Monday, 2 January 2017

Jet Tempur Suriah Bombardir Wilayah Dekat Damaskus


Pemberontak Suriah mengatakan, rezim Bashar al-Assad masih kerap melakukan serangan di tengah gencatan senjata. Serangan terbaru menurut pemberontak, dilakukan oleh jet tempur Suriah di sebuah wilayah di dekat Damaskus.

"Jet tempur pemerintah Suriah kembali melakukan serangan terhadap lembah yang dikuasai pemberontak di dekat Damaskus pada hari Minggu, setelah hampir 24 jam tanpa serangan udara," kata seorang pejabat pemberontak.

"Serangan menghantam wilayah Wadi Barada, di mana pasukan pemerintah dan sekutu mereka melancarkan operasi lebih dari seminggu yang lalu, "sambungnya, seperti dilansir Reuters pada Senin (2/1).

Media pemerintah dan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan ratusan orang telah meninggalkan Wadi Barada dalam beberapa hari terakhir. Mereka mengungsi ke wilayah yang dikuasai oleh pemerintah Suriah.

Pemberontak sendiri pada Sabtu telah memperingatkan akan menghentikan gencatan senjata jika sisi pemerintah terus melakukan pelanggaran. Pemberontak juga meminta Rusia, yang mendukung al-Assad, untuk mendesak Damaskus menghentikan serangan udara pada Sabtu malam, jika tidak mereka akan menghentikan gencatan senjata.

Pemerintah Suriah akhirnya menghentikan serangan udara pada Sabtu malam. Namun, pada Minggu siang jet-jet tempur pemerintah Suriah kembali melakukan serangan udara.

Dengan adanya serangan baru ini belum jelas bagaimana sikap pemberontak Suriah. Sedari awal gencatan senjata di Suriah memang sangat rapuh, dengan masih adanya perbedaan pandangan antara pemerintah dan pemberontak.


Pemerintah Suriah menyatakan gencatan senjata tidak berlaku bagi ISIS, al-Nusra dan kelompok lainnya yang memiliki hubungan dengan dua kelompok itu. Sedangan pemberontak menyebut gencatan senjata itu tidak berlaku hanya bagi ISIS.

Turki dan Rusia Bombardir Basis ISIS di Pinggiran Suriah


Militer Turki menuturkan, mereka kembali melakukan serangan terhadap basis ISIS yang berada di kota al-Bab yang berada di perbatasan Suriah dan Turki. Militer Turki juga menyatakan, jet tempur Rusia turut melakukan serangan di lokasi yang sama.

Ankara menyatakan, dalam serangan tersebut puluhan anggota ISIS tewas, dan banyak diantara mereka yang cidera. Sejumlah kendaraan milik ISIS juga turut hancur dalam serangan tersebut.

"Jet tempur dan artileri Turki telah menghantam basis ISIS Suriah, menewaskan 22 anggota kelompok itu, sementara pesawat Rusia memukul ISIS dekat al-Bab," kata militer Turki dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Reuters pada Senin (2/1).

"Dalam operasi militer terbaru yang dilakukan selama 24 jam terakhir dalam mendukung pemberontak di Suriah utara, jet tempur Suriah memukul posisi ISIS di desak Dayr Kak, yang berjarak 8 Km di barat daya dari al-Bab," sambungnya.


Operasi militer Turki, yang dijuluki "Euphrates Shield", diluncurkan empat bulan lalu untuk mengusir ISIS dari wilayah perbatasan Turki dan Suriah, dan dalam beberapa pekan terakhir pasukan telah mengepung kota al-Bab.

Mengapa Rencana Pembelian Helikopter Chinook Diganti Dengan AgustaWestland 101


Komisi I DPR ingin mengetahui lebih jelas tentang alasan TNI Angkatan Udara (AU) membeli helikopter angkut, AgustaWestland 101. Pihaknya juga ingin tahu apakah PT Dirgantara Indonesia (PT DI) bisa membuat helikopter sejenis atau tidak.

“Yang saat ini, difungsikan sebagai heli angkut, kami juga ingin mengetahui lebih lanjut, diperbandingkan dengan heli apa, apakah PT DI belum mampu (membuat),” kata anggota Komisi I DPR, Bobby Adhityo Rizaldi, kepada wartawan, Senin (2/1).

Beberapa waktu lalu Presiden Jokowi pernah menolak pembelian heli angkut VVIP AW 101 buatan Inggris dan Italia seharga 55 juta dollar Amerika Serikat atau setara Rp 761,2 miliar per unit itu. Alasannya, Jokowi menilai pengadaan heli yang ketika itu untuk VVIP terlampau mahal saat keuangan negara dalam kondisi sulit.

Bobby mengatakan, pada saat itu, heli VVIP AgustaWestland fungsi 101 itu diperbandingkan dengan EC725 Cougar buatan PT DI, dimana komponen lokalnya lebih banyak, sehingga sesuai UU Industri Pertahanan 2012, pembelian heli VVIP AgustaWestland 101 tidak memenuhi syarat.

Terlebih, lanjutnya, untuk membeli helikopter angkut, informasinya sebenarnya TNI AU berencana membeli helikopter Chinook buatan Amerika Serikat. “Memang, informasi sebelumnya, rencana heli angkut ini memang impor, yaitu Chinook,” pungkasnya.

TNI: Medsos Jadi Medan Pertempuran Untuk Capai Tujuan


Markas Besar Tentara Nasional Indonesia menilai, saat ini media sosial (medsos) menjadi medan pertempuran untuk mencapai tujuan. Hal itu disebabkan karena medsos merupakan media yang sangat efektif, mudah, murah, cepat dan cakupannya sangat luas.

“Selain informasi penting, ternyata lebih banyak ditemukan berita-berita bohong (hoax) yang berisi fitnah, adu domba, provokasi dan berita-berita lain yang merugikan,” kata Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Wuryanto, Minggu (1/1/2017). Oleh karenanya, Puspen TNI selalu mengikuti dan memonitor berita/informasi yang berkembang di medsos. Apalagi, saat ini medsos merupakan sarana komunikasi yang paling efektif dalam pembentukan opini publik.

“Penyebaran pesannya hampir tidak dapat dibendung. Saat ini sekitar 130 juta-an penduduk Indonesia termasuk prajurit TNI memanfaatkannya,” ujar Wuryanto.

Untuk itu, dia berharap semua komponen masyarakat menyikapi medsos dengan pembelajaran, kedewasaan dan penuh kehati-hatian. Hal itu untuk menyikapi semakin masifnya berita-berita hoax yang dapat menyebabkan perpecahan, membahayakan persatuan dan kesatuan, kebhinneka tunggal ikaan dan munculnya radikalisme.

“Harus ada edukasi kepada masyarakat dalam menyikapi berita di medsos dan harus cek kepada yang berwenang. Selain itu, jangan mudah untuk menyebarkan kembali berita-berita tersebut,” tandasnya. 

Kapuspen TNI juga berharap dilakukan kanalisasi. Yaitu dengan memberikan penyadaran dan pendewasaan kepada pengguna medsos. “Hal tersebut agar dapat menumbuhkan kesadaran, sikap kritis dan cerdas seluruh warga masyarakat. Sehingga, dapat memilah dan memilih berita yang positif, bermanfaat sesuai dengan keinginan,” tegasnya.

Menurutnya, masyarakat harus menguasai teknologi informasi dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan bangsa. Masyarakat juga diminta untuk menggunakan teknologi informasi dengan tujuan yang jelas. “Jangan sampai dikalahkan teknologi, tetapi jadilah tuan atas teknologi,” tukasnya.

Sunday, 1 January 2017

5 Pesawat Paling Berbahaya di Hanggar Rusia

Ketika datang ke kekuatan udara, bukan rahasia bahwa Amerika Serikat dan Barat telah sering ditempatkan lebih unggul di atas Rusia.

Ketika Perang Dunia II, Amerika Serikat dan Inggris bersekutu dengan Rusia. Sementara Rusia memasok banyak tenaga kerja yang pada akhirnya mengalahkan Nazi Jerman, Amerika Serikat dan Inggris yang memimpin kampanye pengeboman strategis terhadap Jerman.

Kecenderungan ini terus berlangsung selama Perang Dingin, ketika Pakta Warsawa secara numerik unggul dibanding NATO tetapi dalam hal teknologi, termasuk dalam hal pesawat, NATO masih ada di atas angin.

Dan bahkan hari ini, Angkatan Udara Rusia belum mampu memasukkan jet tempur generasi kelima, Amerika sudah bertahun-tahun menerbangkan siluman F-22 Raptor. Di tengah kritikan tajam, F-35 Joint Strike Fighter (JSF) juga mulai masuk operasional. Sementara Rusia masih berkutat dengan rencana untuk memasukkan T-50 PAKFA ke produksi dan operasional.

Fakta bahwa Rusia belum mencapai paritas dengan angkatan udara paling maju di dunia suka atau tidak suka harus diakui. Jika Anda menyebut jet tempur Rusia saat ini telah mengungguli jet tempur buatan Amerika secara teknologi, mungkin lebih terpengaruh pada emosional karena kerap jengkel dengan gaya arogan Amerika. Tetapi fakta adalah fakta, yang harus diakui secara ksatria.

Tetapi, bukan berarti Moskow tidak menghabsilkan jet tempur tangguh selama ini. Moskow juga harus diakui telah terbukti mampu membangun jet tempur mematikan. Bukan itu saja Kremlin bersedia untuk menjual pesawat ke negara-negara besar maupun kecil yang kerap dijauhi Amerika Serikat dan Eropa.

Pesawat Rusia sering menjadi alternatif menarik karena lebih murah dibandingkan ntuk membeli pesawat dari Amerika Serikat atau negara-negara Eropa dengan kemampuan yang juga mengagumkan, meski perawatan dan umur pesawat juga ada di bawah jet tempur Amerika.

Akibatnya, banyak angkatan udara di seluruh dunia dibangun dengan platform yang dibangun Soviet dan Rusia, atau turunan dari mereka. Dan, dengan Rusia melakukan program modernisasi militer besar-besaran saat ini maka jet tempur Rusia akan semakin meningkat dalam jumlahnya.

Rusia memiliki sejumlah pesawat militer yang sangat berbahaya bagi lawan, dan berikut lima di antaranya.

Sukhoi Su-27


Sukhoi Su-27 (Flanker) adalah upaya Soviet menjawab kelahiran F-15 Amerika. Pesawat melakukan penerbangan perdananya pada akhir tahun 1970 dan diperkenalkan ke layanan di Angkatan Udara Soviet pada tahun 1985.

Su-27 terutama ditujukan untuk misi superioritas udara dan membanggakan radius tempur 750 km. Flanker juga melompat ke depan F-16 dan F/A-18 dalam hal kecepatan, yang mampu terbang 2.525 km/jam,  dibandingkan dengan F-16 2.200 km/jam dan F/A-18 ini 1.900 km/jam.

Su-27 dapat membawa berbagai senjata udara ke udara termasuk R-27R1, rudal menengah serbaguna radar homing dengan hulu ledak semi-aktif.

Badan Flanker juga telah berulang kali dijadikan dasar untuk membangun pesawat dengan peran baru. Misalnya, Su-34 “Fullback” varian yang mengisi ceruk  tempur bomber. Sebuah Flanker varian laut juga ada yakni Su-33 “Flanker-D,” yang digunakan kapal Induk Rusia Admiral Kuznetsov.

Sejumlah angkatan udara di seluruh dunia menerbangkan Su-27 atau turunannya. India dan China telah membeli Su-27 serta lisensi untuk menghasilkan pesawat tempur di dalam negeri. Di India, Hindustan Aeronautics Ltd menghasilkan Su-30 MKI sementara China Shenyang Aircraft Corporation merakit pesawat di bawah lisensi sebagai J-11. Indonesia dan Vietnam juga menerbangkan Su-27 di Asia. runtuhnya Uni Soviet meninggalkan angkatan udara beberapa mantan republik Soviet dengan Su-27, termasuk Belarus, Kazakhstan, dan Uzbekistan.

Angkatan Udara Ukraina juga memiliki Su-27 dan telah dikerahkan dalam perang melawan pemberontak di Donbass, meskipun dalam kapasitas terbatas.

MiG-29


Kecil, jarak pendek, dan banyak diproduksi, Mikoyan MiG-29 Fulcrum mungkin bisa digambarkan sebagai TIE Fighter Soviet. Uni Soviet pada tahun 1983, MiG-29 dirancang untuk bersaing dengan F-16.

Meski MiG-29 lebih kecil dari Su-27, dan tidak bisa bersaing dalam hal jangkauan, kecepatan, dan kualitas, Flanker mengkompensasi di satu daerah kritis yakni  manuver. Bahkan, tes pasca Perang Dingin yang dilakukan oleh Luftwaffe Jerman mengungkapkan bahwa jet MikoyanMiG-29 juga merupakan pesawat tempur multiperan dan dapat dilengkapi dengan rudal udara ke udara seperti AA-8, yang dirancang untuk digunakan dalam jarak dekat, dan persenjataan rudal udara ke darat seperti AS-12.

Fulcrum terbukti menjadi platform yang sangat dinamis, dan sejak tahun 1983, telah diadaptasi untuk berbagai macam peran yang lebih khusus. MiG-29 masih dalam pelayanan dengan militer Rusia serta dengan beberapa mantan negara-negara Soviet lain.

Pesawat ini banyak diekspor selama Perang Dingin dan sesudahnya. Fulcrum telah melihat pertempuran di berbagai teater perang. Misalnya, Yugoslavia menggunakan MiG-29 di Perang Balkan tahun 1990-an.

Pesawat juga digunakan terbatas dalam Perang Ukraina di Donbass. Pemerintah Suriah masih mempekerjakan MiG-29, dan Rusia berniat untuk memberikan batch baru pesawat untuk negara sekutunya di Timur Tengah pada tahun 2016-2017.

Kuba, Iran, dan Korea Utara juga berada di antara banyak pengguna MiG-29. MiG-29 yang katanya lebih lincah dari F-16 itu bahkan bertugas di angkatan udara NATO setelah aliansi Barat memperluas keanggotaannya dari negara eks Pakta Warsawa.

Sukhoi Su-35


Meskipun secara teknis varian Su-27, modernisasi mengesankan Sukhoi Su-35 ini pantas untuk mendapat sorotan tersendiri. Su-35 dibangun untuk memenuhi tantangan era pasca-Perang Dingin.

Mendemonstrasikan perannya sebagai jembatan antara  generasi keempat dan kelima atau yang kerap disebut jet tempur generasi 4 ++, pesawat Sukhoi  Su-35 menggunakan mesin sebanding dengan yang dirancang untuk PAK FA.

Su-35 dapat mencapai kecepatan tertinggi 2.390 km/jam, sedikit lebih lambat daripada Su-27. Namun, radius tempur jauh lebih baik karena mencapai 1.600 km. sistem persenjataan juga menerima upgrade. Sebagai permulaan, Su-35 memiliki 12 stasiun senjata dengan berat senjata yang bisa dibawa 8.000 kg.

Pesawat ini juga merupakan platform serbaguna, menyebarkan rudal udara ke udara bertenaga Ramjet K-77ME dan rudal rudal udara ke darat Kh-59.

Pesawat ini menuruni karakter pendahulunya dalam hal manuver. Trust vectoring telah menjadikan jet tempur ini bisa menari mengerikan di udara. Sejumlah teknologi generasi kelima seperti radar juga telah digunakan, yang kurang, pesawat ini tidak memiliki teknologi menghindar dari radar seperti halnya jet tempur generasi kelima.

Saat ini baru Angkatan Udara Rusia yang menggunakan jet tempur ini dengan China telah memesan dua lusin pesawat. Sejumlah negara dikabarkan tertarik untuk membeli termasuk India, Pakistan dan Indonesia.

Sukhoi T-50 / PAK FA


MiG-29, Sukhoi Su-27, dan turunannya setidaknya digunakan untuk mengimbangi pesawat tempur generasi keempat Amerika dan Eropa seperti F-15, F-16, Dassault Rafale, & Eurofighter Typhoon.

Jet tempur siluman multirole PAK FA yang dibangun Sukhoi terbang di Liga sendiri sebagai jawaban langsung Rusia untuk F-22 Raptor dan F-35 Lightning II.

Dengan kecepatan maksimum 2.600 km/jam, PAK FA meninggalkan sepupu Perang Dingin dalam debu, dan jangkauan juga dilaporkan melebihi pendahulunya. Beberapa pejabat pertahanan AS bahkan berspekulasi bahwa pesawat tempur Sukhoi baru yang lebih lincah dari F-35 Amerika,  meskipun Pentagon mengatakan F-35 tidak dibangun untuk tujuan ini.

Sebagai jet tempur multirole, PAK FA akan dilengkapi dengan rudal udara ke udara dan udara ke darat, termasuk rudal udara ke udara R77 dan dua bom anti-kapal 1.500 kg.  PAK FA masih akan membawa dua meriam GSH-30-1 30mm yang mampu menembak hingga 1.800 putaran per menit.

PAK FA telah menemui sejumlah masalah dalam pengujian. Namun Angkatan Udara Rusia diharapkan untuk menerima jet pada 2017 untuk pengujian lebih lanjut. 

Setidaknya untuk masa mendatang, Angkatan Udara Rusia mungkin menjadi satu-satunya pengguna dari jet ini. Sialnya, kondisi ekonomi menjadikan Rusia harus memangkas rencana pembelian T-50 hanya menjadi sekitar satu skuadron saja untuk tahap awal.

Tupolev Tu-160


Armada tempur Rusia menyediakan berbagai platform dinamis yang dapat dipasang kembali dan diperbarui untuk melakukan berbagai misi. Namun  platform jarak jauh Rusia juga sangat kuat. Rusia memiliki pembom strategis untuk melaksanakan kampanye jangka panjang dengan pasokan senjata berat.

Untuk tujuan ini, Federasi Rusia telah mengumumkan akan melanjutkan produksi pembom strategis era Soviet Tupolev Tu-160 (Blackjack).

Tu-160 adalah pembom strategis yang mampu mencapai kecepatan maksimum 2.220 km/jam. Kecepatan ini jauh melebihi pembom strategis Amerika seperti B1-B Lancer (1.448 km/jam) dan B-52 (1.000 km/jam). Blackjack menawarkan radius tempur mengesankan yakni 7.300 km dan membuat penerbangan transatlantik pertama dari Murmansk ke Venezuela pada tahun 2008.

Tu-160 dilengkapi untuk membawa senjata nuklir dan konvensional. Rudal dengan mesin turbofan Kh-55MS dapat diluncurkan dari Tu-160 yang membawa hulu ledak nuklir 200 kt dengan jangkauan yang luar biasa yakni 3.000 km.

Rusia merupakan satu-satunya negara yang menerbangkan Blackjack. Rusia diharapkan untuk membangun 50 tambahan Tu-160 di bawah rencana baru. Pembom strategis yang baru dibangun akan menjadi model yang ditingkatkan dan  dijuluki Tu-160M2.
Produksi diperkirakan akan dimulai setelah 2023. Moskow bermaksud untuk secara bersamaan memulai pengembangan bomber siluman PAK DA yang juga didesain Tupolev.

Setelah 5 Tahun Perang Irak Berakhir, Tak Ada Yang Menang Kecuali Kehancuran


Pada Sabtu 31 Desember 2016, Irak memperingati tahun kelima penarikan pasukan Amerika yang mengakhiri pendudukan Amerika Serikat di Negara tersebut.
Awalnya, Washington menyebut kampanye Irak sebagai ‘mengejutkan dan mengagumkan dan mengakhiri era kediktatoran dan menuju era demokrasi. Namun perang yang disebut Amerika sebagai Operation Iraqi Freedom, atau Operasi Pembebasan Irak dan oleh Baghdad disebut sebagai Perang Harb al-Havasim (“Decisive War”) pada akhirnya meninggalkan luka yang entah sampai kapan akan sembuh.
Irak tumbuh menjadi Negara yang sangat labil dengan potensi konflik yang tinggi. Hanya berselang beberapa tahun, Irak kembali berdarah-darah dengan sapuan ISIS yang diikuti kampanye udara koalisi yang dipimpin Amerika Serikat. Irak belum lepas dari perang dan masih berada di tepi jurang yang akan menjatuhkannya ke jurang Negara gagal seperti Libya.
Washington telah menggunakan dalih bahwa Sadam Husein memiliki senjata pemusnah missal untuk melakukan invansi. Sampai perang berakhir tidak pernah ada bukti tuduhan itu nyata.
Persiapan politik dan diplomatik untuk perang dimulai pada  30 Januari 2002, ketika  Presiden Amerika Serikat George W. Bush menggunakan istilah “poros kejahatan”  atau ‘Poros Setan’ untuk pertama kalinya dalam pidatonya. Irak termasuk dalam “poros” itu bersama dengan Korea Utara dan Iran.
Pada bulan Februari 2002,  Menteri Luar Negeri AS Colin Powell pertama berbicara tentang kemungkinan “perubahan rezim” di Irak.
Pada tanggal 12 September, Bush mengatakan kepada Majelis Umum PBB bahwa Saddam Hussein menimbulkan “bahaya serius,” dan memperingatkan perang segera dikobarkan jika Baghdad menolak untuk mematuhi permintaan PBB untuk melucuti senjata pemusnah missal mereka.
Pada tanggal 17 Oktober 2002, Senat AS resmi menaikkan belanja militer terbesar dalam dua decade terakhir dari US$37,5 miliar menjadi US$355,1 miliar. Sebelum itu, Bush menandatangani resolusi otorisasi penggunaan kekuatan terhadap pemimpin Irak.
Pada tanggal 28 Januari 2003,  Presiden Bush menyampaikan pidato, bersumpah untuk membuktikan bahwa Baghdad menyembunyikan senjata kimia. Dia menawarkan untuk memimpin koalisi anti-Irak dalam peristiwa konflik militer.
Pada tanggal 19 Maret 2003 malam, pasukan AS dan Inggris melancarkan operasi militer bersama terhadap Irak, tanpa sanksi PBB.  Komando dan kontrol  serangan itu dilakukan oleh Komando Pusat AS, CENTCOM, yang berkantor pusat di MacDill Air Force Base, di Tampa, Florida.
Kekuatan gabungan Amerika dan Inggris yang terdiri dari 280.000 personel  yang berbasis di Teluk Persia, terlibat dalam operasi itu. Koalisi Angkatan Udara memiliki lebih dari 700 pesawat tempur. Pasukan koalisi darat membawa  lebih dari 800 tank US M1 Abrams, sekitar 120 tank UK Challenger, lebih dari 600 kendaraan tempur lapis baja M2 / M3 Amerika  dan sekitar 150 kendaraan tempur infanteri Inggris.
Angkatan bersenjata Irak memiliki 389.000 tentara, 40.000 sampai 60.000  paramiliter dan polisi, dan 650.000 pasukan cadangan.  Mereka  memiliki sekitar 2.500 tank yang sebagian besar sudah usang, sekitar 1.500 kendaraan tempur infanteri BMP1 dan BMP2 dan sekitar 2.000 sistem artileri kaliber di atas 100mm.
Irak  juga memiliki sekitar 300 pesawat tempur, sebagian besar adalah F1EQs Mirage Prancis dan MiG yang dirancang Soviet, 100 helikopter tempur dan sekitar 300 helikopter transportasi.
Pada tanggal 19 Maret, koalisi pimpinan AS memasuki zona demiliterisasi di perbatasan antara Kuwait dan Irak. Presiden Bush memerintahkan dimulainya serangan militer terhadap Irak. Operasi dimulai keesokan harinya dengan serangan rudal jelajah  presisi dipandu yang diluncurkan dari laut,  dan rudal udara ke permukaan yang menyasar  target-target militer Irak dan gedung-gedung pemerintah di Baghdad.
Pasukan Amerika  menggunakan kekuatan artileri besar-besaran di perbatasan Kuwait-Irak. expeditionary units Marinir dan  the 3rd Motor Rifle Division  menyeberangi perbatasan Irak-Kuwait dan memulai operasi darat.
Pada tanggal 20 Maret, Presiden Bush  berpidato  mengumumkan dimulainya operasi militer terhadap Irak. Amerika Serikat  menyatakan bahwa keputusan untuk menggunakan kekuatan militer terhadap Irak didukung oleh 45 negara, 15 di antaranya tidak menyatakan dukungan mereka secara resmi tapi siap untuk memberikan wilayah udara mereka untuk serangan terhadap Irak.
Pada tanggal 5 April, pasukan koalisi maju di kompleks gedung pemerintah di Baghdad. Di tenggara, pasukan menyerang dan merebut  Basra dan  kota Karbala, 60 mil barat daya Baghdad. Kedua wilayah penting ini  sepenuhnya di bawah kontrol.
Pada tanggal 9 April, pasukan koalisi menyerbu Baghdad dan melanjutkan untuk merebut kota utama Irak lainnya, termasuk Kirkuk pada tanggal 10 April dan  Mosul sehari setelahnya.
Pada tanggal 14 April 2003, fase operasi militer berakhir dengan ditangakpanya  Sadam Hussein di Tikrit. Tahap operasi berlangsung hanya 26 hari.
Pada tanggal 1 Mei 2003, Bush mengumumkan akhir dari serangan militer dan awal pendudukan militer. Dengan kata lain  kehancuran angkatan bersenjata Irak dan menangkap Hussein hanya awal dari konflik panjang berlarut-larut.
Setelah tahun 2003, Irak tersapu oleh gelombang kekerasan agama yang merenggut nyawa puluhan ribu korban yang tidak bersalah.
Pada bulan November 2008, pemerintah Irak dan parlemen menyetujui kesepakatan tentang penarikan pasukan AS dari Irak dan regulasi kehadiran sementara mereka di wilayahnya.
Mulai di musim dingin 2009, 90.000 prajurit AS ditarik dari negara itu setelah Barack Obama menjadi presiden AS. Hingga 31 Agustus 2010, Washington memiliki kurang dari 50.000 prajurit yang ditempatkan di sana.
Pada tanggal 31 Agustus 2010, Presiden Obama  mengumumkan secara resmi akhir Operasi Kebebasan Irak.
Pada tanggal 15 Desember 2011, upacara resmi  penarikan pasukan AS dari Irak dilakukan dan secara formal mengakhiri  perang. Menteri Pertahanan AS Leon Panetta menurunkan bendera kontingen militer AS di Irak, melambangkan selesainya misi.
Pada tanggal 18 Desember 2011, konvoi terakhir pasukan AS meninggalkan Irak. Hingga 49 negara berpartisipasi dalam operasi ini pada waktu yang berbeda.
Selain  pasukan AS, kontingen terbesar  disediakan oleh Inggris (hingga 45.000 tentara), Italia (hingga 3.200), Polandia (hingga 2.500), Georgia (hingga 2.000), dan Australia (hingga 2.000).
Sekitar 170.000 tentara AS dikerahkan ke Irak pada puncak perang. Sebanyak 4.800 pasukan koalisi menjadi korban di mana lebih dari 4.400 adalah prajurit AS.
Ada laporan yang bertentangan mengenai jumlah korban di pihak Irak. Laporan media AS telah menyebut korban antara 100.000 sampai 300.000 kematian, termasuk warga sipil, sementara Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan antara 150.000 dan 223.000 warga Irak tewas selama periode 2003-2006 saja.
Lantas apa hasil dari begitu banyak korban dan perang berkepanjangan?. Tidak ada, kecuali Irak yang semakin terpuruk dan Timur Tengah yang semakin terkoyak-koyak. Inikah yang disebut pembebasan?

Lockheed Diberi Rp811 Miliar Untuk Rawat Raptor


Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengatakan telah memberikan kontrak kepada  Lockheed Martin Aeronautics senilai US$61 juta atau sekitar Rp811 miliar  untuk  pemeliharaan pesawat tempur siluman F-22 Raptor.
Pentagon dalam siaran persnya Sabtu 31 Desember 2016 mengatakan dalam kontrak tersebut Lockheed akan  menyediakan depot throughput, inspeksi analisa kondisi, perbaikan lapisan inlet, dan radar cross section
Pekerjaan akan dilakukan  di Hill Air Force Base di negara bagian Utah dan di Marietta Georgia dan diharapkan akan selesai pada 31 Desember 2017.
F-22 merupakan jet tempur siluman superioritas udara yang dibangun Lockheed Martin. Sampai sat ini Raptor diyakini sebagai pesawat tempur paling canggih di dunia. Amerika hanya memiliki kurang dari 200 pesawat ini setelah menghentikan produksinya lebih cepat karena tingginya biaya produksi.
F-22 memiliki banyak fitur desain yang unik yang membuatnya istimewa. Kanopi F-22 memiliki lapisan tipis emas (yang hanya setebal beberapa atom) di atasnya untuk menjaga emisi elektromagnetik masuk ke kopkit. Ini bagian terbesar dari bahan polycarbonate monolitik yang terbentuk hari ini
Raptor adalah salah satu pesawat paling awal yang memiliki kaca kokpit penuh, di mana layar LCD besar mengganti alat konvensional. Layar ini dikombinasikan dengan sensor fusion yang membuat F-22 menjadi pesawat yang sangat ramah bagi pilot dan menghilangkan kebutuhan navigator.
Struktur F-22 terbuat dari bahan kekuatan tinggi seperti paduan Titanium dan komposit, yang memungkinkan untuk menahan panas dan tekanan saat pesawat terbang supersonik berkelanjutan.
Badan pesawat dilapisi dengan bahan penyerap radar khusus yang menyerap gelombang radio. Bersama dengan bahan untuk membuat pesawat, lapisan inilah yang memberikan karakterisitik siluman pada Raptor.
Raptor memiliki kecepatan maksimal 2400  km / jam dengan kisaran terbang lebih dari 2.500  km. Pesawat membawa satu meriam M61A2 20-milimeter dengan 480 putaran, teluk senjata internal yang berisi 6 + 2 rudal dalam konfigurasi air to air. Harga pesawat diperkirakan sekitar US$150 juta atau hampir Rp2 triliun (dengan kurs Rp13.300).