Saturday, 3 September 2016

Hyundai Menang Tender Untuk 2 Fregat Baru Angkatan Laut Filipina


Hyundai Heavy Industries terpilih sebagai pemenang tender 
fregat baru Angkatan Laut Filipina, galangan kapal Korea 
Selatan tersebut akan segera mendapatkan kontrak senilai 
15.744.571.584 Peso atau 337 juta USD untuk membangun 
2 kapal fregat Filipina.

Program akuisisi kapal fregat ini pertama kali di canangkan 
Departemen Pertahanan Filipina pada Oktober 2013 untuk 
memenuhi kebutuhan pengawasan maritim jarak jauh, 
patroli teritorial serta kemampuan penindakan di laut.

Dalam tender ini pihak Hyundai Heavy Industries 
mengajukan fregat multifungsi kelas HDF-3000 dengan 
design dasar yang sama dengan yang di gunakan untuk 
fregat kelas Incheon (FFX-1) yang di gunakan AL Korea 
Selatan.


Performa HDF-3000 yang diajukan Hyundai memiliki 
kecepatan maksimum 31 knot, jarak operasional 4500 mil 
laut pada kecepatan 18 knot. Untuk persenjataan fregat ini 
akan di lengkapi kanon 127 mm sebagai senjata utama, 2 
peluncur rudal anti permukaan, 2 peluncur torpedo masing-
masing dengan 3 tabung serta sistem pengendalian 
tembakan untuk tiap senjata.

Detail persenjataan yang diminta oleh AL Filipina pada kapal 
tersebut hingga saat ini belum di ketahui namun 
berdasarkan daftar kebutuhan pengadaan fregat yang 
di keluarkan Departemen Pertahanan Filipina di awal 2016 
di sebutkan persyaratan bahwa sistem senjata anti pesawat 
maupun anti permukaan harus tetap bisa dioperasikan 
secara efektif hingga kondisi laut / Sea-State 5. Sedangkan 
untuk persenjataan anti kapal selam harus tetap efektif 
dalam kondisi laut/Sea-State 4.


5 Unit Pesawat Angkut C-130H Ex-RAAF (AU Australia) Yang Dipesan Indonesian Akan Dikirim Akhir 2017


Menurut sumber dari Aviationweek, 15 Agustus 2016), 5 unit pesawat angkut C-130H ex-RAAF (AU Australia) yang di pesan Indonesian akan di kirim akhir 2017. Dengan pengiriman tersebut maka akan lengkap total 9 pesawat Hercules C-130H ex-RAAF yang di terima TNI-AU setelah sebelumnya sudah menerima 4 unit.

Akuisisi C-130H ex-RAAF ini bagian perjanjian antara pemerintah Indonesia dan Australia tahun 2012 yaitu 4 unit pesawat dalam bentuk hibah dan 5 unit di beli. Sejak 31 Desember 2012 pesawat pesawat tersebut sudah tidak di terbangkan lagi, karena pemerintah Australia menggatikannya dengan tipe terbarunya C-130 J.

Kontraktor untuk proses hibah adalah Qantas Defence Services Australia, dengan nilai kontrak AUD 63 juta. Setelah proses restorasi, maka sisa usia pakai C-130H hibah ini adalah sekitar 28-35 tahun dengan menghitung rata-rata penggunaan pesawat C-130 di jajaran TNI AU adalah sebanyak 900 EBH (Equivalent Baseline Hour).

Perbedaan sistem avionik pada C-130H ex-RAAF ini di bandingkan dengan C-130H yang sudah di pakai oleh TNI AU selama ini adalah sudah menggunakan semi-glass cockpit dengan layar digital untuk informasi terbang (artificial horizon dan informasi navigasi), maupun Flight Management System yang mengatur semua tugas navigasi untuk penerbangan.

Untuk akuisisi dalam mekanisme beli, TNI AU membeli sebanyak 5 unit pesawat, mencakup satu set simulator dan spare parts-nya, dengan nilai pembelian sebesar AUD 15 juta atau sekira USD 13,6 juta, dan biaya perbaikan pesawat, pemindahan simulator, perbaikan serta pemindahan spare parts dari Australia ke Indonesia sekira USD 73,8 juta, sehingga total biaya anggaran pembelian adalah hampir sebesar USD 97,5 juta. Jenis dan teknologi yang di gunakan sama dengan pesawat hibah, dengan sisa usia pakai sekira 30-35 tahun.


TNI AL Berencana Mendatangkan Kapal Pemburu Ranjau Kelas Koster Class MCM 47 Produksi SAAB Kockums


Saat ini Armada tempur TNI AL sudah banyak melaksanakan pembaharuan dari jenis Kapal Cepat Rudal, Kapal perang Light Frigate, Helikopter serta penambahannya. tapi ada satuan yang seakan terlupa karena tertutup gegap gempitanya kedatangan kapal tempur berpeluru kendali, satuan tersebut adalah Satuan Kapal Pemburu Ranjau/Penyapu Ranjau.

TNI AL mengoperasikan 2 unit kapal pemburu ranjau dan 9 unit penyapu Ranjau, untuk waktu tidak lama lagi TNI AL akan mengakuisisi 2 unit kapal pemburu ranjau menggantikan unit yang sudah ada, kandidat kuat pengganti adalah kapal pemburu ranjau kelas KOSTER CLASS MCMV 47 Buatan SAAB, Kockums, Swedia. Kapal ini tidak hanya berperan sebagai pemburu tapi juga Command And Control Platform bagi Unmaned Influence Sweep Drones atau Towing A Mechanical Sweep Mine.

Karena statusnya sebagai Multi Purpose Vessel, ada peran tambahan guna misi Anti Kapal Selam ( AKS ), Koster berisi peralatan canggih Mine sonar and Hunting sonar sistim dengan kombinasi Hull Mounted Sonar ( HMS ) dan Propelled Variable Depth Sonar yang biasa disebut Remotely Operated Vehicle Sonar ( ROV-S ), untuk sensor terdiri Underwater Positiong Sistem, Mine Disposal Sistem, Mine Disposal Vehicle, Mecanical Minesweept, Hiperbarik Chamber For Provision Mine Clearance Divers, dengan adanya Hiperbarik Chambers Kapal ini juga mendukung untuk misi penyelaman dan SAR.


Kapal di buat dari bahan Glass Reinforce Plasticsehingga mengurangi pengaruh terhadap Ranjau, termasuk di lengkapi proteksi bahaya NUBIKA. Untuk persenjataan kapal ini di lengkapi Kanon utama BOFORS 40 mm, ranjau laut dan bom laut Anti Kapal Selam.


Friday, 2 September 2016

Baterai Meledak Saat Di Isi Ulang,, Samsung Galaxy Note 7 akan di Tarik Dari Pasar ?


Setelah menunda mengirim SmartPhone andalan terbaru nya Galaxy Note 7, Samsung sudah akan menarik Ponsel ini dari pasar, Sebap nya beredar foto Galaxy Note 7 yang hangus terbakar saat mengisi baterai. (02/09/2016)

Samsung elektronik di kabarkan akan menarik SmartPhone layar lebar Note 7 menyusul gangguan pada baterai yang berpotensi terbakar. Dalam sebuah foto yang di unggah oleh pengguna Samsung Galaxy Note 7, ia menyatakan Ponsel nya terbakar saat baterai sedang di isi ulang.

Belum jelas ada kaitan nya atau tidak, Samsung langsung menunda pengiriman Ponsel jenis terbaru ini kebeberapa negara. Dalam keterangan resmi, Samsung menyatakan tengah melakukan penyelidikan dan akan segera mengumumkan hasil nya.

Sejak di Release beberapa waktu lalu permintaan Samsung Galaxy Note 7 sangat tinggi, apa lagi Ponsel pintar ini di lengkapi teknologi canggih salah satu nya pemindai retina mata. Di Indonesia, perangkat ini habis di pesan hanya dalam waktu 3 hari sejak masa Pre-Order.

Galaxy Note 7 menjadi harapan Samsung untuk meningkatkan penjualan mereka di smester kedua tahun ini setelah tahun lalu penjualan Galaxy S6 Edge mengecewakan. Samsung membandrol produk terbaru nya seharga $882 US Dollar atau setara 11 juta Rupiah.


Saham Samsung langsung terkoreksi 2,5% setelah berita ini, sekaligus setelah menyentuh rekor tertinggi pekan lalu.

Thursday, 1 September 2016

Filipina Tingkatkan Kemampuan Maritim Dengan Menempatkan Kapal Patroli Laut Di titik Sengketa Di Laut Cina Selatan


Kapal pertama dari total 10 kapal pesanan Coast Guard Filipina dari Jepang telah tiba pada 18 Agustus 2016. Kapal tipe MRRV (Multirole Reponse Vessel) ini bertujuan meningkatkan kemampuan Filipina dalam melakukan pengawasan dan penjagaan maritim maupun SDA-nya.

Kapal pertama dengan nama Tubbataha adalah tipe MRRV yang di buat oleh galangan kapal Japan Maritime United Corporation (JMUC) di Yokohama.

Coast Guard Filipina memesan 10 kapal dengan nilai kontrak sebesar 8,8 milyar Peso atau 191 juta USD. Kontrak pembelian sudah di tanda-tangani sejak 2015 dan di jadwalkan pada 2018 keseluruhan kapal (10 unit) sudah di serahkan.

Kapal MRRV ini memiliki panjang 44m, lebar 7,5m dengan tinggi benaman 4m. Menggunakan 2 mesin MTU 12V 4000 M93L bertenaga diesel, memiliki kecepatan jelajah rata-rata 15knot dengan kru sebanyak 25 orang termasuk 5 perwira.

Filipina saat ini sedang bersengketa dengan Cina di sejumlah atol dan gugusan karang di Laut Cina Selatan. Tantangan serius bagi Filipina adalah perbandingan kekuatan militer yang jauh dari setara di banding Cina.

Menurut juru bicara Coast Guard Filipina, kapal-kapal ini kemungkinan besar akan di tempatkan di pantai barat Filipina yang memiliki titik-titik sengketa dengan Cina

Di kutip dari janes.com

Antisipasi Armada Kapal Selam Korut,, Militer Korsel Pertimbangkan Untuk Membeli P-8 Poseidon


Militer Korea Selatan kemungkinan akan membeli 4 pesawat 
patroli maritim Boeing P-8 Poseidon setelah Korea Utara 
sukses melakukan uji peluncuran rudal balistik dari kapal 
selam / SLBM (Submarine-Launched Ballistic Missile) pada 
23 Agustus 2016. Demikian pernyataan seorang pejabat 
senior Korsel yang dikutip koran JoongAng Libo, 
September 2016.

Menurut pejabat tersebut, Korea Utara sedang menyiapkan 
cara strategis untuk menyerang Korea Selatan 
menggunakan armada kapal selam mereka sebagai sarana 
peluncur rudal balistik.

Di sebutkan pula bahwa militer Korea Selatan sedang 
mempertimbangkan untuk membeli pesawat patroli maritim 
terbaru untuk bisa melakukan deteksi dini pergerakan kapal 
selam Korea Utara guna menghindari serangan dadakan.

Hal ini di sebabkan pihak militer Korsel menganggap 
armada pesawat patroli maritim yang ada saat ini sudah 
tidak memadai. Saat ini Angkatan Laut Korea Selatan 
mengoperasikan 16 pesawat patroli maritim P-3C/CK Orion 
buatan Lockheed Martin.

Korea Selatan harus bisa mendeteksi kapal selam musuh 
yang muncul di perairan teritorial mereka. Dan untuk itu 
di butuhkan pesawat anti kapal selam yang memiliki 
jangkauan pemantauan luas dan berkecepatan 
tinggi. menurut pejabat militer Korea Selatan, P-8 Poseidon 
adalah pesawat yang memiliki kemampuan yang mereka 
butuhkan.


SAAB Swedia dan PT Pindad Indonesia Sepakati Perjanjian Pengembangan Bersama Sistem Pertahanan Udara RBS-70


SAAB Swedia dan PT Pindad Indonesia menanda tangani perjanjian pemasaran sistem pertahanan udara dan perpanjangan usia operasional rudal anti pesawat RBS-70 yang di operasikan TNI.

SAAB yang berbasis di Stockholm Swedia mengeluarkan 
pernyataan hari Kamis 1 September 2016 bahwa perjanjian tersebut termasuk alih teknologi (Transfer of Technology) dari SAAB untuk Pindad dalam kemampuan melakukan upgrade sistem pertahanan udara jarak dekat RBS-70 yang di akuisisi TNI sejak tahun 80-an.

Fokus pertama adalah untuk perpanjangan usia operasional rudal dan peluncur RBS-70 yang memiliki jangkauan 5000 s/d 6000 meter dan ketinggian 3000 meter.

Peter Carlqvist, kepala SAAB Indonesia menyebutkan bahwa pernjanjian kemitraan ini memberikan kesempatan yang baik untuk kedua pihak dalam kerjasama di level praktis. Selain itu itu SAAB dan Pindad bersama sama dapat menghadapi tantangan berikutnya yaitu target untuk memenangkan tender pengadaan sistem pertahanan udara berbasis darat dalam jumlah besar di masa datang.

Menurutnya Pindad adalah mitra yang tepat untuk SAAB. Karena Pindad adalah perusahaan pertahanan terbesar di Indonesia dan merupakan supplier utama TNI. Kemitraan yang di bentuk akan memudahkan proses alih teknologi di berbagai bidang serta kerjasama industri.

Produk sistem pertahanan udara berbasis darat milik SAAB di sebut mampu melakukan integrasi teknologi terkini, di lengkapi sistem pendukung pemeliharaan dengan tingkat kesuksesan tinggi serta masa operasional yang panjang hingga 30 tahun. Hal tersebut untuk memastikan konsumen mendapat nilai tambah maksimal dalam hal perbandingan biaya terhadap performa, fleksibilitas taktis, biaya operasional, tingkat kesiapan serta biaya life-cycle.

Melalui pernjanjian dengan Pindad ini SAAB akan mensuplai secara penuh sistem pertahanan udara berbasis darat dengan teknologi terkini.

Perjanjian ini juga memenuhi salah satu persyaratan jual beli/imbal beli alutsista yang digariskan kemenhan/pemerintah yaitu kandungan lokal serta alih-teknologi.