dari tahun 2004 sampai hari ini, patroli bersama trilateral di Selat Malaka telah berhasil meminimalisir kasus pembajakan yang sering terjadi. Keberhasilan ini sebagian besar disebabkan oleh kehadiran angkatan laut yang berkelanjutan disana. Penggunaan Kapal selam tidak akan dapat mencapai hasil yang sama, mengingat mereka lebih nyaman ada di bawah gelombang.

3. Anggaran yang terbatas
Alasan ketiga adalah terbatasnya anggaran. Pemerintah Indonesia saat ini sedang menghadapi sejumlah pemotongan anggaran yang mempengaruhi semua aspek belanja, termasuk pertahanan. Pada tahun 2016, anggaran pertahanan mungkin dikurangi Rp2,8 triliun yang tentunya akan mempengaruhi rencana belanja alutsista kedepannya.

Penting untuk diingat bahwa biaya alutsista bukan saja tentang pembeliannya, namun juga harus memperhitungkan aspek pemeliharaan yang konstan, yang secara teknis pastinya cukup kompleks. Tanpa infrastruktur yang tepat dan keahlian teknis yang mumpuni, maka secanggih apapun Alutsistanya, ujung-ujungnya akan jadi barang rongsok. 

Sebagian besar dari anggaran akuisisi, jelas perlu untuk dibawa ke arah investasi infrastruktur pendukung yang tepat, terutama ke fasilitas galangan kapal. Meskipun kapal selam Chang Bogo yang baru telah selesai, Indonesia telah menunda kedatangannya sampai Desember karena masalah infrastruktur. Selain itu, dibutuhkan keterampilan tingkat tinggi untuk memelihara dan mengoperasikan kapal selam, artinya bahwa pemerintah akan perlu berinvestasi dalam pelatihan khusus.

Mengingat kondisi ini, mungkin kita perlu memikirkan kembali urgensi impian kapal selam kita. Meskipun kapal selam mungkin berguna dalam melawan AL musuh yang kuat. Namun dengan melihat stabilitas geopolitik di Asia Tenggara yang kondusif, sepertinya ancaman yang melibatkan kekuatan militer akan sangat kecil. Dana yang diinvestasikan untuk pengadaan kapal selam mungkin akan lebih baik digunakan dalam meningkatkan kemampuan dipermukaan untuk menanggulangi ancaman para pencuri ikan, penyelundup dan perompak.

"Just An Opinion"

Panglima TNI Imbau Jangan Ada Tindakan Provokatif di Laut China Selatan


TNI mempunyai strategi tersendiri untuk menghadapi konflik beberapa negara di wilayah Laut China Selatan. Mereka juga akan memperkuat pangkalan militer di pulau-pulau terluar, termasuk di Pulau Natuna.

Panglima TNI, Jendral Gatot Nurmantyo mengatakan, pemerintah Indonesia mempunyai dua strategi menghadapi berbagai kemungkinan terjadinya terkait konflik di Laut China Selatan.

"Kami mengimbau kepada semua pihak dan bertekat mewujudkan Laut China Selatan damai dan stabil, kemudian mengimbau semua pihak tak melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa merusak stabilitas di Laut China Selatan," kata Gatot usai berziarah ke makam Presiden RI ke empat, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Ponpes Tebuireng, Kabupaten Jombang, Selasa (27/9/2016).

Selain itu, untuk menjaga kedaulatan NKRI, lanjut Gatot, TNI akan memperkuat pangkalan militer di Pulau Natuna dan pulau-pulau terluar lainnya yang dipandang strategis.
"Pembangunan pangkalan TNI tak hanya di Natuna. Atas petunjuk Presiden (pangkalan TNI) di pulau-pulau terluar strategis, Natuna, Morotai, Biak, Merauke akan dibangun," tandasnya.

Konflik di Laut China Selatan semakin memanas setelah China mengklaim sebagian besar wilayah Laut China Selatan ke dalam teritorialnya. Klaim tersebut membuat China terlibat sengketa wilayah dengan sejumlah negara ASEAN, seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

Tuesday, 27 September 2016

Batalyon Armed-1 Kostrad Uji Tembak MLSR Astros II Mk6


Batalyon Artileri Medan (Yonarmed) 1 adalah salah satu kekuatan bantuan tempur (Banpur) Divisi Infanteri 2/Kostrad, yang memiliki Alutsista terbaru MLRS ASTROS II produksi
Avibrás Aerospacial, sebuah perusahaan manufaktur senjata militer dari negara Brazil.

Baru-baru ini Yon Armed 1 Kostrad menggelar uji tembak Alat Utama Sistem pertahanan MLRS Astros ll dan uji munisi Roket SS-09 dan SS-30 di pantai Banongan, Situbondo, Jawa Timur. Uji coba tersebut ditinjau secara langsung oleh Kepala Staf Divif 2 Kostrad Brigjen TNI Ainurrahman (20/9/2016).

Kegiatan menembak senjata ini dilaksanakan untuk menguji coba dan menguji fungsi Alutsista baru yang dimiliki oleh Yon Armed 1 Kostrad, sekaligus melatih kesiapan satuan dalam rangka menghadapi Latihan Bantuan Tempur Terpadu yang akan digelar pada bulan November mendatang. Kegiatan uji coba menembak ini diikuti oleh 102 personel prajurit yang dipimpin oleh Komandan Batalyon Armed 1, Mayor Arm Dodot Sugeng Hariadi dengan mengerahkan 6 pucuk roket MLRS Astros ll MK 6.


Mayor Dodot menjelaskan, “bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melakukan uji coba dan uji fungsi terhadap Alutsista baru yang kita miliki. Selain itu juga sebagai bentuk persiapan Yon Armed 1 Kostrad dalam menghadapi kegiatan latihan pada skala TNI,” jelasnya.

Lebih lanjut Mayor Dodot menjelaskan, “Setiap Alutsista terbaru pasti akan melalui proses uji prima, baik untuk menguji presisinya, jarak capainya, mekaniknya ataupun komponen yang ada di roket itu sendiri. Dan apabila terdapat perubahan setelah penembakan atau adanya kerusakan, akan dievaluasi dan kita laporkan ke komando atas,” tandasnya.

Roket MLRS Astros ll merupakan senjata canggih
berupa peluncur roket dengan mobilitas dan fleksibilitas tinggi, yang memiliki efek gentar terhadap musuh. Karena bisa meluncurkan beberapa roket sekaligus dengan jangkauan sasaran yang jauh dan tingkat akurasi yang tinggi. Saat ini untuk jenis munisi yang dimiliki Yon Armed 1 adalah Roket SS-09 dan SS-30 yang memiliki jangkauan 6 Km - 30 Km, dan akan dikembangkan dengan jenis munisi baru dengan jarak jangkauan hingga 150-300 km. 


Pengadaan roket MLRS Astros ll di Yon Armed 1 Kostrad ini, terkait salah satu wujud dari pembangunan MEF (Minimum Essential Force),yang saat ini sudah memasuki proses Renstra tahap 2. Pada tahap ini, Renstra lebih menitik beratkan pada pembangunan dan modernisasi Alutsista beserta teknologinya untuk membentuk kekuatan pertahanan yang memadai, guna menjadikan postur pertahanan Indonesia yang mandiri, kuat, disegani dan semakin berwibawa.